 |
| Pater Jilis Verheijen (Tengah) Bersama Para Asistennya Sedang Memamerkan Seekor Pelecanus conspicillatus |
Selain menjadi misionaris SVD di Manggarai Pater Jilis Verheijen banyak melakukan penelitian budaya, bahasa hingga spesies hewan asli daerah itu yang membuat Manggarai dikenal luas para peneliti dan ilmuwan dunia.
[Congkasae.com/Lejong] Sepanjang hidupnya yang panjang, Jilis Verheijen senantiasa memelihara dan mengembangkan sejumlah minat masa kecilnya.
Ia lahir di De Liemers, kawasan pedesaan di bagian timur Belanda, yang terletak di tepian Sungai Rhein.
Lingkungannya dipenuhi dengan kebun buah yang subur, ladang jagung, dan padang rumput, dilintasi oleh jalan setapak tak beraspal yang mengarah ke rumah-rumah pertanian terpencil.
Kapal uap dan kapal layar merupakan pemandangan sehari-hari kapal layar kerap ditambatkan di daratan saat angin sedang sepi.
Binatang buruan berlimpah, dan berburu baik secara sah maupun liar merupakan bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
Jilis kecil gemar menjelajah alam bersama saudara tirinya, Guus, yang delapan tahun lebih tua dan merupakan putra sulung dari pernikahan pertama sang ayah.
Guus-lah yang secara bertahap memperkenalkannya pada dunia burung yang memikat. Pada musim semi, telur burung pluvier (belibis) menjadi buruan yang dinanti-nantikan, dan Jilis gemar mengumpulkan cangkang kosongnya.
Minatnya terhadap dunia alam semakin dipupuk oleh kedua orang tuanya, yang keduanya adalah guru di Sekolah Dasar Wilhelmina di Ooy, dekat Zevenaar.
Mereka membekalinya dengan buku-buku tentang alam dan memperkenalkannya pada Ensiklopedia Herder.
Sang ayah, yang menjabat sebagai kepala sekolah, berlangganan majalah unggas Avicultura dan majalah berkebun mingguan Floralia, yang seluruhnya dibaca Jilis dengan penuh antusias.
Selama bertahun-tahun, ia memperluas pengetahuannya tentang tumbuh-tumbuhan dan hewan. Alam benar-benar hadir di depan pintu rumahnya.
Jilis juga rajin membaca koran harian lokal De Gelderlander. Dari semua rubrik, kolom pertanianlah yang paling menarik perhatiannya, disusul oleh rubrik gereja dan sekolah yang sejak tahun 1919, memuat laporan-laporan misi.
Paparan rutin terhadap informasi inilah yang kelak menumbuhkan cita-citanya menjadi seorang misionaris.
Selain kecintaannya pada alam, Jilis juga menunjukkan minat yang mendalam terhadap bahasa sejak usia dini.
Di lingkungan keluarga digunakan Bahasa Belanda baku, sementara di luar rumah ia senang menggunakan dialek Zevenaar.
Bertahun-tahun kemudian, ketika menjadi misionaris yang menunggang kuda melintasi pegunungan Manggarai, kenangan akan dialek masa kecilnya itu kembali menghampirinya dan mendorongnya menulis sebuah esai tentangnya (1975).
Sejak masa sekolah, Jilis telah menetapkan tekadnya untuk menjadi misionaris. Kakaknya, Guus, menempuh pendidikan di Akademi Angkatan Laut di Amsterdam dan kemudian bekerja di perusahaan pelayaran Koninklijke Pakketvaart Maatschappij (KPM) di Asia Tenggara.
Seperti halnya Guus, Jilis pun terpikat oleh semangat petualangan. Ia mencari jarak dari rumah dalam memilih sekolah.
Namun, ayahnya tidak menyetujui pilihan itu dan mendaftarkannya di sekolah menengah Sint Willibrordus di Uden, yang dikelola oleh Serikat Sabda Allah (Societas Verbi Divini).
Di sana, Jilis lulus ujian akhir pada tahun 1927 dan menjadi novis di Helvoirt selama dua tahun. Pada tahun terakhirnya di sana, salah satu gurunya adalah Bernard Vroklage SVD, yang kemudian menjadi profesor etnologi pertama di Universitas Nijmegen.
Setelah menerima tahbisan minor, Jilis melanjutkan studinya di seminari utama di Teteringen.
