- -->
  • Jelajahi

    Copyright © Congkasae.com
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Ritus Ela Leko Tinu sebagai Ucapan Terima Kasih Anak untuk Orang Tua di Manggarai

    Penulis: Antonius Rahu | Editor:Tim Redaksi
    15 Januari, 2026, 12:49 WIB Last Updated 2026-01-15T06:22:56Z
    Post ADS 1
    Post ADS 1
    Ritus Teing Hang Tinu, Bentuk Ucapan Terima Kasih Anak kepada Orang Tua

    Ritus teing hang tinu menjadi momen yang sakral dalam keluarga Manggarai lantaran menjadi titik balik bagi anak untuk berterima kasih kepada kebaikan orang tua, demikian pula bagi orang tua menjadi momen terbaik dalam memberikan berkat terakhir bagi seluruh anak-anaknya.

     [Congkasae.com/Sosial Budaya] Dalam tradisi adat orang Manggarai, sejumlah hal baik dan buruk yang dialami perlu dilakukan upacara yang bertujuan sebagai bentuk ucapan syukur, terima kasih maupun bentuk permintaan kepada nenek moyang agar selalu menjaga kita selama berziarah di muka bumi.


    Ketika orang baru saja lulus dalam sebuah seleksi penerimaan Aparatus Sipil Negara (ASN) misalnya maka orang tersebut wajib melaksanakan ritus teing hang untuk para leluhurnya sebagai bentuk ucapan terima kasih kita kepada mereka.


    Demikian pula halnya ketika seseorang baru saja luput dari maut seperti kecelakaan kendaraan, maka orang tersebut harus menjalankan ritus pemulihan alias tuke dara sebagai bentuk pemulihan dari ancaman maut dalam kecelakaan dan meminta para leluhur untuk menjaga dia di hari-hari selanjutnya.


    Demikian pula halnya ketika kedua orang tua sudah memasuki masa lanjut usia (Lansia) maka anak-anaknya wajib mengadakan ritus khusus yang merupakan bentuk ucapan terima kasih anak kepada orang tua yang telah membesarkan mereka hingga tumbuh dewasa.


    Ritus tersebut dinamakan ritus Teing Hang Tinu, ya ritus ini didefenisikan sebagai bentuk ucapan terima kasih anak kepada kedua orang tua yang telah membesarkan anak-anaknya hingga tumbuh menjadi dewasa.


    Ritus ini biasanya dilakukan dalam dua kondisi yang pertama jika orang tua dalam kondisi sehat dan kedua jika orang tua dalam kondisi sekarat karena sakit (ruis kudut lelak benta agu wale tae) alias mendekati ajal kematian.


    Jika orang tua masih dalam kondisi sehat, maka tahapan pelaksanaan ritus ini perlu didiskusikan secara bersama-sama melibatkan semua anak-anaknya sebelum akhirnya hal itu disampaikan kepada kedua orang tua.


    Komunikasi ini sangatlah penting mengingat ritus teing hang tinu haruslah mendapatkan restu atau persetujuan dari yang bersangkutan dalam hal ini orang tua.


    Apabilah hasil komunikasi tersebut disetujui oleh kedua orang tua barulah ritus ini dilakukan seperti penentuan waktu dan tanggal yang cocok untuk pelaksanaan ritus tersebut.


    Beda halnya dengan kondisi sekarat (kudut lelak benta agu wale tae) apabila orang tua sudah dalam kondisi sekarat mendekati ajal kematiannya, maka semua anak-anaknya  wajib berkumpul untuk mendiskusikan soal teing hang tinu.


    Teing hang tinu ini dilakukan dalam kondisi penting dan mendesak agar perjalanannya menuju rumah keabadian menjadi tak terhambat (Toe manga nuk kole musin).


    Lazimnya ritus teing hang tinu melibatkan beberapa benda berharga termasuk hewan kurban yang akan diberikan kepada orang tua dalam ritus ini.


    Apabila dalam kondisi sehat anak-anak wajib menyiapkan seekor babi, ayam jantan, kain songke termasuk perhiasan menurut kemampuan finansial sang anak sebagai bentuk tabing kepada orang tua.


    Babi yang dipersiapkan untuk ritus ini disebut Ela Leko Tinu (Babi ucapan terima kasih) kepada orang tua yang telah membesarkan anak-anaknya hingga tumbuh dewasa.



    Akan tetapi dalam kondisi tergesa-gesa karena kondisi orang tua yang sekarat pelaksanaan ritus teing hang tinu hanya berupa ayam jantan saja karena situasi dan kondisi yang mendesak.


    Dalam ritus teing hang tinu biasanya dihadiri oleh seluruh anak-anak dalam sebuah keluarga termasuk cucu dan cece.


