Kecerdikan dan kelicikan si Pondik yang selalu membuatnya lolos dari hukuman meski telah melakukan banyak pelanggaran.
[Congkasae.com/Nunduk] Pada zaman dahulu di Manggarai ada seorang pemuda bernama Pondik. Untuk mempetahankan hidupnya tidak lain setiap saat ia hanya berjalan dari kampung ke kampung untuk melihat, mendengar, kapan ada pesta di sana.
Hal ini merupakan kebiasaannya sejak kecil sehingga untuk melakukan pekerjaan ia tak sanggup misalnya bekerja kebun, sama sekali ia tak dapat. Pada suatu hari ia berjalan:ialan di hutan belantara sambil menghirup udara segar.
Tiba-tiba matanya tertuju kepada sebuah sarang lebah yang bergantung dengan indahnya pada sebuah dahan yang rendah. Hasrat hatinya untuk mengangkat sarang itu.
Lalu diambilnya sebuah periuk dari tanah, dan dengan caranya sendiri ia berkeliling lagi dari kampung ke kampung sambil berseru "Gong-gong silakan datang yang ingin beli gong yang paling baik dan tak pernah dijual oleh siapapun ".
Segenap warga desa mcpasa tergugah dan datang mengeru muninya. Mereka itu berkata dalam hati mengapa gong itu berbentuk seperti periuk.Kemudian seorang dari antara mereka berkata, saudara! "Coba tolong bunyikan gong itu supaya kami dengar bunyinya".
Lalu si Pondik berkata, "Gong ini tak perlu ditabuh dengan kayu cukup digoyang saja, maka akan terdengar bunyinya yang amat nyaring".Keinudian periuk itu digoyang dan terdengar bunyi "nging.....nging....."ltulah bunyinya ibu-ibu dan bapa-bapa" katanya berkampanye.
Tak lama kemudian terjadilah tawar menawar dengan seorang tua adat dari kampung itu.Harganya dise pakati dan ia berkata. "Bapak! gong ini boleh bapak bunyikan tetapi setelah saya pergi, dan jangan buka penutupnya".
Orang itu mengiyakan semua yang dikatakan oleh si Pondik.Setelah menerima pembayaran tunai ia segera meninggalkan tempat itu.
Sipembeli menggoyang lagi gong tersebut dan terdengarlah bunyi yang sama.Tetapi ia tak berhenti berpikir mengapa gong itu tidak boleh dibuka.
Kemudian memutuskan membuka gong tersebut. Dan semua orang dipanggil untuk turut menyaksikannya.Ketika penutup periuk itu diangkat lebah-lebah beterbangan keluar dan menerjang semua orang yang hadir.
Mereka semua menderita akibat sengatan lebah. Dalam waktu yang singkat Tua adat tersebut mengumpulkan semua pria dalam desa dan memerintahkan mereka untuk pergi mengejar si Pondik.
Mereka mencarinya di kampung sekitar, dan menemuinya pada sebuah pesta. Mereka tangkap si Pondik, mencambuknya dan menggiringnya pulang untuk menentukan nasibnya.
Akhimya mereka menyetujui bahwa si Ponik harus digan tungkan di pinggir jalan supaya semua orang tahu bahwa ia adalah seorang penjahat.
Kemudian si Pondik digantung pada sebatang pohon yang tumbuh di pinggir jalan yang ramai dilalui orang.
Si Pondik menjalankan hukuman itu dengan pasrah. Tetapi ia juga berpikir untuk menyelamatkan diri dari gantungan tersebut.
Pada hari yang kedua tiba-tiba muncullah seorang yang bernama Mtembong. Semakin orang itu mendekati semakin si Pondik berbuat seolah-olah gantungan itu suatu permainan yang indah.
Si Mtembong melihat, "ah . ... bagus sekali orang itu, dapat mengayun ke sana ke marl".Kemudian ia menghampiri si Pondik dan berkata, "Sahabat apa yang kau lakukan di sini?", lalu si Pondik menjawab, dengan nada tak enak.
"Mengapa saudara bertanya demikian? Ini adalah permainanku yang biasa!"
"Kalau begitu coba saudara jelaskan pada saya apa maksudnya saudara berbuat seperti ini?" Lalu ia meyakinkan si Mtembong katanya, "Saya melakukan hal ini setiap hari untuk menjaga kelangsingan tubuh saya. Dulu perut saya gendut sekali dan perut saudara tidak segendut perut saya.Lihat saya sekarang, badan saya sudah ramping lagi dan mungkin bisa beristeri lebih·dari satu lagi".
"Kalau demikian tolonglah saya sahabat, saya ingin mengobati sakit perut saya dan melangsingkan badanku". Itulah sebabnya kata si Pondik "Berolahraga seperti ini sangat membantu, dan dalam waktu tidak sampai dua hari saudara akan ramping kembali".
Mtembok mendesak lagi sambil berkata, "Sahabat berikan saya kesempatan!"."Baiklah!" kata si Pondik. Kemudian si Pondik meminta bantuan Mtembong untuk melepaskan tali-tali yang meliliti tubuhnya.
Mtembong melakukannya dengan sangat gembira. Setelah bebas si Pondik mengajak Mtembong agar siap diikat.
Tanpa menunggu lagi si Pondik mengikat tali-tali itu pada pangkal ketiak dan leher Mtempong. Kemudian Mtembong digantung pada pohon, tempat scmula ia digantung.