Wilayah Misi di Tiongkok dan Inspirasi Awal
Wilayah Shantung Selatan di pesisir timur Tiongkok merupakan tempat pertama aktivitas misi Serikat Sabda Allah.
Di sinilah Freinademetz yang kelak menjadi panutan bagi Jilis diutus sebagai misionaris pada tahun 1882, tak lama setelah serikat tersebut didirikan.
Pada dekade 1920-an, misi di Tiongkok berkembang pesat. Misionaris asal Belanda, Henricus Veldman, bekerja di distrik Kansu Barat sejak 1924 dan di wilayah Sinkiang, Tiongkok Barat (dekat perbatasan Rusia), sejak 1926.
Namun, kerusuhan dan revolusi yang melanda wilayah tersebut memaksanya kembali ke Belanda pada 1928, di mana ia kemudian menjadi dosen di seminari tinggi Teteringen.
Jilis, yang baru memulai studinya di sana, sangat terpesona oleh kisah-kisah hidup Veldman tentang pekerjaan misi di wilayah yang penduduknya adalah kaum nomaden.
Kisah-kisah ini memikatnya sama kuatnya seperti cerita petualangan populer karya Sven Hedin ilmuwan dan penjelajah asal Swedia yang banyak menjelajah Eropa Timur, Asia, Tiongkok, hingga Australia pada pergantian abad.
Narasi ekspedisi Hedin dan pengalaman lapangan Veldman saling melengkapi dan memperkuat daya tarik dunia misi bagi Jilis.
Jilis Verheijen ditahbiskan sebagai imam pada 28 Januari 1934. Ia menyatakan minat untuk menjalankan misi di tiga wilayah: Tiongkok, Flores, dan Nugini.
Dua bulan kemudian, dalam surat kepada adiknya Lucie, ia menyampaikan dengan gembira bahwa dirinya ditugaskan ke Flores.
Misi Katolik Roma di Flores, Indonesia yang sejak 1913 berada di bawah Serikat Sabda Allah setelah sebelumnya dikelola oleh Jesuit sedang berkembang pesat, namun terdapat kekurangan tenaga misi.
Jilis pun diutus ke pulau Flores bersama delapan misionaris lainnya. Namun, perjalanannya tertunda setahun akibat cedera gegar otak.
Ia akhirnya berangkat ke Hindia Belanda (sebutan untuk Indonesia) dengan kapal MS Dempo pada 25 September 1935 dan tiba di pelabuhan Ende pada 1 November.
Sejak awal, Jilis menunjukkan ketertarikan khusus pada wilayah Flores bagian barat, yakni daerah Manggarai, yang bahasanya belum pernah diteliti secara ilmiah.
Di wilayah ini pula, ia mulai meletakkan dasar bagi kontribusi linguistiknya yang besar. Jilis Verheijen melanjutkan karya linguistiknya di Manggarai dengan mengikuti pendekatan Adolf Burger SVD, yang mengumpulkan kosa kata lokal melalui cerita rakyat.
Ditempatkan di Tjibal (Cibal), Verheijen berhasil menghimpun banyak cerita, mitos, dan teka-teki dari masyarakat lokal, yang kelak menjadi dasar bagi proyek besar Manggarai Texts sebanyak delapan belas jilid dan penyusunan kamus bahasa Manggarai.
Ia mencatat ribuan kata menggunakan kartu indeks, dengan variasi dialek atau sinonim, sebagai fondasi kerja leksikografisnya.
Dari tahun 1935 hingga pecahnya Perang Dunia II, Jilis Verheijen mencatat ribuan kosakata bahasa Manggarai ke dalam kartu indeks kecil ("schedeltjes") yang memuat lema beserta variasi dialek atau sinonimnya.
Kumpulan data ini menjadi dasar karyanya dalam menulis artikel linguistik, termasuk studi awal mengenai asonansi dalam bahasa Manggarai.
Pekerjaan ini menegaskan visinya untuk menyusun sebuah kamus bahasa Manggarai secara sistematis.
Pada masa itu, sebagian besar waktu Jilis Verheijen dihabiskan untuk bepergian, biasanya tiga minggu setiap bulan.
Ia menempuh perjalanan jauh dengan menunggang kuda atau berjalan kaki bersama asistennya dari desa ke desa di wilayah pegunungan.