    Selain itu juga dihadiri oleh keluarga besar anak wina (penerima istri) dan anak rona (pemberi istri) serta paang olo ngaung musi (warga sekampung) sebagai saksi acara tersebut.


    Ini menambah legitimasi adat bahwa perayaan ritus tersebut dikatakan sah secara adat apabila disaksikan oleh pihak lain yang turut hadir dalam upacara itu.


    Ela leko tinu dan ayam biasanya akan dilakukan torok sebelum disembelih untuk selanjutnya dimasak untuk disantap bersama.


    Adapun tahapan dari pelaksanaan ritus teing hang tinu dapat dijabarkan sebagai berikut:


    Tahapan Persiapan

    Dalam tahapan ini anak-anak akan mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan upacara teing hang tinu.


    Biasanya anak sulung akan memimpin musyawarah keluarga terutama soal bahan-bahan yang perlu dipersiapkan dalam ritus itu termasuk apakah kedua orang tua sudah menyetujui perihal pelaksanaan ritus teing hang tinu untuk mereka.


    Dalam kondisi normal yakni orang tua masih dalam keadaan sehat, beberapa hal yang perlu dipersiapkan diantaranya babi satu ekor, ayam jantan, pakayan dan kain songke yang akan dihadiahkan kepada kedua orang tua (Tabing ata tu'a) termasuk perhiasan tergantung kemampuan sang anak.


    Selain itu siapa saja yang akan diundang sebagai saksi upacara teing hang tinu itu juga akan dibahas dalam tahapan persiapan.


    Pelaksanaan Ritus Teing Hang Tinu

    Setelah semuanya sudah dipersiapkan selanjutnya adalah pelaksanaan ritus teing hang tinu pada hari pelaksanaan ritus ini juru bicara alias tongka akan memulai upacara tersebut dengan torok.


    "Iyo........iyo...!!  hitu ite kraeng (sebut nama tamu yang dipanggil) nenggitu kole lawang anak rona sapo mese likang lakas beo (sebut nama keturunan anak rona) nggitu kole sangget wing agu dading (sebut nama klen keturunan anak wina) agu sangget weki paang olo ngaung musi ata lipur liup one mai lonto cama kaeng beo hoo, ai damang leso one meseng gula one sua manga anak ce pagat dading ca siku de mbaru agu kilo kudut lambu mbaru dite, tentu petok leson naa tanggaln.


    Woko hoog keta leso remong agu rapak reke, koal agu caid ite, neho tae damin ite........hendeng keta tuka mesegm ami joreng keta tuka koegm, woko redu para lonto loce tite be keta lobo bekek lami kapu keta lobo pa'a.


    Damang tangar weli rajan be bekek kapu paa hoo apai? ai tu'as ro'eng de kraeng (sebut nama orang yang dikasaih makan hang tinu) tentu ngancengs taung cecek sapu agu selek kope pola bancik.


    Comong le hitu, ai kudut cama laing tite tong mata ita tilu senget one mai adak teing hang tinu ende agu emad tong. Hoo taung titu neka keta pesot porot du wangkan dengkir cemoln tong toe keta muu kanang lite kepok".


    (Torok pembukaan ini bermaksud sebagai ucapan selamat datang untuk para tamu undangan yang telah menghadiri undangan, lalu dijelaskan pulah maksud dan tujuan undangan dan permintaan agar para tamu mengikuti ritus ini dengan saksama sebagai saksi mata).


    Juru bicara yang mewakili tamu undangan yang hadir akan menjawab seperti berikut ini.


    "Iyooo.......iyo....!! one mai reweng agu go'et dite latangt ami ai bo keta nuk damin ite komeng toe keta tombo le botol agu tura le tuaki, ai koal agu caigm ami kudut cama laing one mai mata ita agu tilu senget one mai adak teing hang tinu dise anak dite soo, kali woko tombo keta le botol tura keta le tuak lite neho tae damin ite.....!! terima kasih, lanjut diten bo tombo hitu."


    Ucapan ini bermaksud sebagai jawaban dari ucapan pembukaan yang disampaikan oleh juru bicara mbaru agu kilo (keluarga besar) intinya kehadiran para tamu undangan untuk menambah legitimasi perayaan ritus teing hang tinu sekaligus sebagai saksi mata.


    Selanjutnya proses pelaksanaan torok inti yang dilakukan oleh juru bicara (tongka) untuk kedua orang tua yang akan dilakukan ritus teing hang tinu.


    "Iyoooo..........iyo....!! itu meu ende (sebut nama ibu) agu ema (sebut nama ayah) ai danong du wangkan kaeng camas meu tentu ngaji le meu kamping mori jari, agu keng kamping mori mese kudut beka weki one wing agu dading kaeng kilos meu, kali cai les keng cai sinas kinda de meu, nitu mangan loas anak bara wua tuka one mai ata sulung dengkir ata cucun.


