![]() |
| 𝘍𝘰𝘵𝘰: 𝘔𝘢𝘳𝘵𝘪𝘯𝘶𝘴 𝘛𝘢𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘭𝘢 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘭𝘶𝘢𝘯𝘨. 𝘒𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘮𝘣𝘦𝘳 𝘬𝘦𝘬𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘶𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘣𝘥𝘪𝘢𝘯 / Sumber Foto Facebook Martinus Tatu 𝘖𝘭𝘦𝘩: 𝘈𝘭𝘧𝘳𝘪𝘥𝘶𝘴 𝘔. 𝘈𝘳𝘥𝘪𝘦 |
𝑆𝑒𝑎𝑛𝑑𝑎𝑖𝑛𝑦𝑎 𝑏𝑒𝑠𝑜𝑘 𝑑𝑜𝑘𝑡𝑒𝑟 𝑏𝑖𝑙𝑎𝑛𝑔: "𝐵𝑎𝑝𝑎𝑘/𝐼𝑏𝑢 𝑘𝑒𝑛𝑎 𝑘𝑎𝑛𝑘𝑒𝑟 𝑠𝑡𝑎𝑑𝑖𝑢𝑚 𝐼𝐼𝐼"... 𝐴𝑝𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝐵𝑎𝑝𝑎𝑘/𝐼𝑏𝑢 𝑙𝑎𝑘𝑢𝑘𝑎𝑛? 𝑀𝑒𝑛𝑦𝑒𝑟𝑎ℎ? 𝑀𝑎𝑟𝑎ℎ? 𝐴𝑡𝑎𝑢 𝑏𝑒𝑟𝑡𝑎ℎ𝑎𝑛? 𝑀𝑎𝑟𝑡𝑖𝑛𝑢𝑠 𝑇𝑎𝑡𝑢 𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ 𝑑𝑖 𝑡𝑖𝑡𝑖𝑘 𝑖𝑡𝑢. 𝐷𝑎𝑛 𝑖𝑛𝑖𝑙𝑎ℎ 𝑗𝑎𝑤𝑎𝑏𝑎𝑛𝑛𝑦𝑎...
𝑪𝒐𝒏𝒈𝒌𝒂𝒔𝒂𝒆.𝑪𝒐𝒎. 𝑩𝒂𝒍𝒊 - Martinus Tatu, biasa disapa Martin. Kehidupan saya tidak dimulai dari kemudahan. Sejak kecil, saya telah kehilangan ayah yang berpulang ke pangkuan Sang Pencipta, meninggalkan saya dalam perjuangan seorang ibu yang penuh ketabahan. Dengan segala keterbatasan, ibu berjuang menyekolahkan saya hingga lulus Sekolah Menengah Atas.
Dengan tekad mengubah nasib, saya merantau ke Bali. Tuhan membuka jalan; saya diterima bekerja di sebuah hotel di kawasan Kuta. Tahun demi tahun saya jalani dengan penuh kesetiaan, hingga akhirnya Tuhan mempertemukan saya dengan seorang wanita yang kemudian menjadi istri saya. Setelah beberapa tahun menjalin hubungan, kami menikah pada tahun 2010.
Awal pernikahan kami dipenuhi kebahagiaan sederhana. Kami menanti kehadiran seorang anak, dan doa itu akhirnya terjawab. Istri saya hamil, dan kebahagiaan kami terasa sempurna. Namun, di tengah kebahagiaan itu, ujian datang perlahan.
Saya mulai mengalami pusing hebat, penglihatan kabur, gangguan tenggorokan, dan telinga berdengung. Awalnya saya mengabaikan gejala tersebut. Hingga akhirnya saya memeriksakan diri dan dirujuk ke RSU Sanglah. Setelah menjalani biopsi, dokter menyampaikan vonis yang mengguncang: kanker nasofaring stadium III.
Dunia saya runtuh seketika. Saya diliputi ketakutan, amarah, dan keputusasaan. Bahkan sempat terlintas keinginan untuk mengakhiri hidup. Namun, bayangan istri yang sedang hamil tua membuat saya bertahan. Saya hanya memohon satu hal kepada Tuhan agar diberi waktu untuk melihat anak saya lahir.
Seiring waktu, kondisi saya memburuk. Pengobatan yang mahal dan tidak terjangkau membuat saya hampir menyerah. Saya pulang ke kos dalam keadaan pasrah, menunggu ajal. Dalam kondisi itu, saya kembali mendekat kepada Tuhan. Doa saya berubah, bukan lagi meminta kesembuhan, melainkan pengampunan.
Di tengah situasi tersebut, anak pertama kami lahir. Tangisnya menjadi titik balik dalam hidup saya. Saya sadar bahwa saya harus berjuang.
Tuhan kemudian mengirimkan pertolongan melalui orang-orang baik yang membantu saya mendapatkan akses pengobatan melalui JAMKESMAS. Saya menjalani enam kali kemoterapi dan 35 kali radioterapi. Sebagian besar proses itu saya jalani seorang diri. Dalam kesendirian di ruang perawatan, saya membaca Alkitab, berdoa, dan menemukan kekuatan baru. Dukungan doa dari ibu di kampung dan istri saya menjadi sumber kekuatan yang tak ternilai.
Perlahan, saya mulai berdamai dengan keadaan. Pengobatan selesai pada Juni 2012. Dari tujuh teman seperjuangan di ruang perawatan, semuanya meninggal dunia. Saya menjadi satu-satunya yang bertahan. Hal itu menyadarkan saya bahwa hidup ini adalah anugerah.
Setelah sembuh, tantangan baru muncul: membangun kembali kehidupan. Dengan kondisi fisik yang belum sepenuhnya pulih, saya mulai bekerja secara freelance. Istri saya berperan besar dalam menjaga kestabilan ekonomi keluarga.
Hal yang paling saya syukuri adalah, selama masa sulit tersebut, kami tidak berutang kepada siapa pun. Tuhan mencukupkan kebutuhan kami dengan cara-Nya.
Kini, lebih dari sepuluh tahun telah berlalu. Saya hidup sehat, baik secara jasmani maupun rohani. Pengalaman ini bukan untuk menunjukkan kekuatan saya, melainkan menjadi kesaksian atas kasih dan penyertaan Tuhan.
Kisah ini adalah ungkapan syukur kepada Allah yang tidak pernah meninggalkan saya, bahkan di titik terendah kehidupan. Semoga kisah ini menjadi harapan bagi siapa pun yang sedang berjuang dalam kegelapan.
Tulisan ini merupakan kisah nyata seorang sahabat yang pernah dimuat di media pada tahun 2019, dan dituliskan kembali sebagai kesaksian hidup.
Editor : Teofilus Jom




%20(1)%20(1).webp)