Di malam hari, ia berdialog dengan penduduk dan mencatat hal-hal penting yang ditemui. Setelah kembali ke posnya, ia mengadakan pertemuan rohani singkat, menyelesaikan surat-menyurat, dan mencatat pengeluaran.
Saat istirahat, kudanya diberi waktu pulih dan ia membelanjakan uang secukupnya.
Pada 14 Mei 1942, tentara Jepang mendarat di Flores. Para misionaris diperintahkan berkumpul di Ende.
Saat itu, Jilis sedang berada di pesisir utara Tjibal dan mematuhi perintah tersebut. Ia kemudian diinternir (dikirim ke tempat pengasingan) di Ndona bersama para imam dan biarawati lainnya.
Pada pertengahan Juli, semua warga asing diperintahkan untuk meninggalkan pulau Flores, dan Jilis dikirim ke Makasar di Sulawesi (kala itu disebut Celebes), lalu ditahan di Pare Pare.
Di sana, ia seperti para tahanan lainnya dikerahkan untuk bekerja, termasuk di kebun dan kandang sapi.
Selama masa interniran Jepang, Jilis Verheijen tetap aktif secara intelektual bersama para tahanan lain yang berpendidikan.
Ia mengikuti kursus ornitologi, menyusun huruf-huruf awal kamus bahasa Manggarai, dan mengembangkan catatan untuk bukunya Het Hoogste Wezen bij de Manggaraiers (1951).
Namun, kondisi di kamp sangat berat: kekurangan makanan, obat, dan pakaian hangat menyebabkan penderitaan dan kematian, termasuk di antaranya enam anggota SVD.
Pada Oktober 1944, para tahanan di Pare Pare terpaksa berlindung di kandang babi di Lembah Bodjo untuk menghindari serangan udara Sekutu.
Di sana, 22 orang meninggal akibat disentri, termasuk enam anggota SVD. Tujuh bulan kemudian, mereka dipindahkan ke Bolong di pegunungan Toraja.
Di tempat baru ini, mereka menghadapi kekurangan makanan, obat-obatan, pakaian hangat, dan selimut, membuat kehidupan menjadi sangat terbatas dan nyaris tanpa aktivitas.
Setelah Jepang menyerah pada Agustus 1945, para tahanan dipulangkan ke Makasar dan harus menunggu hingga Flores dibebaskan oleh Sekutu.
Menjelang Natal, sebagian besar misionaris kembali ke paroki mereka. Jilis Verheijen kembali ke Pagal, distrik Tjibal, dan melanjutkan pekerjaannya sebagai misionaris keliling dan cendekiawan.
Pada tur keduanya tahun 1946, ia mulai menulis jurnal, mengenang masa interniran sambil kembali membangun komunitas yang telah porak-poranda.
Selama masa cuti di Belanda pada 1949, Jilis Verheijen menuntaskan naskah Het Hoogste Wezen bij de Manggaraiers dan mendalami etnologi serta filologi Indonesia komparatif di Universitas Utrecht.
Ia menekankan pentingnya teks asli berbahasa daerah tanpa teori berlebihan, sejalan dengan peringatan Alfred Russel Wallace tentang bahaya generalisasi dalam studi kebudayaan.
Selain itu, ia juga menulis esai tentang cara berpikir orang Manggarai (1947) dan pengulangan kata dalam bahasa Manggarai (1948).
Pada awal tahun 1949, Jilis Verheijen mengambil cuti ke Belanda dan belajar etnologi serta filologi Indonesia komparatif di Universitas Utrecht bersama Profesor Fischer dan Gonda.
Di sana ia menyelesaikan naskah Het Hoogste Wezen bij de Manggaraiers yang diterbitkan pada 1951. Dalam pengantarnya, ia menekankan pentingnya teks asli berbahasa daerah tanpa banyak teori, sejalan dengan pandangan Alfred Russel Wallace.
Jilis A.J. Verheijen menolak menarik kesimpulan umum berdasarkan data yang terbatas, sejalan dengan pandangan Alfred Russel Wallace.
Ia lebih memilih pendekatan deskriptif, seperti yang disarankan Wilhelm Schmidt, namun kemudian mengubah pendiriannya setelah mengikuti kuliah etnologi dari Jan van Baal di kamp interniran.
Verheijen memilih menulis sendiri berdasarkan datanya, bukan menyerahkannya ke ahli etnologi Eropa. Ia menyampaikan ini dalam wawancara pada 13 April 1995.
