Ruas jalan paang leleng-wukir Manggarai Timur yang berstatus jalan provinsi tapi bernasib Apes - Congkasae.com

News Update

08 September, 2016

Ruas jalan paang leleng-wukir Manggarai Timur yang berstatus jalan provinsi tapi bernasib Apes


 
salah satu kendaraan yang melewati ruas jalan paang leleng-wukir
 
"Sejak jaman pemerintahan Gaspar P.Ehok  ruas jalan Paang leleng-wukir tidak pernah di sentuh lagi baik di bawah pemerintahan Drs.Antony Bagul, Drs.Christian Rotok maupun bupati dua periode Manggarai timur Drs.Yosep Tote."
Oleh: Antonius Rahu
Kecamatan Elar  merupakan salah satu kecamatan yang berbatasan langsung dengan wilayah kabupaten Ngada. Kecamatan ini memiliki komoditas pertnian unggulan sebut saja kopi, cegkeh, kemiri, kakao, padi dan merupakan areal persawahan terbesar di manggarai timur (sawah Gising). Dengan mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani, daerah ini merupakan surganya komoditas pertanian dengan kualitas unggulan. 

Berton-ton hasil pertanian yang selama ini menjadi kebanggaan pemerinta kabupaen Manggarai timur salah satunya bersumber dari kecamatan yang satu ini. Namun ada pemandangan berbeda yang saya temukan  Sebagai masyarakat yang berbatasan langsung dengan kecamatan Elar terutama Elar selatan saya menyaksikan sendiri penderitaan masyarakat Elar selatan. 

Melihat kondisi jalan Pa,ang leleng-Wukir yang amat sangat memperihatinkan dan sangat tidak layak di sebut sebagai jalan raya, apa lagi katanya status jalan ini sebagai Jalan provinsi saya pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Pasalnya jalan Pa,ang leleng-Wukir yang katanya jalan provinsi ini tidak layak di gunakan dengan kondisi jalan yang 100 persen rusak total menjadi satu-satunya ruas jalan yang menghubungkan kota Borong ibukota kabupaten Manggarai Timur dengan Elar selatan (wukir). Saya menyaksikan bagaimana penderitaan masyarakat Elar selatan di atas bus kayu atau yang sering di sebut Oto kol, ada ratusan orang dengan berbagai kepentingan merasakan bagaimana sensasinya melewati ruas jalan ini. Mata saya berkaca-kaca tidak kuat menahan tangisan mendengar pengakuan warga kampung Mbata. 

Kabarnya, pernah terjadi kejadian ada pasien dari Mamba seorang ibu yang hendak partus namun Puskesmas Mamba merujuknya ke Ruteng. Namun sayang nyawa sang ibu hanya bertahan sampai di Tukeng kera (salah satu tanjakan yang sangat membahayakan sebelum memasuki kampung Mbata) pasalnya kendaraan Ambulance yang digunakan untuk menghantarkan  Ibu tersebut mogok karena kondisi jalan yang licin. 

Nyawa Ibu tersebutpun tak tertolong. Itu merupakan satu dari sekian kasus yang cukup menyayat hati. Maklum sejak jaman pemerintahan Gaspar P.Ehok  ruas jalan tersebut tidak pernah di sentuh lagi baik di bawah pemerintahan Drs.Antony Bagul, Drs.Christian Rotok maupun bupati dua periode Manggarai timur Drs.Yosep Tote. 

Pada pertengahan 2010 silam memang pernah di lakukan pelebaran ruas jalan sepanjang jalur ini, namun hanya dilakukan penggusuran yang hanya memperparah kerusakan ruas jalan. Sampai saat ini tidak ada kabar yang pasti kapan akan di lanjutkan lagi pengerjaanya. Di beberapa media cetak maupun media online lokal saya membaca argumentasi pejabat di pemerintahan Manggarai timur. Ketika di Tanya sejumlah wartawan tentang nasib ruas jalan Paang leleng-wukir, PEMKAB manggarai timur berdalih bahwasanya ruas jalan tersebut berstatus jalan Provinsi NTT. 

Oleh karena itu PEMKAB manggarai timur tidak bisa mengintervensi. Pertanyaan saya selanjutnya adalah; Apakah masyarakat yang bertahun-tahun terisolir karena ruas jalan yang tidak layak digunakan membayar pajak ke Pemerintah provinsi NTT? Apakah pajak retribusi hasil bumi yang di pasarkan ke berbagai daerah selama ini di ambil oleh pemerintah provinsi NTT? 

Apakah masyarakat Elar selatan bukan masyarakat manggarai timur? Sebagai wilayah yang berbatasan dengan kabupaten Ngada warga Elar selatan merasa berkecil hati dan sedikit minder melihat kondisi jalan di kabupaten Ngada yang sangat bagus. 

Sementara di Elar selatan kondisinya sangat memperihatinkan. Sebenarnya ada beberapa opsi yang bisa di ambil oleh Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur untuk mengatasi masalah ini yakni
 Pertama ubah strategi pembangunan.
Seharusnya fokus pembangunan harus dimulai dari desa ke perkotaan apa lagi mengingat kecamatanElar merupakan daerah yang menjadi geranda terdepan, karena berbatasan langsung dengan wilayah kabupaten Ngada jangan sampai masyarakat memasarkan hasil pertanian mereka ke tetangga sebelah. Karena itu akan mengurangi pundi-pundi Rupiah yang masuk ke kantong PAD pemerintahan kabupaten Manggarai Timur yang berujung pada kerugian yang di tanggung oleh pemerintah kabupaten Manggarai Timur.
Hubungi kami di WA 082342994060 untuk pemasangan Iklan
Kedua, lakukan komunikasi yang lebih intensif dengan masyarakat
Seperti yang dilakukan oleh presiden Joko Widodo pendekatan komunikasi telah terbukti sangat efektif dan ini bisa di lakukan oleh Pemerintah kabupaten Manggarai Timur dengan kata lain, pemerintah harus lebih intensif lagi turun ke daerah mengadakan sosialisasi sekaligus menjelaskan alasan mengapa jalan yang katanya berstatus jalan Provinsi itu tidak kunjung di perbaiki, untuk menghindari kesalah-pahaman antara warga dengan pemerintah. 

Apa lagi di salah satu media lokal warga Elar selatan pernah menuding Pemerintahan Yosep Tote berbohong soal perbaikan jalan Paang leleng-Wukir. Sebenarnya ini merupakan bentuk kekesalan mereka terhadap kinerja pemerintahan Manggarai Timur. Lakukan komunikasi yang lebih intesif lagi untuk meluruskan masalah ini.
Hubungi kami di WA 082342994060 untuk pemasangan Iklan
Ketiga, lakukan Penghematan Anggaran
pengetatan anggaran belanja pegawai dan perjalanan dinas di PEMKAB manggarai timur yang akhir-akhir ini menjadi sorotan public harus benar-benar di gunakan seefektif mungkin. Jika diperlukan anggaran belanja yang tidak perlu di cut dan di alihkan ke pambangunan yang nantinya langsung dapat di rasakan oleh masyarakat luas seperti warga Elar selatan.Pemerintah kabupaten manggarai timur bisa saja melakukan intervensi terhadap perbaikan jalan ini jangan pernah menunggu bantuan dari provinsi datang.

Penulis : mahasiswa Tahun ke empat jurusan pendidikan Matematika  IKIP PGRI Bali
Artikel ini sudah pernah di terbitkan di media online Floreseditorial.com edisi 12 september 2016

No comments:

Post a Comment