Si Mtembong terayun kian ke mari dan ia mengeluh kesakitan karena tali-tali semakin kuat mengikatnya.Ia mengharapkan kehadiran si Pondik tetapi sia-sia.Yang muncul hanyalah orang-orang yang menyiksa si Ponik.
Si Ponik sendiri telah bebas dan sambil berjalan-jalan ia bernyanyi, "oh ... losi Pondik e, ala Mtembong" yang artinya Si Pondik sudah lari bunuh saja Mtembong.
Rombongan yang datang menyaksikan bahwa si Ponik yang digantung belum juga meninggal. Mereka mengambil tombak untuk menikam lambungnya.
Mereka berkata, "Hebat juga si Ponik ini, sudah sekian lama digantung belum juga mati". Mtembong yang mendengar itu berteriak katanya, "Bapak-bapak ampun saya bukan si Pondik nama saya Mtembong".
Tetapi orang-orang itu tidak mengindahkan keluhannya. Mereka menikamnya dan ia mati seketika. Mayat itu kemudian diturunkan dan mereka semua mengetahui bahwa itu bukan mayat si Pondik.
Setelah mayat itu dikuburkan mereka memutuskan untuk mencari dan menangkap si Pondik. Akhirnya si Pondik mereka hadapkan ke depan pengadilan desa, karena tuduhan membunuh.
Pengadilan desa dalam proses pemikirannya tentang masalah keadilan menilai hukuman mati sebagai balasan yang setimpal untuk kejahatan si Pondik .
SiPondik sebagai pihak yang bersalah tidak menolak keputusan ini. la hanya meminta kalau boleh keputusan ini diganti dengan suatu hukuman yang lebih ringan.
Para pemuka adat mempertimbangkan si Pondik dan kemudian mengabulkannya. Para pemuka adat mencabut kembali hukuman mati dan menggantinya dengan hukuman denda.
Si Pondik harus menebus kejahatannya dengan membayar denda seekor kerbau. Kerbau ini harus gemuk dan sudah diserahkan kepada pengadilan desa dalam jangka waktu satu minggu.
Waktu satu minggu bagi orang yang tak berkemampuan seperti si Pondik dirasakan amat mendesak. Ia barusaha dengan segala kemampuan yang ada.
Ia menjelajahi desa-desa tetapi kerbau yang dijumpai harganya melampaui kemampuannya. Dalam keadaan putus ada ia pergi mencari di padang. Dari jauh ia melihat beberapa orang tengah membagi-bagi daging seekor kerbau jantan.
Ia mendekati orang-orang itu dan meminta agar ia boleh membeli bagian leher dengan kepalanya. Permintaannya mereka setujui dan kabulkan. Setelah itu ia mengangkat kepala itu dan pergi menuju sebuah kubangan kerbau.
Di sana kepala kerbau ini ditanamkan dalam lumpur. Tali yang terikat pada leher kerbau diikat denran kuat pada sebatang pohon. Seutas tali yang lain ia ikatkan pada hidung kerbau.
Tali ini direntangkan sepanjang kurang lebih seratus meter, sampai ke lereng sebuah bukit. Kemudian ia kembali ke desa dan menyampaikan pada Tua Adat bahwa kerbau yang dijanjikan telah siap di padang.
Dan ia meminta bantuan warga desa untuk menarik kerbau tersebut. Si Pondik berjalan paling depan. Dan seluruh warga desa mengikutinya dari belakang. Setelah tiba di lereng bukit ia menunjukkan mereka seekor kerbau jantan di dalam sebuah kubangan.
Mereka memegang tali kerbau itu dan berusaha menariknya keluar dari kubangan tersebut. Mereka berusaha sekuat tenaga dan berulang kali tetapi mereka juga belum berhasil.
Harl telah senja, dan mereka memutuskan untuk membunuh kerbau itu dari tempat kubangannya. Si Pondik sendiri meminta ijin untuk pergi karena tak rela menyaksikan kerbaunya dibunuh.
Mereka membiarkan ia pergi. Mereka kemudian pergi ke kubangan itu untuk membunuh kerbau tersebut.
Tetapi apa yang terjadi, temyata bahwa yang ada adalah sebuah kepala kerbau yang ditanam di dalam lumpur.
Dan banyak rekasi yang timbul di antara mereka. Banyak di antara mereka menjadi sangat marah karena telah ditipu, tetapi banyak pula yang tertawa terbahak-bahak kerena merasa lucu.
Akhirnya mereka membiarkan dia hidup terus karena si Pondik sangat licik dalam caranya sendiri. Sementara itu si Pondik telah menghilang dan mereka tak pernah berjumpa lagi dengannya.
BACA JUGA
Legenda Loke Nggerang, Putri Ndoso yang Dikuliti Lantaran Menolak Pinangan Putra Kerajaan Todo
Sejarah Perjuangan Motang Rua Melawan Penjajahan Belanda di Manggarai
Menakar Fungsi Naga Beo dalam Mitologi orang Manggarai
Sejarah Penyebaran Islam di Manggarai dari Pengaruh Bima Hingga Gowa
Legenda Danau Sano Nggoang dari Ulah Sibuta dan Lumpuh Hingga Kutukan Empo Taek




%20(1)%20(1)%20(1).webp)

