- -->
  • Jelajahi

    Copyright © Congkasae.com
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Pesta Sambut Baru di Manggarai Berujung Ricuh Seorang Warga Dilaporkan Meninggal Dunia

    Penulis: Antonius Rahu | Editor:Tim Redaksi
    20 September, 2026, 07:30 WIB Last Updated 2026-09-20T03:00:55Z
    Post ADS 1
    Post ADS 1
    Pesta Sambut Baru di Manggarai Berujung Ricuh Satu Warga Dilaporkan Meninggal
    Aparat kepolisian ketika menangani masalah kericuhan pesta sambut baru di Timung Foto Humas Polres Manggarai

    Setiap persoalan hendaknya diselesaikan melalui jalur hukum dan komunikasi yang baik, bukan dengan tindakan kekerasan atau aksi balasan-Kapolres Manggarai

     [Congkasae.com/Kereba] Jumat, 18 September 2026, seharusnya menjadi hari sukacita bagi keluarga-keluarga di wilayah Paroki Timung, Kecamatan Wae Rii, Kabupaten Manggarai.


    Sebanyak 20 siswa kelas V sekolah dasar menerima Komuni Suci Pertama dalam perayaan Sambut Baru di Gereja Paroki Timung sekitar pukul 09.00 WITA.


    Namun, beberapa jam kemudian, suasana sukacita itu berubah menjadi duka.


    Sekitar pukul 20.00 WITA, perkelahian terjadi di jalan raya, tepat di depan kemah pesta milik seorang warga berinisial A.J. 


    Polisi menyebut perkelahian tersebut melibatkan kelompok warga Kampung Timung, Desa Golo Cador, dengan kelompok warga Kampung Wohe, Desa Bangka Jong.


    Kasihumas Polres Manggarai AKP Gusti Putu Sabanugraha mengatakan berdasarkan informasi awal yang diterima kepolisian, sebagian warga yang terlibat dalam perkelahian tersebut diduga dalam kondisi dipengaruhi minuman keras setelah mengonsumsi miras saat mengikuti pesta.


    "Setelah perkelahian, kelompok warga dari Kampung Timung kembali ke kampung mereka. Setibanya di kampung, Benediktus Paang (19) mengeluhkan sakit pada bagian kepala dan perut."kata Putu, Sabtu 19 September 2026.


    Ia mengatakan pada Sabtu (19/9/2026) sekitar pukul 07.00 WITA, keluarga membawa korban ke Puskesmas Timung untuk mendapatkan pertolongan medis. 


    Namun, berdasarkan pemeriksaan petugas medis, korban dinyatakan telah meninggal dunia sebelum tiba di fasilitas kesehatan tersebut.


    Kematian Benediktus kemudian memunculkan persoalan baru. Sekitar 100 warga Kampung Timung mendatangi rumah seorang warga Kampung Wohe desa Bangka Jong berinisial I.R. (45) yang diduga berkaitan dengan peristiwa kericuhan tersebut.


    I.R. disebut berhasil menyelamatkan diri. Namun, rumahnya mengalami kerusakan berat dan empat sepeda motor yang berada di depan rumah tersebut dibakar massa.


    Polisi yang menerima laporan tersebut langsung dikerahkan ke lokasi untuk meredam aksi massa yang lebih luas.


    Kasihumas Polres Manggarai AKP Gusti Putu Sabanugraha mengatakan polisi langsung mengamankan lokasi kejadian serta penggalangan terhadap masyarakat di kedua kampung guna mencegah terjadinya aksi susulan.


    Ia mengatakan polisi juga melibatkan tokoh masyarakat dan tokoh adat dari kedua kampung,"untuk bersama-sama meredam emosi warga dan menjaga situasi tetap aman,"katanya.


    Ia mengatakan polisi menyarankan keluarga korban untuk membawa jasad korban ke RSUD Ruteng untuk mengetahui penyebab pasti kematian korban.


    Hasil pemeriksaan medis terhadap jenazah ditemukan sejumlah tanda pada tubuh korban, di antaranya benjolan dan lecet pada bagian pelipis kiri, lecet pada bagian perut sebelah kiri, bercak darah pada gusi, pembengkakan pada bagian dada, luka lecet di bawah payudara sebelah kanan serta bekas luka pada siku tangan kanan.


    Saat ini jenazah korban telah dibawa kembali ke kampung halamannya untuk disemayamkan.

    Jenazah Benediktus ketika disemayamkan di rumah duka Foto Facebook Tetyk Hadur
    Jenazah Benediktus ketika disemayamkan di rumah duka Foto Facebook Tetyk Hadur


    Kapolres Manggarai AKBP Levi Defriansyah menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Benediktus sekaligus meminta masyarakat tidak melakukan tindakan main hakim sendiri maupun aksi balasan.


