Belis di Manggarai Bentuk Penghargaan Terhadap Perempuan Atau Human Traficking?? - Congkasae.com

News Update

07 September, 2016

Belis di Manggarai Bentuk Penghargaan Terhadap Perempuan Atau Human Traficking??


Budaya belis adalah salah satu bagian dari warisan budaya yang ada di manggarai raya. Namun warisan yang mahaluhur itu mendapat sorotan yang begitu tajam dari masyarakat yang sedang bergulat dengan budayanya sendiri.


Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/che_1/belis-di-manggarai-flores-barat_5518bcfca333119a10b6592e

Budaya belis adalah salah satu bagian dari warisan budaya yang ada di manggarai raya. Namun warisan yang mahaluhur itu mendapat sorotan yang begitu tajam dari masyarakat yang sedang bergulat dengan budayanya sendiri.


Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/che_1/belis-di-manggarai-flores-barat_5518bcfca333119a10b6592e

Budaya belis adalah salah satu bagian dari warisan budaya yang ada di manggarai raya. Namun warisan yang mahaluhur itu mendapat sorotan yang begitu tajam dari masyarakat yang sedang bergulat dengan budayanya sendiri.


Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/che_1/belis-di-manggarai-flores-barat_5518bcfca333119a10b6592e

Budaya belis adalah salah satu bagian dari warisan budaya yang ada di manggarai raya. Namun warisan yang mahaluhur itu mendapat sorotan yang begitu tajam dari masyarakat yang sedang bergulat dengan budayanya sendiri.


Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/che_1/belis-di-manggarai-flores-barat_5518bcfca333119a10b6592e

Budaya belis adalah salah satu bagian dari warisan budaya yang ada di manggarai raya. Namun warisan yang mahaluhur itu mendapat sorotan yang begitu tajam dari masyarakat yang sedang bergulat dengan budayanya sendiri.


Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/che_1/belis-di-manggarai-flores-barat_5518bcfca333119a10b6592e

Budaya belis adalah salah satu bagian dari warisan budaya yang ada di manggarai raya. Namun warisan yang mahaluhur itu mendapat sorotan yang begitu tajam dari masyarakat yang sedang bergulat dengan budayanya sendiri. 


Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/che_1/belis-di-manggarai-flores-barat_5518bcfca333119a10b6592e

"ketika budaya belis di susupi oleh faktor ekonomi, maka tujuan luhur dari belis itu tergantikan oleh kalkulasi dagang (hitung-hitungan untung rugi) yang dilakukan oleh pihak anak rona sehingga belis pun mengalami peningkatan dan tak jarang belis menjadi ajang jual beli anak perempuan"

Berbicara tentang perkawinan di manggarai maka kita akan mendengar sebuah istilah yang sudah tidak asing di telinga kita yakni mas kawin atau yang sering di sebut Belis ada juga yang menyebutnya dengan istilah paca/pasa (manggarai timur). 


Kata“belis” adalah sebuah istilah dalam  budaya Manggarai yang tidak bisa dipisahkan dari ritual adat (sakral) Manggarai dalam proses perkawinan, selain proses nikah menurut konsep agama. 

Karena dalam budaya manggarai menganut sistem budaya patrilineal (mengikuti garis keturunan ayah), maka sudah barang tentu mas kawin adalah salah satu bentuk penghargaan dan penghormatan terhadap keluarga kaum perempuan. 


Jika dilihat asal muasal kata “belis” ini, dapat disimpulkan bahwa sebuah acara yang bermaksud membudayakan penghargaan terhadap perempuan dan perkawinan itu sendiri. 

Tak ada catatan tertulis sejak kapan kebiasaan ini dimulai. Tetapi Guru Besar Sosiologi Universitas Indonesia (UI), Robert M.Z Lawang mengatakan, tradisi ini bermula dari wabah penyakit cacar  yang melanda Manggarai pada era 1930-an. 

Penyakit ini, kala itu, tergolong penyakit mematikan. Setiap hari, kata Robert, banyak korban berjatuhan. Sampai-sampai, orang tidak mau menguburkan jenazah karena takut tertular. Populasi orang Manggarai saat itu, menurun drastis. 

Dalam situasi seperti ini, perempuan dianggap sebagai benih (ni’i) berharga yang bisa melanjutkan dan mempertahankan keberadaan keluarga (wa’u).

Perkawinan dalam adat dan budaya Manggarai belumlah valid jika proses pernikahan hanya sampai diproses nikah agama, lalu disempurnakan oleh ritual korban (material) berupa belis yang wajib dipenuhi oleh pihak laki-laki. 

Padahal sejatinya, belis diberlakukan untuk menghargai kedua pihak. Baik pihak keluarga laki-laki maupun pihak keluarga perempuan berjumpa dengan “penghargaan tertinggi” yaitu cinta lewat ritual belis. 

Tetapi maknanya bukan barter. Sebab belis merupakan awal pertalian kekeluargaan yang terjalin antara kedua pihak keluarga yang tersirat dalam ungkapan "salang wae toe salang tuak" istilah ini menggambarkan hubungan kedua keluarga besar dari pihak perempuan (anak rona) dengan keluarga besar dari pihak laki-laki (anak wina) akan terus berlanjut. 

Pada jaman dahulu jika keluarga besar pihak laki-laki tidak mampu memenuhi permintaan anak rona, maka terdapat dua pilihan yang dapat di ambil oleh pihak anak wina yakni laki-laki hanya boleh tinggal di keluarga pihak perempuan sampai tuntutan belis terpenuhi.