Pada 8 Februari 1951, masa cuti dua tahun Jilis Verheijen berakhir. Sehari sebelum berlayar kembali ke Indonesia, ibunya wafat, dan tak lama setelah tiba di Flores, ayahnya pun meninggal.
Ia kembali menjalani hidup sebagai misionaris dan peneliti, kini ditugaskan di Lamba Leda. Selain bahasa, ia juga mulai meneliti flora dan fauna lokal, dipengaruhi oleh pelajaran semasa interniran.
Ia mengumpulkan spesimen dan cerita rakyat, lalu pada 1959 menetap di Ruteng untuk fokus pada penelitian.
Setelah tahun 1960, Jilis Verheijen menerbitkan beberapa artikel tentang burung (1961, 1963, 1964) dan mengirim koleksi 70 spesies burung ke Museum of Comparative Zoology di Cambridge, Massachusetts.
Ia juga menerjemahkan sejumlah cerita mitologi Manggarai ke dalam bahasa Belanda dan mempublikasikannya di Katholieke Missiën.
Pada tahun 1967, volume pertama Kamus Manggarai-Indonesia karya Jilis Verheijen diterbitkan oleh Royal Institute of Linguistics and Anthropology di Leiden.
Kamus ini merupakan hasil kerja keras selama tiga dekade dan mencakup lebih dari sekadar terjemahan Verheijen menyertakan mitologi, etimologi, dan data sejarah.
Ia juga menandai secara khusus istilah terkait flora dan fauna. Meski merasa tidak puas dengan hasilnya, karyanya dipuji luas sebagai sumber penting bagi studi linguistik dan budaya Nusa Tenggara Timur.
Volume kedua Kamus Indonesia-Manggarai karya Jilis Verheijen diterbitkan pada tahun 1970 sebagai indeks untuk volume pertama.
Selain daftar kata, kamus ini memuat informasi penting bagi ahli linguistik, botani, dan antropologi. Meskipun ada kritik karena kamus disusun dalam bahasa Indonesia dan bukan bahasa Inggris, hal ini dibela dengan alasan bahwa para peneliti Indonesia biasanya memang mempelajari bahasa Indonesia.
Karya ini bahkan digunakan oleh Rodney Needham dari Universitas Oxford dalam studi klasifikasi sosialnya.
Karya leksikografis Jilis Verheijen terbentuk secara otodidak, meskipun ia bukan seorang akademisi. Ia meneladani sejumlah leksikografer yang telah menyusun kamus di pulau-pulau tetangga seperti Jonker di Bima, Matthes di Sulawesi Selatan, dan Onvlee di Sumba.
Ia menggunakan daftar kata buatan mereka sebagai dasar, menerjemahkannya ke dalam bahasa Manggarai, dan menelusuri variasi dialek.
Karena tidak memiliki pendidikan akademik formal, ia sering meragukan hasil kerjanya sendiri ia kerap memeriksa ulang kosakata, merevisi catatan, dan menulis ulang naskah hingga tahap percetakan.
Meski begitu, ia patut berbangga: tokoh-tokoh ilmuwan ternama seperti Rodney Needham mengakui keunggulan karya beliau.
Dalam Belief, Language, and Experience, Needham mengucapkan selamat atas "kekayaan materi penelitian" yang telah dia kumpulkan—sebuah pujian tinggi dari seorang akademisi
Contoh terbaik adalah publikasi para misionaris linguistik, yakni mereka yang mendedikasikan hidupnya untuk memahami secara mendalam bahasa asing, agar dapat mewartakan iman mereka dalam idiom yang berbeda.
Namun, orang-orang dengan kaliber seperti ini sangatlah sedikit..." Dalam sebuah catatan kaki, Rodney Needham menjelaskan siapa yang ia maksud.
"Saya berpikir, dengan kekaguman yang rendah hati, kepada tokoh-tokoh seperti Prof. Dr. L. Onvlee (Sumba), Pater J.A.J. Verheijen (Manggarai, Flores), Pater J.P. Crazzolara (Nuer), dan teman-teman saya di Borneo Evangelical Mission" (Needham 1972:197).