    Laun ntaung sinan liwang, du reme koed ise buru le mai kepe le meu, warat lau mau cakas, nenggitu kole woko lasang tana kolang leso mbe keta lobo bekek le meu kapu keta lobo paas.


    Nenggitu kole dempul wuku tela tonis meu latang te katu lau bangku sekolad ise kudu ita dia agu jari tai koe mosed, wali di'a ketas le jari agu dedek nenggitu kole lawang sangget empu agu empo.


    Dengkir du kaeng kilod kole ise hitu meu enden agu eman kudut kukut keta lobo wuwungd, dadang keta du paras peang mai, kali woko leso hoo baes cecek sapu agu selek kope, pola bancik ga neho tae dise anakm puung ata cucu dengkir ata ngaso, ende agu ema.....! hoo keta ela agu manuk nggitu kole towe kudu tabing latangt meu, kudu teing hang tinus meu.


    Ai bo bo tae dise anaks toe ma nganceng lekon di'a demeu latangt ise, landing ngong meu cua neka keta lelo wetorn agu neka keta tangar warnan hitui kali ata dumpu agu haeng le kawen lise latangt dia agu tinu dite landing toe keta muu kanang ende agu ema kepok....!


    Sang ayah akan menjawab torok dari juru bicara perwakilan seluruh anak-anak mereka dengan go'et seperti ini.


    "Iyooo...iyo...! itu meu sangget anak wing agu dading dami cua ende agu emas, ai bo tenang agu nuk dami anak, konem po baem cecek sapu agu selek kope pola bancik ga ata koe keta kin lami lelos meu. 


    Kali woko manga anak nai nenggo'os meu kudut tabing agu teing hang aku agu endes neho tae dami cua endes anak............!! mesen bo momang agu nuk demeu latang ami.


    Landing tegi dami latangt meu neka keta naa one ati rak agu neka keta kukut one pucus sangget ata daatn one mai titong agu toing dami cua endes am nggewik agu puit eme kador meu, nenggitu kole sangget go'et dami cua ata toe dian lawang hoo latang te meu.


    Tegin kali anak kukut one pucu naa keta one ati rak sangget titong agu toing dami ata di'an, nenggitu kole latangt kawe moses meu leso diang agu ce sua porot tendeng keta neho pering tee moses agu langkas keta neho betong laja.


    Eme mangas buru le mai latangt gege ngger lau, neka daong lau neka tepo lau, eme mangas buru lau mai latangt gege ngger le neka tepo le neka daong le.


    Porot sangget lasang one ranga agu regit one wekis one leso salen one waes laun, eme duat lau uma meu neka keta cumang dungka agu neka pala cala.


    Nenggitu kole porot cimar keta neho rimang wekis cama rimang rana, Kimpur neho kiwung cama kiwung lopo.


    Neka keta manga koas neho kota ko behas neho kena moses anak, nai ca anggit kali agu tuka ca leleng.


    Nenggitu kole latang te mose kaeng kilos meu porot wake caler ngger wa agu saung bembang ngger peang, porot cing keta ngger silis, nepang ngger sina, neal ngger pe'ang, wela keta pati rengga wua keta pati kura, mbusul keta pati wukut.


    Nenggitu kole latang te gejur pening agu naangs meu porot ras keta ngasang de pening agu naang, tadangs ngasang de nemba, kandos ngasang de bambo.


    Porot one mai kawe moses meu eme kawe le meu haeng, eme ndepa le meu mena, porot molor salang ngos, palong salang lakos, cengka salang wetas, sembeng salang we'es.


    Porot beka agu buar kali one mai mose kaeng kilos meu anak dengkir du wangkan nang tedeng len.


    Anak..........!itus ngaji dami cua ende agu emas latang sangget meu anak dami etan ata ngaso turuk wan ata cucu.


    Ucapan atau torok ini berisi do'a orang tua untuk semua anak-anaknya agar diberkati jalan hidupnya di hari-hari selanjutnya.


    Orang tua juga meminta maaf kepada anak mereka jika terdapat hal-hal yang kurang berkenan selama mendidik dan membesarkan mereka.


    Orang tua juga menasehati seluruh anak-anak mereka untuk mengingat ajaran-ajaran yang baik (kukut one pucu naa one ati rak) yang menjadi pedoman hidup berkeluarga.


    Acara selanjutnya berupa torok manuk yang dilakukan oleh tongka dilanjutkan dengan toto urat, lalu dilanjutkan dengan upacara hang helang untuk para leluhur dan upacara santap bersama.


    Ritus teing hang ini menjadi momen yang sakral dan penting bagaimana orang tua dihargai atas jasa dan kebaikan mereka oleh sang anak.