Pilihan kedua adalah boleh membayar seberapa adanya tapi dengan catatan sisanya akan di bayar atau di penuhi secara bertahap oleh pihak anak wina dalam bentuk sida atau batang dari anak rona ke pihak anak wina jika suatu saat ada upacara adat yang di selenggarakan di keluarga besar pihak perempuan (anak rona)  dari sinilah lahir istilah "wae teku tedeng". 

Namun di era modern sekarang ini, budaya ini mengalami pergeseran. Makna budaya belis yang dulunya sebagai bentuk penghargaan kepada pihak perempuan kini menjadi momok tersendiri bagi generasi muda Manggarai yang hendak menikah. 

Modal cinta, rasa kasih sayang, suka sama suka tidaklah cukup untuk membawa hubungan ke plaminan, akan tetapi untuk melengkapi itu semua adalah persiapan material yang kemudian dimaknai dengan kata belis. Atau singkatnya model itu tidak cukup tetapi harus dibarengi dengan modal.

Ketika budaya belis di susupi oleh faktor ekonomi, maka tujuan luhur dari belis itu tergantikan oleh kalkulasi dagang (hitung-hitungan untung rugi) yang dilakukan oleh pihak anak rona sehingga belis pun mengalami peningkatan dan tak jarang belis menjadi ajang jual beli anak perempuan. 

Hal ini di buktikan dengan upaya tawar menawar harga belis dan tak jarang hubungan kedua calon mempelai harus kandas di tengah jalan karena pihak anak wina tidak sanggup membayar tuntutan belis yang di tetapkan oleh pihak anak rona.

Saat ini nilai belis di manggarai ditentukan oleh faktor pendidikan dan status sosial, semakin tinggi pendidikan seorang perempuan, maka nilai belis yang di tetapkan pun akan smakin  besar. 

Sebagai contoh, belis untuk sorang perempuan dengan kualifikasi pendidikan S1 berkisar antara 75 juta - 100 juta. Jika saja pihak anak wina tidak menyanggupinya maka hubungan kedua calon mempelai akan kandas di tengah jalan atau bubar. 

Pertanyaanya ini bentuk penghargaan atau transaksi jual beli anak perempuan? Apakah belis yang sangat amat besar itu berimplikasi terhadap peningkatan ekonomi pihak anak rona?

Melihat fakta yang terjadi sekarang ini harus diakui bahwasanya budaya belis di manggarai telah mengalami pergeseran makna dan itu sangat nyata sekali. 

Yang kedua tidak terdapat variabel yang menghubungkan antara jumlah belis yang di berikan ke pihak anak rona dengan peningkatan kualitas hidup keluarga anak rona. (tetap saja miskin meskipun belis yang di terima bisa mencapai 100 juta). 

Maka pertanyaan berikutnya menjadi bahan refleksi kita adalah ke mana larinya uang belis tersebut? akankah belis di masa depan akan terus mengalami peningkatan? bagaimana seharusnya kita menyikapi maslah ini?
 
Ketika belis di jadikan ajang menunjukan drajat kluarga anak rona, maka nilainya pun tak terbayarkan, oleh anak wina dan cendrung menjerumuskan pihak anak wina ke dalam lingkaran kemiskinan dan kebodohan. 

Suatu sistem budaya dan adat di manggarai yang hingga kini mengalami pergeseran makna dan cendrung di manfaatkan untuk meraup keuntungan. 

Alih-alih mempertahankan budaya, ada maksud terselubung dibaliknya maksud yang menjadikan setiap kaum perempuan di setarakan dengan barang yg memiliki nilai jual tinggi...

inilah realita inilah adat yang terjadi secara terus menerus sampai kapan? dari dulu hingga nanti....kecuali ada kesadran dari setiap generasi mudah manggarai kesadaran untuk mengembalikan budaya belis ke tujuan awal belis itu terbentuk.

Budaya belis adalah salah satu bagian dari warisan budaya yang ada di manggarai raya. Namun warisan yang mahaluhur itu mendapat sorotan yang begitu tajam dari masyarakat yang sedang bergulat dengan budayanya sendiri.


Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/che_1/belis-di-manggarai-flores-barat_5518bcfca333119a10b6592e

4 comments:

  1. Mnurut saya, belis ini memang sudah benar adanya jika dikatakan sudah mengalami pergeseran. Memang belis tidak bisa kita hindarkan, karena belis adalah kewajiban kita kaum lelaki dalam menikahi seorang perempuan Manggarai. Cara yang paling tepat untuk mengatasi hal ini adalah mari kita kaum mudah untuk mengklarifikasikan kepada seluruh elemen masyarakat agar semua masyarakat mengerti dan paham apa makna belis yang sebenarnya. Pada dasarnya orang Manggarai yang hidup di era modernisasi ini tidak memahami apa makna belis yang sebenarnya. Di Manggarai sekarang ini belis dikaitkan dengan tingkat pendidikan seorang perempuan,padahal yang sebenarnya tidak ada kaitanya dengan tingkatan tersebut. Kita menyekolakan anak perempuan itu adalah hal yang wajib dilakukan oleh orang tua pada umumnya di Manggarai, karena anak perempuan Manggarai tidak mendapatkan warisan dari orang tua, nah dengan bersekolah kaum perempuan itu adalah ganti warisan yang dimiliki oleh orang tua kepada anak perempuan, itulah hal yang perlu dilakukan kajian yang mendalam buat kita orang Manggarai. Jika kita mempunyai pola pikir seperti itu maka tidak ada terjadinya pergesan nilai dari Belis ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih sudah berkunjung dan jangan lupa membaca artikel kami yang lainnya

      Delete