![]() |
| Sugianto ketika membuat laporan di kantor polisi/Foto Sugianto |
Kerap dikritik soal pembangunan di desanya, Kepala desa Nanga Mbaur, kecamatan Sambi Rampas melakukan penganiayaan terhadap warganya sendiri.
[Congkasae.com/Kereba]Warkah Jaludin (58), Kepala Desa Nanga Mbaur, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur dilaporkan warganya sendiri setelah melakukan penganiayaan terhadap warga bernama Sugianto.
Peristiwa tersebut terjadi pada 10 April 2026 siang, ketika Sugianto yang aktif mengkritik pembangunan di desa Nanga Mbaur menemani keluarganya untuk membeli kambing.
Menurut keterangan Sugianto peristiwa itu terjadi di kampung Mberu, kelurahan Pota, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur 10 April 2026 siang.
Sugianto yang kala itu tengah menemani keluarganya untuk membeli kambing tiba-tiba dihantam pukulan dari arah belakang oleh kades Warkah Jaludin.
"Saya dipukul di bagian kepala sebanyak 4 kali,"ujar Sugianto Jumat 23 April 2026.
Ia mengatakan sang kepala desa sempat menggenggam kayu kedondong yang diayunkan ke bagian kepala Sugianto namun berhasil dihindar korban.
"Saya langsung lari, mengamankan diri saat Kades mengayunkan kayu kedondong dengan sasaran kepala saya," katanya.
Nanang yang merupakan saksi yang melihat langsung kejadian tersebut sempat dikejar oleh sang kepala desa beserta beberapa orang.
Melihat peristiwa itu Nanang langsung melarikan diri dari kejaran para pelaku.
Kapolsek Sambi Rampas IPDA Hironimus Emilianus membenarkan peristiwa tersebut dengan mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan pelimpahan berkas perkara ke Polres Manggarai Timur di Borong.
"Untuk efektivitas dan pengembangan penyidikan, serta mengingat terlapor merupakan Kepala Desa aktif, maka sesuai petunjuk pimpinan, penanganan kasus ini kami limpahkan ke Satreskrim Polres Manggarai Timur,” ujarnya singkat.
Di sisi lain Kasatreskrim Polres Manggarai Timur IPTU Ahmad Zhacky Sodri membenarkan kasus tersebut dengan mengatakan saat ini kasus tersebut masih dalam proses persiapan gelar perkara.
Ia mengatakan penyidik akan memanggil para pihak terkait untuk dimintai keterangan dalam kasus ini.
“Polres Manggarai Timur berkomitmen menangani kasus ini secara profesional, transparan, dan akuntabel. Tidak ada intervensi, semua warga sama di mata hukum. Perkembangan penyidikan akan kami sampaikan secara berkala,” tegasnya.
Hingga kini belum diketahui pasti motif utama penganiayaan tersebut, meski demikian Sugianto menduga penganiayaan didasari oleh tindakan Sugianto yang kerap mengkritisi proses pembangunan di desa termasuk proyek pembangunan Koperasi Desa Merah Putih di atas tanah bendahara desa Nanga Mbaur.
"Saya menduga seperti itu karena peristiwa itu terjadi setelah saya mengkritik pembangunan koperasi desa Merah Putih di atas tanah bendahara desa Nanga Mbaur yang sarat nepotisme,"ujar Sugianto kepada jurnalis congkasae.com.
Ia mengatakan dua hari sebelum kejadian penganiayaan tersebut sempat berpapasan dengan Warkah Jaludin kades Nanga Mbaur yang kala itu langsung melontarkan caci maki kepada Sugianto.
"Pas ketemu dengan saya di jalan bapa tua langsung caci maki saya tanpa sebab,"ujarnya.
Saat ini kata dia, ancaman terbaru yang ditujukan untuk Sugianto yakni soal pembunuhan.
"Sekarang ini saya merasa trauma dan ketakutan karena diancam untuk dibunuh,"katanya.
Meski demimikian ia berujar akan terus mengkawal kasus ini dengan harapan pelaku ditindak sesuai hukum yang berlaku.
Menanggapi hal itu Kepala Desa Nanga Mbaur Warkah Jaludin membantah keterangan Sugianto dengan mengatakan bahwa ia tak melakukan pemukulan.
"Tidak melakukan ite saya su lapor balek tentang kepalsuan itu,"katanya singkat.
BACA JUGA
Perempuan Asal Manggarai Jadi Tersangka Setelah Tipu Warga 200 Juta
Kendaraan plat luar dan penunggak pajak tak boleh isi bbm subsidi di NTT
Sejarah Perjuangan Motang Rua mengusir Penjajah di Manggarai
Legenda Loke Nggerang Putri Ndoso yang Dikuliti Lantaran Menolak Pinangan Raja Bima





