Bocah malang itu datang dari kampung Maras desa Golo Loni bersama teman-temannya, mereka hendak berenang di obyek wisata danau Rana Mese sebelum dinyatakan hilang secara misterius yang ditengarahi tenggelam di danau itu.
[Congkasae.com/Kereba] Bocah Kelas V SD asal kampung Maras Desa Golo Loni, kecamatan Rana Mese, kabupaten Manggarai Timur dikabarkan hilang sesaat ketika berenang di danau Rana Mese.
Peristiwa itu terjadi pada Senin 4 Mei 2026 ketika Greis dan beberapa orang temannya mendatangi obyek wisata danau Rana Mese untuk berenang.
"Informasinya mereka ini datang dari kampung Maras untuk berenang dengan teman-temannya,"kata Andre, seorang warga ketika melakukan proses pencarian korban Senin 4 Mei 2026 sore.
Ia mengatakan tak lama setelah itu salah seorang rekan mereka hilang di kawasan danau yang memicu rekan lainnya untuk mencari pertolongan kepada warga untuk mencari Greis.
Menerima informasi tersebut warga mulai mendatangi obyek wisata Danau Rana Mese untuk mencari keberadaan korban.
"Ya kita lakukan upaya pencarian dengan alat seadanya menggunakan rakit,"ujarnya.
Ia mengatakan hingga Senin sore pencarian terhadap korban masih belum membuahkan hasil meski pencarian telah melibatkan sejumlah stakeholders termasuk pemerintah daerah.
Sementara itu kepala desa Golo Loni Yohanes Okalung mengatakan pihaknya tak mengetahui kronologi peristiwa tersebut.
"Tidak tahu soal kronologinya karena waktu kejadian hanya korban dan teman-temannya,"kata Yohanes.
Berdasarkan informasi yang dihimpun bocah ini sengaja datang dari desa mereka yang berjarak hampir 4 km ke obyek wisata Danau Rana Mese untuk berenang.
Tiba di lokasi kejadian bocah tersebut disebut-sebut sempat menaiki rakit yang terapung di atas danau.
Sebelum akhirnya mereka menyadari rekan mereka menghilang secara misterius.
Upaya pencarian terhadap korban pun dilakukan warga namun belum membuahkan hasil.
Ghoi merupakan seorang warga yang ikut dalam penyelaman dalam upaya pencarian korban pada hari pertama.
Ia mengatakan hingga senin malam proses pencarian masih belum membuahkan hasil.
"Kejadiannya sekitar jam 11 atau jam 12 siang, saya baru dapat informasi pada jam 1 siang dan langsung ke lokasi untuk pencarian korban,"kata Ghoi Senin malam.
Ia menduga bocah tersebut menggunakan rakit ketika kejadian tersebut.
"Mereka berenang menggunakan rakit lalu melompat ke danau seperti yang lagi viral itu,"ujarnya.
Lantas bagaimana mungkin para bocah di bawah umur bisa bebas melakukan adegan berbahaya tanpa pengawasan petugas BKSDA yang mengelola obyek wisata alam danau Rana Mese?
Menurut pengakuan Ghoi keempat bocah malang itu diduga masuk ke kawasan danau Rana Mese melalui jalan tikus sehingga luput dari pantauan petugas.
"Mereka kemungkinan tidak masuk melalui pintu masuk tapi lewat jalan tikus jadi tidak bisa dilacak petugas BKSDA,"ujarnya.
Usai masuk melalui jalan tikus bocah tersebut langsung mandi dengan menggunakan rakit bersama teman-temannya jauh dari area dermaga sehingga menyulitkan pengawasan.
"Mereka berenang di area yang jauh dari dermaga,"katanya.
Ia mengatakan hingga Senin malam proses pencarian telah melewati acara adat dengan ayam jantan namun tak membuahkan hasil.
"Sampai senin malam tidak ketemu, sudah dilakukan ritual ayam sebanyak dua kali,"ujarnya.
Ia menambahkan kondisi dasar danau Rana Mese yang berbentuk palung menyerupai huruf V menyulitkan proses pencarian terhadap korban.
"Apalagi pencahayaan di dasar danau itu sangat minim jadi sangat sulit,"ujarnya.
Ia mengatakan proses pencarian akan dilanjutkan pada Selasa 5 Mei 2026.
"Kita doakan dia ini segera ditemukan,"harapnya.
BACA JUGA
Legenda terbentuknya danau Rana Mese bermula dari Perang
Gempa dan Tsunami Flores tahun 1992 tragedi kemanusiaan terbesar di Flores
Mbeko toka usang teknologi modifikasi Cuaca super canggih di Manggarai