Dalam sebuah surat yang ditulis Jilis kepada Needham beberapa tahun kemudian, ia menyatakan betapa senangnya ia menerima kata-kata pujian tersebut:
"Saat itu, kata-kata itu benar-benar menjadi dukungan moral bagi saya. Saya pikir saya bukan orang yang bekerja demi pujian, tetapi menurut saya para peneliti layak menerima pengakuan atas jerih payah mereka.” (Surat kepada Needham, 28 Desember 1985).
Dalam surat lain yang ditulis hampir setahun kemudian kepada Needham yang kala itu memuji artikelnya dalam seri NUSA (NUSA 1984)—Jilis menunjukkan dirinya yang sebenarnya:
Setelah bertahun-tahun menjalani studi leksikografi yang intensif, Jilis kini memberikan prioritas pada persiapan penerbitan ratusan cerita rakyat Manggarai yang telah ia kumpulkan.
Cerita-cerita ini, yang merupakan bagian dari tradisi lisan Manggarai, dikumpulkan bukan hanya oleh dirinya sendiri, tetapi juga oleh pendahulunya, Adolf Burger, dan rekannya Willem van Bekkum.
Kisah-kisah tersebut mencakup hampir semua aspek kehidupan dan budaya masyarakat Manggarai. Melalui penerbitannya, Jilis berharap dapat melestarikan warisan budaya ini bagi generasi mendatang.
Jilis bekerja dengan beberapa asisten yang membantu mengetik bahan-bahan yang telah dikumpulkan, sementara ia sendiri melakukan pengecekan dan penyuntingan.
Pada tahun 1977, ia menerbitkan empat jilid teks tersebut, masing-masing setebal seratus halaman. Dengan terbitnya jilid terakhir pada tahun 1991, keseluruhan karya ini mencapai lebih dari 2000 halaman.
Berkat keuletannya dalam menyusun dan mengedit, karya ini menjadi dokumentasi yang sangat penting bagi pelestarian tradisi lisan Manggarai.
Dengan dukungan dari Indonesian Linguistics Development Project (ILDEP), yang diluncurkan pada tahun 1980-an sebagai proyek kerja sama antara Universitas Leiden dan Pusat Bahasa Nasional Indonesia, Jilis akhirnya memperoleh sumber daya yang memadai untuk menerjemahkan teks-teks tersebut dengan bantuan asisten tetap.
Pada awal tahun 1970-an, dalam rangka studinya mengenai dialek-dialek di wilayah timur Manggarai, Jilis menemukan sebuah bahasa yang sebelumnya tidak dikenal, yaitu bahasa Rembong.
Ia segera melibatkan sejumlah orang yang terampil untuk menyusun daftar kosakata bahasa ini, dengan memanfaatkan beberapa cerita yang dikumpulkan oleh rekannya, Johan Swinkels SVD, pada tahun 1930-an.
Namun, keterbatasan waktu dan dana memaksanya untuk menghentikan proyek tersebut. Pada tahun 1975, situasi menjadi lebih mendukung untuk melanjutkan penelitian ini.
Ia kemudian menulis bahwa dirinya tidak dapat menahan godaan untuk memperkenalkan sebuah bahasa yang belum pernah dideskripsikan kepada dunia ilmu pengetahuan.
ada tahun 1976, Yayasan Belanda untuk Penelitian Ilmiah di Daerah Tropis (WOTRO) memberikan Jilis dana bantuan satu kali untuk penelitian lanjutan terhadap bahasa ini.
Pada tahun 1977, Kamus Rembong-Indonesia dan satu jilid teks-teks berbahasa Rembong dengan terjemahan dalam bahasa Indonesia diterbitkan.
Setahun kemudian, indeks untuk bagian pertama, yaitu Kamus Indonesia-Rembong, juga diterbitkan, yang dilengkapi dengan glosarium istilah kekerabatan dan nama-nama tumbuhan.
Kamus-kamus ini memang tidak sekomprehensif kamus-kamus Manggarai. Tiga volume pertama tersebut kemudian diikuti, pada tahun 1988, oleh sebuah jilid berisi teks-teks Rembong yang telah direkam Jilis bersama Bapak Egi Dadu lebih dari sepuluh tahun sebelumnya.
Sebagian dari teks-teks Rembong ini, juga dipublikasikan pada tahun 1998.
Keterlambatan publikasi ini disebabkan oleh proyek-proyek baru yang dirintis Jilis pada akhir tahun 1970-an, seperti penerjemahan Injil menurut Markus ke dalam bahasa Manggarai.