    “Kami mengajak seluruh pihak untuk menahan diri, menjaga keamanan bersama dan menyerahkan proses hukum kepada kepolisian. Setiap persoalan hendaknya diselesaikan melalui jalur hukum dan komunikasi yang baik, bukan dengan tindakan kekerasan atau aksi balasan,"katanya.


    Hingga Sabtu, situasi di Kampung Timung, Desa Golo Cador, dan Kampung Wohe, Desa Bangka Jong, terpantau kondusif. 


    Polres Manggarai menyatakan masih mendalami pihak-pihak yang diduga terlibat serta rangkaian peristiwa yang menyebabkan korban meninggal dunia.


    Bukan Kasus Pertama di Manggarai Raya

    Kasus kericuhan dalam perayaan pesta sambut baru bukan yang pertama terjadi. Sebelumnya pada September 2023, pesta Sambut Baru di Kampung Wae Paci, Desa Golo Mangung, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, juga berujung maut.

    Pesta Sambut Baru di Manggarai Berujung Ricuh Seorang Warga Dilaporkan Meninggal Dunia


    Saat itu, Aloysius Ali (68) meninggal dunia setelah terjadi perkelahian antarkelompok. Tiga orang lainnya mengalami luka serius.


    Kapolsek Lamba Leda ketika itu menyebut perkelahian diduga dipicu konsumsi minuman beralkohol jenis sopi dan tuak putih.


    Kasus tersebut bahkan mendapat respons dari pihak gereja setelah Vikaris Episkopal Borong Romo Simon Nama mengeluarkan pernyataan usai insiden tersebut.


    Romo Simon Nama kala itu mengatakan telah mengimbau umat di wilayahnya untuk tidak merayakan pesta sambut baru secara berlebihan namun tak direspons umatnya.


    “Kami sudah melarang pesta foya-foya itu, tetapi umat sering tetap melakukan pesta,” katanya kepada Floresa.co.


    Bahan Pembelajaran Bersama

    Di tengah duka keluarga Benediktus, ada persoalan yang lebih besar yang harus dijaga masyarakat.


    Warga Kampung Timung dan Kampung Wohe tetap akan hidup berdampingan setelah kasus ini selesai. 


    Hubungan keluarga, hubungan sosial dan kehidupan sehari-hari tidak otomatis berakhir hanya karena terjadi sebuah perkara pidana.


    Karena itu, proses hukum dan upaya menjaga perdamaian masyarakat harus berjalan bersamaan.


    Keluarga korban berhak mendapatkan kejelasan mengenai apa yang terjadi pada Benediktus.


    Pihak yang dituduh atau diduga terlibat juga berhak mendapatkan proses hukum yang adil dan tidak dihukum oleh massa sebelum pembuktian selesai.


    Di sisi lain, kerusakan rumah dan pembakaran kendaraan juga merupakan persoalan hukum yang tidak boleh dianggap sebagai konsekuensi wajar dari kemarahan warga.


    Bagi warga Kampung Timung dan Kampung Wohe, peristiwa ini menjadi ujian untuk memastikan bahwa kemarahan tidak melahirkan korban berikutnya.


    Dan bagi masyarakat Manggarai secara lebih luas, kasus ini kembali menghadirkan pertanyaan mengenai bagaimana tradisi pesta syukuran dapat tetap dipertahankan tanpa membuka ruang bagi kekerasan apalagi sampai menimbulkan korban jiwa.


    BACA JUGA

    Tradisi Pesta di Manggarai Masa Lampau, Dari Cassette Pita Hingga Lampu Petromax


    Dari Gempa 1992 ke 2026: Pelajaran Masyarakat Flores tentang Bangunan, Korban Jiwa dan Resiliensi Bencana


    Gunung Nampar Nos Aktif Lagi, Warga Dilarang Mendekat

    Komentar

    Tampilkan

    Bersama Menjaga Warisan Kita

    Dukung Congkasae agar terus hidup dan tumbuh sebagai suara budaya Manggarai.

    Kenapa Kami Butuh Dukungan?

    Congkasae.com hidup dari semangat dan cinta pada budaya. Tapi kami juga perlu dana untuk membayar penulis lokal, mengembangkan situs, dan mendokumentasikan cerita-cerita budaya kita.

    Donasi Sekali atau Rutin

    Atau transfer langsung:

    • BRI 472001001453537 (a.n. Congkasae)
    QRIS

    Pasang Iklan atau Kerja Sama

    Kami membuka kerja sama dengan UMKM, NGO, sekolah, atau pemerintah daerah untuk iklan, pelatihan, dan proyek kolaboratif.

    Kontak Kami Langsung

    Kata Mereka

    "Saya senang bisa mendukung media yang memperjuangkan akar budaya Manggarai." – Julius, diaspora di Jakarta
    "Congkasae adalah media yang dekat dengan hati kami di Manggarai." – Frans, guru di Ruteng