Dalam catatan media ini kasus orang bunuh diri lantaran depresi dengan hutang piutang semakin marak terjadi di Manggarai, dalam kurun waktu Januari hingga April 2026 kasus tersebut telah memakan 2 korban jiwa.
[Congkasae.com/Kereba] Misteri penyebab kematian Kapospol Mano, kecamatan Lamba Leda Selatan, Manggarai Timur Alexander Riberu mulai terpecahkan menyusul peristiwa kematiannya dengan cara bunuh diri pada Selasa 14 April 2026 sore di pos polisi Mano Manggarai Timur.
Berdasarkan hasil penyelidikan awal, polisi menduga bahwa bripka Alexander Riberu nekat mengakhiri hidupnya lantaran terlilit hutang yang memicu terjadinya depresi.
"Dugaan kuat karena depresi dan tekanan hutang yang banyak,"kata kasatreskrim Polres Manggarai Timur Iptu Ahmad Zacky Shodri Kamis 16 April 2026.
Meski demikian ia mengaku belum bisa menyimpulkan alasan dibalik banyaknya hutang yang dimiliki korban termasuk keterkaitannya dengan kebiasaan korban yang dikabarkan bermain judi online.
Ahmad mengatakan dugaan tersebut diperoleh dari informasi yang dihimpun dari sesama rekan korban yang mengaku memiliki hutang dengan beliau.
Bripka Alexander Riberu ditemukan tewas di asrama kompleks pos polisi Mano pada Selasa 14 April 2026 sore setelah Alexander mengonsumsi minuman keras bersama seorang pria berinisial D.
Menurut keterangan polisi D sempat menenggak miras di lokasi kejadian sebelum meninggalkan bripka Alex dengan maksud hendak mencukur rambut.
Usai mencukur rambut D kembali dihubungi warga lain yang bermaksud untuk mencari keberadaan Bripka Alex namun tak berada di pos polisi Mano.
Ia ditemukan di sebuah rumah kosong dekat pos polisi dalam kondisi tak bernyawa. Polisi pun dikerahkan ke lokasi usai mendapatkan laporan untuk melakukan proses penyelidikan.
Kabid Humas Polda NTT Kombes Pol Henry Novika Candra mengatakan bripka Alex tewas akibat gantung diri menggunakan tali nilon.
"Berdasarkan hasil olah TKP, korban ditemukan meninggal dunia akibat gantung diri menggunakan tali nilon,” ujar Henry.
Hal tersebut kata Henry, didukung oleh hasil pemeriksaan jasad korban oleh tim medis dari puskesmas Mano yang tak menemukan bekas kekerasan lain pada tubuh korban.
Ia mengatakan keluarga telah menerima kasus ini sebagai sebuah musibah dengan menolak melakukan proses autopsi pada jasad korban.
Ini bukan kasus bunuh diri pertama terjadi di Manggarai dimana seorang yang mengambil jalan pintas dengan cara bunuh diri lantaran terlilit hutang.
Sebelumnya pada Sabtu 21 Februari 2026 silam, seorang pria lanjut usia (Lansia) bernama Darius Genggo (60) ditemukan tewas gantung diri di sebuah rumah kosong di desa Beo Rahong, Kecamatan Rahong Utara kabupaten Manggarai.
Kasiehumas Polres Manggarai yang menangani kasus tersebut mengatakan korban yang memiliki hutang dengan koperasi nekat mengakhiri hidup dengan cara tragis lantaran depresi dengan banyaknya hutang dengan koperasi harian yang beroperasi di desa itu.
"Berdasarkan keterangan keluarga dan informasi yang dihimpun di lokasi, korban diduga mengalami tekanan akibat persoalan ekonomi dan tagihan utang koperasi harian,"ujarnya.
Maraknya kasus bunuh diri akibat depresi berat dan terlilit hutang menjadi perhatian kita bersama apalagi dengan maraknya judi online dan bebasnya koperasi harian yang keluar masuk ke desa-desa di Manggarai yang menjerat warga dengan umpan pinjaman tanpa jaminan namun ditodong dengan bunga yang mencekik masyarakat.
Dalam penelusuran media ini pada tahun 2020 sebuah koperasi bernama Gadhing Sanjaya Abadi meraup ratusan juta rupiah dengan menawarkan produk investasi ilegal yang menawarkan investasi berbunga tinggi kepada para korbannya.
"Korbannya banyak dari itu koperasi e mereka keliling dari rumah ke rumah menawarkan produk investasi tapi akhirnya dana tidak dikembalikan karena bosnya meninggal akibat covid,"kata seorang warga yang pernah menjadi anggota koperasi tersebut.
Ia mengatakan hingga kini tak ada penyelesaian terkait masalah dana investasi di koperasi tersebut.
Di kecamatan Reok para pelaku yang mengaku sebagai pemilik koperasi Gadhing Sanjaya Abadi menawarkan sejumlah investasi kepada warga.
"Kami merasa aneh karena mereka datang dari rumah ke rumah tawarkan investasi berbunga tinggi namun anehnya tidak ada kantor nya di Reo sini, "kata Marta salah seorang Ibu Rumah Tangga di Reok.
Ia menyebut para pelaku yang kerap menggunakan mobil beberapa kali datang ke rumahnya untuk menawarkan produk investasi.
"Bayangkan investasi 50 Juta katanya kita dapat motor Vixion seharga 25 juta terus dana mengendap dua tahun setelahnya bisa diambil utuh, ini logikanya dimana?"tanya Marta.
Selain itu, kata Marta, jika investasi uang 100 juta maka dapat mobil pikup,"ini aneh saja ya kalah lagi bank, "katanya.
Marta menyebut beberapa orang sudah menginvestasikan uang mereka di Koperasi Gadhing Sanjaya Abadi, meski tidak memiliki kantor yang jelas.
BACA JUGA
Cerita Rakyat Manggarai, Si Pondik yang Cerdik dan Licik
Terlilit Utang Koperasi, Lansia di Rahong Tewas Gantung Diri




%20(1)%20(1)%20(1).webp)