Meskipun ia tidak lagi terlibat dalam pekerjaan pastoral secara langsung, Jilis tetap menunjukkan minat besar terhadap karya tersebut dan dengan senang hati menggantikan rekan-rekannya dari waktu ke waktu.
Kesempatan ini membawanya keluar dari meja kerjanya dan memberinya peluang untuk bersentuhan langsung dengan masyarakat serta mengumpulkan data baru.
Ia juga memberikan bantuan praktis dan dukungan finansial kepada beberapa orang, termasuk bantuan medis.
Ia mengimpor bibit kopi dan buah-buahan dari Eropa dan Amerika Serikat, serta memberikan pelatihan kepada masyarakat Manggarai mengenai cara penanaman dan budidaya tanaman tersebut.
Meskipun para misionaris sejak awal telah memberikan bantuan praktis kepada masyarakat setempat, praktik ini menjadi semakin umum setelah perang, ketika kegiatan evangelisasi mulai bergeser ke arah pembangunan dan pengembangan masyarakat.
Proyek lain yang menjadi perhatian Jilis adalah studi mengenai bahasa dan budaya Pulau Komodo yang bertetangga.
Pada tahun 1970-an, dirancang rencana untuk mendirikan cagar alam di pulau tersebut, yang terkenal karena keberadaan naga raksasa (Varanus komodoensis).
Rencana ini diperkirakan akan menyebabkan masuknya wisatawan dan pejabat pemerintah dalam jumlah besar.
Setelah sebelumnya pernah mencoba melakukan penelitian linguistik di Komodo, Jilis menyadari pentingnya segera melanjutkan pencatatan teks-teks dalam bahasa asli sebelum situasi berubah drastis.
Saat kembali ke pulau itu pada tahun 1977, Jilis menjalin kontak dengan seorang native speaker (penutur asli) yang kompeten.
Dari dua glosarium pendek yang diberikan kepadanya oleh seorang pegawai negeri dan seorang guru, ia menyusun daftar kata sementara pada tahun 1978, yang ia terbitkan dalam edisi terbatas menggunakan mesin fotokopi.
Studi pendahuluan ini kemudian menghasilkan edisi definitif pada tahun 1982, berjudul Komodo; Het Eiland, het Volk en de Taal (= Komodo; Pulau, Penduduk, dan Bahasa).
Jilis sekali lagi menyadari bahwa mungkin dialah satu-satunya orang yang pernah mempelajari bahasa dan budaya Komodo dalam kondisi aslinya.
Karena itu, ia tidak hanya menyajikan bahan leksikografisnya dalam bentuk glosarium Komodo-Indonesia-Belanda-Inggris, tetapi juga menambahkan informasi etnografis serta data tentang flora, fauna, dan toponimi, termasuk juga peta topografi dan linguistik.
Sebagai seorang yang selalu kritis terhadap dirinya sendiri, Jilis menulis bahwa ia merasa kajiannya kurang mendalam karena keterbatasan waktu penelitian.
Namun, ini sebenarnya adalah bentuk kerendahan hati, seperti yang juga terlihat dalam kata pengantar kamus Manggarainya.
Berkat pengalaman bertahun-tahun dan studi rinci terhadap bahasa Manggarai dan Rembong, ia tentu tahu bagaimana menangani topik seperti ini.
Meskipun mungkin penelitiannya tidak sedetail yang ia harapkan, hasilnya tetap menjadi dasar yang sangat berguna bagi survei yang lebih luas.
Penelitian linguistiknya, setidaknya, membawanya pada kesimpulan bahwa, bertentangan dengan anggapan umum, bahasa utama yang digunakan di Pulau Komodo bukanlah bahasa Bima, meskipun masyarakat setempat banyak menggunakan kosakata serapan dari bahasa tersebut.
Verheijen menggambarkan bahasa Komodo sebagai bahasa yang berdiri sendiri, yang berkerabat dengan rumpun bahasa Manggarai.
Hal yang cukup menarik adalah bahwa Jilis, dalam retrospeksi, merasa khawatir terhadap campur tangan pihak luar terhadap masyarakat Komodo, yang hingga saat itu telah hidup dalam isolasi.
Ia menulis bahwa pengaruh terbesar terhadap Pulau Komodo berasal dari “sejumlah orang yang secara intelektual, ekonomi, dan sosial, termasuk dalam kelompok superior, yakni para pejabat pemerintah, guru, tenaga medis, dan pegawai negeri” (Verheijen 1982:256–257).