    Demikian pula sang anak berterima kasih kepada kedua orang tua yang telah mendidik dan membesarkan mereka hingga tumbuh dewasa.


    Meski demikian dalam kondisi terdesak dimana orang tua dalam keadaan sekarat akibat sakit, ritus ini dibuat sesederhana mungkin dimana kehadiran tamu undangan tak sebanyak yang dilaksanakan dalam kondisi sehat.


    Selain itu babi tak mesti dipersiapkan akan tetapi hanya berupa ayam jantan saja selain itu jika orang tua sekarat biasanya tak membalas torok atau ucapan seperti yang dilakukan ketika mereka sedang dalam kondisi sehat.


    Meski demikian Ela Leko Tinu kerap kali dianggap sebagai momen perpisahan antara orang tua dan anak tak jarang orang tua menganggap bahwa anak-anaknya menginginkan mereka untuk meninggal.


    Hal itulah yang menjadi alasan beberapa orang tua enggan melaksanakan ritus ini selama mereka masih sehat dan lebih memilih ritus dilakukan ketika mereka sekarat dan menghadapi sakratul maut.


    Beberapa keluarga di Manggarai bahkan meniadakan ritus ini dalam keluarganya, padahal pelaksanaan ritus ini sangatlah penting.


    Apapun alasannya masing-masing orang memiliki alasan dan pilihan tersendiri, yang pasti teing hang tinu merupakan ucapan terima kasih sang anak untuk kedua orang tuanya.


    Ritus ini juga menjadi moment bagi orang tua untuk menyampaikan berkat terakhir kepada sang anak agar dimudahkan dalam menjalankan kehidupan dan diberkati dalam keturunannya kelak.


    Perbedaan Ritus Teing Hang Tinu dan Teing Hang Wura Ceki

    Kendati sama-sama diberi nama ritus teing hang namun ritus teing hang tinu berbeda dengan ritus teing hang wura agu ceki yang diadakan setiap tahun bagi orang Manggarai.


    Hal tersebut terlihat dalam penggunaan frasa "Iyoooo....!" yang digunakan untuk orang yang masih hidup (ata raja) sementara dalam ritus teing hang wura agu ceki frasa yang digunakan adalah "Denge, atau senget" yang bermakna lawan bicara merupakan roh atau arwah nenek moyang (toe ata raja).


    Selain dari penggunaan frasa ritus teing hang ende ema dalam acara leko tinu dijawab langsung oleh orang tua dalam hal ini pola komunikasi berlangsung secara timbal balik dua arah.


    Sementara ritus teing hang wura agu ceki pola komunikasi hanya berlangsung satu arah (ata torok kanang) hanya tongka yang berbicara tanpa lawan bicara.


    Perbedaan lain kedua ritus ini yakni makanan yang dipersembahkan untuk keduanya berbeda dalam konteks ritus teing hang wura agu ceki makanan yang dipersembahkan biasanya disebut hang helang yang terdiri dari hati ayam atau babi yang dibakar dan sedikit nasi dan air minum.


    Semuanya itu ditaruh di dekat tiang utama (siri bongkok) yang dialasi dengan bantal (tange berit).


    Sementara dalam ritus teing hang tinu makanan yang disajikan tak memiliki perbedaan dengan makanan yang disajikan untuk para tamu undangan dan disantap bersama-sama.


    BACA JUGA

    Jurak dalam Hukum Adat Perkawinan Manggarai


    Toto Urat dalam Budaya Manggarai, Mengapa Harus Usus Ayam?


    Sistem Perkawinan Lili, Mempersunting Janda Demi Eksistensi Wa'u dalam Adat Manggarai

    Komentar

    Tampilkan

    Bersama Menjaga Warisan Kita

    Dukung Congkasae agar terus hidup dan tumbuh sebagai suara budaya Manggarai.

    Kenapa Kami Butuh Dukungan?

    Congkasae.com hidup dari semangat dan cinta pada budaya. Tapi kami juga perlu dana untuk membayar penulis lokal, mengembangkan situs, dan mendokumentasikan cerita-cerita budaya kita.

    Donasi Sekali atau Rutin

    Atau transfer langsung:

    • BRI 472001001453537 (a.n. Congkasae)
    QRIS

    Pasang Iklan atau Kerja Sama

    Kami membuka kerja sama dengan UMKM, NGO, sekolah, atau pemerintah daerah untuk iklan, pelatihan, dan proyek kolaboratif.

    Kontak Kami Langsung

    Kata Mereka

    "Saya senang bisa mendukung media yang memperjuangkan akar budaya Manggarai." – Julius, diaspora di Jakarta
    "Congkasae adalah media yang dekat dengan hati kami di Manggarai." – Frans, guru di Ruteng