- -->
  • Jelajahi

    Copyright © Congkasae.com
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Sistem Perkawinan Lili, Mempersunting Janda Demi Eksistensi Wa'u dalam Adat Manggarai

    01 Mei, 2022, 01 Mei WIB Last Updated 2022-05-01T10:44:35Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini

    ***Oleh Antonius Rahu***

    Secara umum kawing lili merupakan sebuah sistem perkawinan dalam budaya Manggarai yang memperbolehkan saudara laki-laki memperisteri pasangan hidup dari kakak atau adiknya sendiri demi mempertahankan klan atau wa,u.

     [Congkasae.com/Sosial Budaya] Bicara soal sistem perkawinan dalam budaya Manggarai tentu tak pernah terlepas dari belis dan semua hal yang menjadi turunannya.


    Kendatipun demikian perkawinan bagi orang Manggarai memiliki makna yang amat sangat sakral, pasalnya kawin-mawin merupakan satu-satunya jalan menuju upaya mempertahankan eksistensi klan alias wa,u.


    Maka dari itu setiap laki-laki harus menentukan calon pendamping hidupnya dan menikah jika dianggap sudah matang secara fisik.


    Jika tak kunjung mendapatkan tambatan hati padahal usia sudah dewasa biasanya akan menimbulkan keresahan dalam keluarga.


    Apalagi jika status Jomlo alias "luang" yang teramat sangat awet, biasanya berpapasan dengan keluarga besar hal yang pertama kali ditanyakan adalah soal status Luang itu.


    Hal tersebut tentu saja bukan tanpa alasan, pasalnya mempertahankan garis keturunan wa,u alias klan bagi orang Manggarai merupakan hal yang tak bisa ditawar-tawar.


    Hal tersebut bukan hanya terjadi pada hari ini saja, namun sudah berlangsung sejak nenek moyang alias empo orang Manggarai mendiami pulau Flores bagian Barat itu ratusan bahkan ribuan tahun silam.


    Bicara soal nenek moyang alias empo orang Manggarai zaman dulu, bahkan bisa memiliki isteri lebih dari satu (Poligami) jika isteri pertama tak kunjung melahirkan anak khususnya anak laki-laki.


    Jika sang isteri melahirkan anak perempuan semua maka sang suami boleh mengambil isteri baru hingga anak laki-laki yang didambakan itu diperoleh.


     Bahkan jika saudara dari sang suami meninggal, maka sang suami boleh mengambil isteri dari adik atau kakaknya untuk dia nikahkan demi satu hal yang disebut wa,u dalam adat Manggarai.


    Sistem perkawinan yang semacam itulah yang disebut kawing lili.


    Kawing Lili Memperisteri Janda

    Secara umum kawing lili merupakan sebuah sistem perkawinan dalam budaya Manggarai yang memperbolehkan saudara laki-laki memperisteri pasangan hidup dari kakak atau adiknya sendiri demi mempertahankan garis keturunan klan atau wa,u.


    Biasanya kawing lili ini hanya bisa dilakukan apabilah adik atau kakak laki-laki sudah meninggal atau bercerai dengan isterinya.


    Kawing lili merupakan bagian atau upaya untuk mempertahankan garis keturunan alias wa,u dalam adat Manggarai.


    Biasanya lili dilakukan apabilah sesama saudara laki-laki memiliki anak baik laki-laki maupun perempuan.


    Sebagai contoh, dalam sebuah keluarga terdapat 3 orang laki-laki semua katakanlah anak sulung bernama Nabas, anak kedua bernama Nadus dan anak bungsu bernama Niko.


    Ketiga saudara ini memiliki isteri dan anak, namun karena sakit maka Niko meninggal dunia dengan dua anak yang ditinggalkan.


    Menurut sistem perkawinan lili yang berhak untuk mempersunting isteri dari Niko adalah Nabas ataupun Nadus.


    Hal ini menjadi pilihan satu-satunya yang ditempuh agar anak hasil perkawinan antara Niko dan Isterinya masuk dalam klan atau wa,u tiga bersaudara itu.


    Proses mempersunting isteri dari Niko inilah yang disebut kawing lili, namun dalam bahasa manus Manggarai Timur disebut Ghili.


    Nah kawing lili ini sendiri dilegalkan pada masa itu, lantaran belum masuknya ajaran agama di tanah Manggarai.


    Kala itu memiliki isteri lebih dari satu merupakan sebuah prestise yang dibangga-banggakan, semakin banyak memiliki isteri maka status sosialnya dalam masyarakat semakin tinggi.


    Megawini isteri dari kakak atau adik sendiri merupakan hal yang biasa-biasa dan wajar dalam tatanan sosial kala itu.


    Semua itu dilakukan demi menyelamatkan garis keturunan yang telah ada. Akan tetapi maksud lain dari sistem perkawinan lili dibuat untuk meminimalisir tindakan perzinahan (boto hang toe tanda agu inung tor nipu).


    Maka menjadi janda pada masa itu bukan merupakan sebuah takdir akan tetapi sebuah kesempatan untuk mendapakan pengganti kedua.


    Kendati demikian urusan cinta dan kasih sayang dinomor duakan dalam hukum perkawinan lili, hal itu terjadi lantaran orang lebih mengutamakan ritual adat ketimbang masalah hati.


    Perempuan kala itu kurang mendapatkan perhatian penuh dan cendrung dijadikan obyek demi mempertahankan wa,u.


    Padahal jika isteri dari Niko diberikan pilihan berdasarkan isi hatinya mungkin saja dia akan lebih memilih hidup menjanda ketimbang harus menikah dengan Nabas atau Nadus.


    Memperlakukan Kaum Perempuan sebagai Obyek

    Dari sisi ritus adat yang dijalankan pun sistem perkawinan lili tidaklah lengkap seperti perkawinan yang lazimnya dijalankan dalam adat Manggarai.


    Sistem perkawinan lili menghilangkan ritus toto, keda redang tuke mbaru, serta tukar kila, dan pongo.


    Semuanya ditiadakan dan langsung berstatus suami-isteri hal ini dilakukan lantaran sang isteri sudah dibelis penuh oleh keluarga laki-laki.


    Dalam hal ini perempuan lagi-lagi menjadi obyek yang disamakan dengan barang dan digunakan sesuka hati dari sang pemilik.


    Perempuan kala itu kerap menempati posisi kedua dalam struktur sosial masyarakat, belum lagi masalah Kekerasan Dalam Rumah Tangga yang kerap dialami kaum perempuan dan itu semua dilegalkan dalam masyarakat kala itu.


    Baca Juga Tulisa-tulisan terkait dari Antonius Rahu

    Budaya Lami Wina di Manggarai, Ujian Berat Bagi Calon Anak Mantu


    Mau Nikahi Molas Manggarai? Cinta Saja Tidak Cukup


    Setelah Menikah, Pria Manggarai Diwajibkan untuk Wale Sida

    Komentar

    Tampilkan


     

     


    Terkini