Kita dapat merasakan adanya ketidaksesuaian tertentu antara sikapnya sebagai ilmuwan dan sebagai misionaris.
Sebab, sebagai misionaris, ia pada dasarnya memang turut campur dalam kehidupan lokal melalui profesinya itu. Pada akhirnya, Jilis tidak sepenuhnya puas dengan publikasi berbahasa Belanda ini tentang masyarakat yang terancam ini.
Sepanjang tahun-tahun ketika Jilis tenggelam dalam studi bahasa dan budaya, ia tetap memelihara ketertarikannya terhadap sejarah alam.
Setelah melalui beberapa proses negosiasi, ia menjual seluruh koleksi burung dan telurnya kepada Museum Sejarah Alam Nasional di Leiden.
Ia juga menyerahkan lebih dari 5.000 spesimen tumbuhan kepada Herbarium Negara di Leiden. Dengan cara ini, ia menjadi salah satu donor terpenting bagi koleksi flora dan fauna Indonesia Timur di kedua institusi tersebut.
Dalam kegiatan pengumpulannya ini, Jilis mendapat dukungan dari rekan misionarisnya asal Jerman yang jauh lebih muda, Erwin Schmutz, yang baru datang ke Flores pada tahun 1963 dan memiliki ketertarikan yang sama besar terhadap sejarah alam.
Mereka (Jilis dan Erwin Schmutz) menemukan beberapa spesies tumbuhan dan burung yang sebelumnya tidak dikenal, yang kemudian dinamai menurut nama para penemunya.
Salah satu karya panjang terakhir Verheijen adalah sebuah studi tentang Aha Sama (orang Sama), para pengembara laut yang tinggal di sepanjang pesisir beberapa pulau di Indonesia Timur.
Sejak tahun 1947 ia telah mencatat beberapa nama burung dalam bahasa Sama atau Bajo. Kemudian, saat melakukan penelitian tentang bahasa Komodo, minatnya kembali terpicu oleh masyarakat Sama Bajau.
Kembali menjadi seorang pengumpul yang berniat melestarikan budaya dan bahasa yang sedang menghilang, ia menulis: "Karena komunitas Bajo sedang mengalami perubahan besar-besaran sebuah proses yang diperkirakan akan semakin cepat di masa depan penting untuk menyelamatkan data tentang mereka untuk penelitian selanjutnya" (1986:24).
Ia merencanakan studi ini dengan pola yang sama seperti bukunya tentang Komodo, yaitu menyajikan materi leksikografis yang diselingi dengan informasi etnografi dan sejarah.
Jilis pernah mengatakan kepada saya bahwa ia sangat menikmati penelitiannya tentang para pengembara laut.
Sangat mungkin bahwa kehidupan nomaden mereka membangkitkan kenangan nostalgia akan gaya hidupnya sendiri yang juga nomaden.
Ia menyukai perjalanan dan merasa betah di mana pun ia berada. Gaya hidupnya juga dapat dibandingkan dengan orang-orang Turkomen di Turkestan, dekat perbatasan antara Tiongkok Barat dan Rusia—wilayah yang sebenarnya menjadi pilihan pertamanya sebagai misionaris.
Dengan studi tentang Sama/Bajau ini, kehidupan Jilis sebagai seorang etnografer tampaknya mencapai titik akhir.
Dalam satu dekade terakhir hidupnya, ia memusatkan perhatian pada penyelesaian naskah-naskahnya. Pada tahun 1993, ia akhirnya membebaskan diri dari semua tugas yang dibebankannya sendiri dan kembali ke Belanda.
Saya mengenal Jilis pada tahun-tahun terakhirnya, di rumah para misionaris lansia SVD di Teteringen. Ia meninggal pada April 1997.
Gambar terakhir yang saya miliki, dan yang paling saya kenang, adalah dirinya duduk di sebuah kursi yang menghadap menjauh dari jendela pada suatu hari musim semi yang cerah.
Seolah-olah ia merasakan bahwa akhir hidupnya sudah dekat dan ia mulai menarik diri dari dunia luar. Ia telah cukup lama mengembara.
Diterjemahkan dari sumber aslinya In Memoriim Jilis A.J. Verheijen SVD
BACA JUGA