manusia kerdil dari liang buah yang kontroversial - Congkasae.com

News Update

18 September, 2016

manusia kerdil dari liang buah yang kontroversial

sketsa wajah manusia kerdil asal flores sumber jurnal nature.com

Homo floresiensis ("Manusia kerdil flores", dijuluki Hobbit) adalah nama yang diberikan oleh kelompok peneliti untuk
spesies dari genus Homo, yang memiliki tubuh dan volume otak kecil, berdasarkan serial subfosil (sisa-sisa tubuh yang belum sepenuhnya membatu) dari sembilan individu yang ditemukan di Liang Bua, Pulau Flores, pada tahun 2001. Kesembilan sisa-sisa tulang itu (diberi kode LB1 sampai LB9) menunjukkan postur paling tinggi sepinggang manusia moderen (sekitar 100 cm).
Para pakar antropologi dari tim gabungan Australia dan Indonesia berargumen menggunakan berbagai ciri-ciri, baik ukuran tengkorak, ukuran tulang, kondisi kerangka yang tidak memfosil, serta temuan-temuan sisa tulang hewan dan alat-alat di sekitarnya Usia seri kerangka ini diperkirakan berasal dari 94.000 hingga 13.000 tahun yang lalu.
Liang Buah, tempat ditemukannya sisa-sisa kerangka ini, sudah sejak masa penjajahan menjadi tempat ekskavasi arkeologi dan paleontologi. Hingga 1989, telah ditemukan banyak kerangka Homo sapiens dan berbagai mamalia (seperti makhluk mirip gajah Stegodon, biawak, serta tikus besar) yang barangkali menjadi bahan makanan mereka. Di samping itu ditemukan pula alat-alat batu seperti pisau, beliung, mata panah, arang, serta tulang yang terbakar, yang menunjukkan tingkat peradaban penghuninya.
Kerja sama penggalian Indonesia-Australia dimulai tahun 2001 untuk mencari jejak peninggalan migrasi nenek moyang orang Aborigin Australia di Indonesia. Tim Indonesia dipimpin oleh Raden Pandji Soejono dari Puslitbang Arkeologi Nasional (dulu Puslit Arkenas) dan tim Australia dipimpin oleh Mike Morwood dari Universitas New England. Pada bulan September 2003, setelah penggalian pada kedalaman lima meter (ekspedisi sebelumnya tidak pernah mencapai kedalaman itu), ditemukan kerangka mirip manusia tetapi luar biasa kerdil, yang kemudian disebut H. floresiensis. Tulang-tulang itu tidak membatu (bukan fosil) tetapi rapuh dan lembap. Terdapat sembilan individu namun tidak ada yang lengkap. Diperkirakan, Liang Bua dipakai sebagai tempat pekuburan. Untuk pemindahan, dilakukan pengeringan dan perekatan terlebih dahulu.
peneliti Mike Morwood di gua Liang Bua, tempat dimana mereka menemukan Homo floresiensis. sumber: nature.com
Individu terlengkap, LB1, diperkirakan adalah betina, ditemukan pada lapisan berusia sekitar 18.000 tahun, terdiri dari tengkorak, tiga tungkai (tidak ada lengan kiri), serta beberapa tulang badan. Individu-individu lainnya berusia antara 94.000 dan 13.000 tahun. Walaupun tidak membatu, tidak dapat diperoleh sisa material genetik, sehingga tidak memungkinkan analisis DNA untuk dilakukan. Perlu disadari bahwa pendugaan usia ini dilakukan berdasarkan usia lapisan tanah bukan dari tulangnya sendiri, sehingga dimungkinkan usia lapisan lebih tua daripada usia kerangka. Pendugaan usia kerangka dengan radiokarbon sulit dilakukan karena metode konservasi tulang tidak memungkinkan teknik itu untuk dilakukan.
Pendapat bahwa fosil ini berasal dari spesies bukan manusia ditentang oleh kelompok peneliti yang juga terlibat dalam penelitian ini, dimotori oleh Prof. Teuku Jacob dari UGM. Berdasarkan temuannya, fosil dari Liang Bua ini berasal dari sekelompok orang katai Flores, yang sampai sekarang masih bisa diamati pada beberapa populasi di sekitar lokasi penemuan, yang menderita gangguan pertumbuhan yang disebut mikrosefali ("kepala kecil"). Menurut tim ini, sisa manusia dari Liang Bua merupakan moyang manusia katai Homo sapiens yang sekarang juga masih hidup di Flores dan termasuk kelompok Australomelanesoid. Kerangka yang ditemukan terbaring di Liang Bua itu menderita microcephali, yaitu bertengkorak kecil dan berotak kecil.
Image result for sejarah penemuan manusia kerdil asal flores
Victor Darung, 83, (kedua dari kanan) dan istri berpose bersama kepala pariwisata Manggarai Valentinus Sene (kanan ) di Rampasasa, Kabupaten Waeri yg mnjadi dasar bagi pemikiran Prof. Teuku Jacob
Perdebatan yang terjadi sempat memanas, bahkan sampai membuat Liang Bua dan beberapa gua di sekitarnya dinyatakan tertutup untuk peneliti asing. Sepeninggal Prof. Jacob (wafat 2007), lokasi penemuan kembali dapat diakses bagi penelitian.
