Ketika Pohon uang tidak lagi menghasilkan uang - Congkasae.com

News Update

07 September, 2016

Ketika Pohon uang tidak lagi menghasilkan uang

Bapa dan Mama tercinta
                                                         Oleh Antonius Rahu
Masih teringat dengan jelas di memori ku pada pertengahan bulan-bulan agustus sampai akhir september belasan tahun silam. Kedua orang tua ku sibuk memetik butiran-butiran yang berwarna merah merona. Pagi hari merupakan waktu yang tepat bagi saya dan adik perempuan christin untuk mendengarkan tugas yang harus di kerjakan sepulang sekolah
.

Bukan hanya saya yang mengalami ini ada ratusan anak-anak petani kopi lainya juga merasakan hal yang sama, dentuman Lesung terdengar di pagi hari, bukan hanya itu hiruk pikuk warga kampung Leda mbata kota komba manggarai timur dengan terpal dan tikar besarnya untuk menjemur butiran merah merona seoalah menceritakan kepada kita  bahwa yaaa.....!! musim panen kopi Robusta telah tiba. Kopi Robusta merupakan komoditas unggulan yang menjadi sandaran hidup kedua orang tuaku dan juga warga kampung Leda lainya.

Terlahir dari anak seorang petani kopi, masa kecil saya dan adik perempuan ku pun terisi oleh beberapa kegiatan-kegiatan yang rutin dilakukan selama musim panen datang, sepualang sekolah saya biasanya di tugaskan untuk menelusuri jalan setapak wae siko yang penuh dengan tanjakan bagaikan bukit Golgota.

Tujuanya adalah mengikuti Bapak  dan ibu memetik butiran-butiran merah merona dan konon katanya kedua orang tua saya menamainya dengan Pohon uang, yaaa.... dinamakan demikian karena biji-biji kopi yang di petik tersebut memiliki nilai jual dan bisa menyekolahkan saya dan adik perempuan saya Christin. Senja pun tiba saya dan kedua orang tua yang seharian berada di kebun kopi akan kembali ke kampung halaman, ada beban yang sudah menunggu untuk di pikul pulang ke rumah yakni biji kopi  yang baru di petik.

Kenapa saya sebut beban?, karena berat sekali apalagi di tambah dengan tanjakan bukit yang sangat terjal bagaikan bukit Golgota. Tapi saya tidak pernah protes karena ibu saya selalu berpesan jika saja kopi ini tidak kamu bawah pulang maka sekolahmu pun akan berhenti, meskipun itu hanya ancaman. Belasan tahun silam sudah berlalu dan sekarang kebiasaan itu terus di lakukan secara terus menerus bagi seorang petani kopi seperti kedua orang tua saya. Kopi merupakan satu-satunya sandaran hidup dan sumber penghasilan bagi penduduk desa dan juga warga kampung Leda.

Dari kopi yang yang di petik dan melewati proses yang sangat panjang dan sangat melelahkan, mengalirlah Rupiah yang di pakai untuk memenuhi kebutuhan hidup sebut saja acara batang anak rona, kelas/pesta kenduri, laki/menkahkan saudara atau kerabat termasuk menyekolahkan anak seperti saya.
biji Kopi Robusta yang siap di petik
Tapi sayangnya kekeringan yang melanda daerah manggarai timur di tahun 2015 telah berdampak pada Pohon uang milik bapak saya dan juga warga kampung Leda. Tahun ini pohon uang tersebut tidak lagi menghasilkan apa-apa. Hanya daun kopi saja yang terlihat sementara biji-biji kopi yang seharusnya di panen seperti saat-saat sekarang tidak terlihat. Keresahan dan Kekesalan nampak dalam raut wajah Ibu saya dan petani kopi lainya.

Pasalnya Pohon uang yang sejak lama menjadi sandaran hidup warga kampung Leda tidak bisa di panen untuk tahun ini, sementara pengeluaran seperti batang anak rona tidak pernah berhenti biaya pendidikan anak pun menjadi hal yang wajib di penuhi. Apakah petani kopi seperti bapak saya dan warga kampung Leda lainya masih mengharapkan Pohon uang sebagai satu-satunya sumber pemasukan utama? Pertanyaan ini yang selama ini terus terngiang di benak saya, pasalnya masyarakat kampung Leda dan petani kopi lainya di manggarai timur terlalu terlanjur merasa nyaman dengan pohon uang.

Pohon uang menjadi satu-satunya andalan pengahsilan, pada hal, jika dilihat dari kondisi alamnya yang sangat subur, daerah manggarai timur termasuk kampung Leda sangat cocok untuk ditanami tanaman lain yang memiliki usia panen yang singkat dan memiliki nilai ekonomis tinggi. Sebut saja sayur-sayuran, kacang-kacangan dan lain sebagainya yang bisa di pasarkan ke pasar-pasar lokal di Borong di Ruteng atau bahkan di Labuan bajo. Faktanya hampir 70 persen sayuran yang di pasarkan di pasar Borong di datangkan dari Ruteng ini harus di manfaatkan seharusnya.

Belajar Ke Kampung Kenda Manggarai Tengah
Para petani Kopi di kampung Leda dan Mbata pada umumnya harus membuka mata dan banyak belajar ke warga kampung Kenda manggarai tengah, pasalnya di kampung ini, hampir 90 persen warganya berprofesi sebagai petani sayur, dan menyumbang hampir 75 persen sayur-mayur yang di pasarkan di pasar Ruteng.

pada hal jika dilihat dari kondisi tanah yang saya lihat, hal tersebut sangat tidak memungkinkan dengan kondisi tanah liat merah yang lengket di musim hujan akan tetapi masyarakatnya kreatif dan, punya inovasi untuk bisa bersaing. Hasilnya saya amati sendiri kesejahteraan mereka sangat jauh bila dibandngkan dengan warga kampung Leda. Sementara warga kampung Leda dengan kondisi tanah yang sangat subur masih mengharapkan Pohon Uang sebagai sumber pemasukan utama. Pohon Uang yang tahun ini sedang Ngambek.

Salam.......

No comments:

Post a Comment