Kerusakan berulang di crossway Wae Musur menandakan pemerintah Manggarai Timur tidak serius dalam menangani kasus jembatan itu.
[Congkasae.com/Kereba] Jembatan penghubung sementara alias Crossway Wae Musur yang berada di desa Bea Ngencung, kecamatan Rana Mese, Kabupaten Mangarai Timur kembali ambruk akibat diterjang banjir bandang pada Rabu, 13 Mei 2026 silam.
Tingginya debit air sungai Wae Musur menyebabkan kerusakan parah pada jembatan penghubung alias Crossway yang menjadi akses keluar masuk warga tiga desa.
Kerusakan parah sepanjang hampir 40 meter berdampak pada terputusnya akses keluar masuk warga desa Satar Lenda, desa Bea Ngencung dan desa Lindi yang berada di seberang sungai.
Yovaristus Julianu, Kepala Desa Bea Ngencung mengatakan warganya mengalami kendala untuk bepergian ke Borong semenjak crossway itu ambruk.
"Saat ini akses keluar masuk desa benar-benar putus total, warga mengalami kesulitan untuk menjual hasil bumi,"ujarnya Selasa, 19 Mei 2026.
Wakil bupati Manggarai Timur Tarsy Sjukur mengakui kesulitan warga yang berada di seberang sungai wae Musur usai banjir bandang tersebut.
"Akses keluar masuk warga putus total,"kata Tarsy Sjukur yang mengaku telah meninjau langsung ke lokasi bencana.
Di sisi lain sebuah postingan warga yang menggotong sepeda motor ketika menyebrang sungai wae Musur viral di media sosial facebook.
Warga berharap pemerintah segera merespons kondisi tersebut dengan membangun jembatan permanen bukan jalur perlintasan sementara alias crossway seperti saat ini.
Gundisalvus Ndarung salah seorang tokoh pemuda Manggarai Timur mengatakan bahwa Pemda Manggarai Timur semestinya harus serius dalam mewujudkan kesejatraan masyarakat. Terutama masyarakat beberapa desa di seberang sungai Wae Musur.
"Melihat kejadian banjir yang menghantam crossway di lintasan Nangalanang dan menuju Torok Golo, serta jembatan menuju Papo desa Golo Ros itu sudah tidak layak lagi. Rusak parah. Pemda Matim semestinya harus sudah merumuskan itu sejak tahun lalu. Butuh keseriusan pemda agar kiranya pembangunan jembatan dan jalan menuju beberapa desa itu harus terwujud. Kasihan masyarakat disana," kata Gund dalam pembicaraan dengan Congkasae.com.
Ia melanjutkan, masyarakat dari sebelah Wae Musur sudah sejak lama mendapat diskriminasi pembangunan.
Meskipun di beberapa titik, jalan sudah dibangun, bisa saja jembatannya belum. Padahal, kata dia, itu kebutuhan mendesak dan sangat dibutuhkan oleh masayarakat.
Selain itu, Gund Ndarung juga menyoroti sikap pemda Matim yang selalu beralasan minim anggaran untuk menghadirkan jembatan untuk masyarakat sebelah Wae Musur.
"Sudah beberapa kali APBD Matim intervensi di Wae Musur berupa crossway, namun ketika hujan turun pasti rusak lagi. Artinya, mereka tidak mengkaji dengan baik tentang debit sungai dan kekuatan dana yang akan diserap untuk bikin crossway. Itu menghambur-hamburkan uang APBD. Semisal di Nanga Lanang, tekanan dan debit air sungai saat hujan tidak mungkin bertahan lama itu crossway. Tolonglah Pemda Matim harus serius buka akses kesana," tandasnya.
![]() |
| Gundisalvus Ndarung tokoh muda Manggarai Timur |
Menurutnya ada tiga titik utama yang sangat diperlukan masyarakat sebelah Wae Musur, yang pertama di jalur Purang Mese desa Compang Ndejing menuju desa Bea Ngencung, yang kedua penyebrangan Golo Mongkok Watu Mori menuju desa Lalang dan ketiga menuju desa Golo Ros.
"Di Watu Mori menuju desa Lalang itu sudah ada jembatan harus bangun jalan yang tembus jangan dibiarkan terbengkelai. Sedangkan menuju desa Golo Ros itu tiang penopang tengah jembatan itu sudah hampir patah. Sudah terjadi kemiringan. Tidak layak lagi. Kasihan warga yang melintas,"tambahnya.
Ia mengajak masyarakat agar tetap aktif memposting fakta terkait ketertinggalan itu dan aktif juga menyampaikan fakta itu kepada para anggota dewan dari dapilnya.
"Semoga pemda manggarai timur serius memikirkan nasib rakyat sebelah wae musur,"tutupnya.
Di sisi lain wakil bupati Manggarai Timur Tarsy Sjukur berjanji akan segera memperbaiki kerusakan tersebut setelah debit air sungai turun.
"Penanganan baru bisa dilakukan setelah air surut. Kami berharap debit air segera turun agar akses bisa segera diperbaiki,"
BACA JUGA
Kerap Disoroti, Mengapa Jembatan Wae Musur Tak Kunjung Dibangun?
Di Ruteng Nenek Agatha Lilus Dituntut Anaknya Sendiri Lantaran Warisan
Dana Puluhan Juta Milik Wisatawan Digunakan untuk Judi Online oleh Itok Aman




%20(1)%20(1)%20(1).webp)