Pada bulan September 2007, para ilmuwan peneliti Homo floresiensis menemukan petunjuk baru berdasarkan pengamatan terhadap pergelangan tangan fosil yang ditemukan. Penemuan tersebut menunjukkan bahwa Homo floresiensis bukan merupakan manusia modern melainkan merupakan spesies yang berbeda. Hal ini sekaligus menjadi jawaban terhadap tentangan sejumlah ilmuwan mengenai keabsahan spesies baru ini karena hasil penemuan menunjukkan bahwa tulang Homo floresiensis berbeda dari tulang Homo sapiens (manusia modern) maupun manusia Neandertal.
Dua publikasi pada tahun 2009 memperkuat argumen bahwa spesimen LB1 lebih primitif daripada H. sapiens dan berada pada wilayah variasi H. erectus. Publikasi pertama yang dimuat di Anthropological Science membandingkan LB1 dengan spesimen H. sapiens (baik normal maupun patologis) dan beberapa Homo primitif. Hasil kajian morfometri ini menunjukkan bahwa H. floresiensis tidak dapat dipisahkan dari H. erectus dan berbeda dari H. sapiens normal maupun patologis karena mikrosefali. Hasil analisis kladistika dan statistika morfometri terhadap tengkorak dan bagian tulang lainnya dari individu LB1 (betina), dan dibandingkan dengan manusia modern, manusia modern dengan mikrosefali, beberapa kelompok masyarakat pigmi di Afrika dan Asia, serta tengkorak hominin purba menunjukkan bahwa H. floresiensis secara nyata memiliki ciri-ciri berbeda dari manusia modern dan lebih dekat kepada hominin purba, sebagaimana dimuat dalam jurnal Significance. Meskipun demikian, kedua kajian ini tidak membandingkan H. floresiensis dengan kerangka manusia kerdil Flores yang menderita mikrosefali.
 Di tengah-tengah kontroversi ini, dunia purbakala kembali heboh karena tanggal 8 Juni 2016 lalu dipublikasikan hasil temuan baru fosil di Journal nature yang merupakan jurnal ilmiah paling bergengsi dunia yang diperkirakan usianya 500,000 tahun lebih tua dari temuan pertama sehingga fosil yang baru ditemukan ini diperkirakan berumur 700.000 tahun.
Temuan terbaru berupa gigi manusia kedil Flores. Sumber: ABC, Kinaz Riza/Nature
Temuan terbaru berupa gigi manusia kedil Flores.Sumber: ABC, Kinaz Riza/Nature
Temuan terbaru berupa gigi manusia kedil Flores. Temuan terbaru ini berupa rahang bawah dan enam gigi dari orang dewasa dan 2 anak anak di Mata Menge di Flores Tengah. Temuan ini menguatkan teori bahwa leluhur Homo floresiensis memang sudah kerdil ratusan ribu tahun sebelumnya. Bagi kelompok yang meyakini bahwa manusia kerdil ini merupakan spesies tersendiri dan merupakan bagian dari salah satu cabang evolusi manusia, menganggap bahwa pengecilan ukuran tubuh dan otak manusia kerdil Flores merupakan bagian dari evolusi mundur manusia (Human Reversal evolution) di mana justru ukuran tubuh yang lebih kecil tersebut yang memungkinkan mereka dapat bertahan di lingkungan Pulau Flores yang ekosistemnya sederhana dan tidak memiliki banyak predator. Dalam kondisi lingkungan seperti ini ukuran tubuh yang besar tidak diperlukan untuk bertahan hidup di pulau ini. Rekonstruksi wajah manusia kerdil Flores yang pertama kali ditemulan 12 tahun yang lalu. Dr. Susan Hayes Univ. Wollongong. Dengan melihat peralaran yang mereka buat, sudah dipastikan bahwa kecilnya ukuran otak manusia kerdil Flores ini tidak berhubungan dengan keprimitifan atau keterbelakangan pemikiran mereka. Walaupun ukuran otaknya kecil, mereka tetap cerdas karena dapat membuat berbagai peralatan untuk dapat bertahan hidup. Perbandingan ukuran tubuh manusia kerdil Flores (homo Floresiensis) dengan spesies lainnya. 
Perbandingan ukuran tubuh manusia kerdil Flores (homo Floresiensis) dengan spesies lainnya. Sumber: sososciencedotcom1.files.wordpress.com
Perbandingan ukuran tubuh manusia kerdil Flores (homo Floresiensis) dengan spesies lainnya.
 Sebagai perbandingan volume otak ketiga spesies yang menjadi perdebatan ini adalah Homo erectus memiliki otak sebesar1,050 cm3, Homo habilis sebesar 610 cm3, sedangkan Homo floresiensis hanya sebesar 380 cm3. Walaupun masih terdapat pro dan kontra terkait penemuan terbaru ini, yang jelas Indonesia khususnya Pulau Flores kini menjadi perhatian dunia dengan ditemukannya fosil manusia kerdil purba ini. Diperkirakan masih banyak lagi peninggalan fosil purba di Bali Timur dan juga di wilayah antara Asia dengan Australia yang belum teridentifikasi dan berpeluang akan mengubah sejarah evolusi manusia.
sumber : di terjemahkan dari jurnal nature.com

No comments:

Post a Comment