Surat Kecil Untuk Alm Bapak Ambros - Congkasae.com

News Update

23 February, 2017

Surat Kecil Untuk Alm Bapak Ambros


Ayah atau Bapak merupakan sosok yang menginspirasiku hingga saat ini, terlahir dari keluarga yang serba minim alias
kondisi ekonomi hancur berantakan lantas tidak membuat aku putus harapan. Meskipun ancaman demi ancaman putus sekolah itu datang sili berganti, namun aku masih bisa melewati tantangan demi tantangan yang datang, aku masih bisa mengenyam pendidikan di sekolah favorit di kota dingin Ruteng (SMP N 1 Ruteng dan SMA N 1 Ruteng).

hal itu dilakukan salah satunya karena adanya sosok sorang ayah atau bapak yang sampai saat ini menjadi panutan bagi saya, Namanya mekas Ambo. Meskipun beliau bukan bapak kandung, melainkan Ema tu,a nya saya akan tetapi besarnya dukungan beliau akan pendidikan saya menjadikan Beliau sangat dekat dan saya telah menganggapnya sebagai bapak kandung.

Dulu saya masih ingat betul, pas baru tamat SD, saya dianjurkan untuk melanjutkan pendidikan di Ruteng, alasanya biar jangan sering pulang libur dan bisa berbaur dengan anak kota.

Enam tahun di sekolahkan di Ruteng, saya mendapatkan banyak pengalaman Beliau sangat senang ketika saya pulang pas lulus SMA, rautnya tampak senang saya masih ingat betul dia berdiri di depan pintu rumah reotnya kami, sambil tersenyum lebar dia mengatakan “saya punya anak lulus atau tidak?” Beliau bahkan yang pertama kali tanya, barulah kemudian bapa dan mama saya.

Lama di kampong membuatnya resah, maklum waktu itu saya diisukan akan putus kuliah, karena tidak ada dana untuk melanjutkan.

Beliau tampak gelisah, sesekali dia menganjurkan saya untuk merantau “mbeot”, Ide cemerlangnyapun saya ikuti, ketika om saya datang dari Bali, saya ikut ke Bali waktu itu tujuan awalnya merantau.

Beliau tampak senang, dan terus memotivasi kedua orang tua saya untuk merelahkan saya pergi merantau.

Ada pesan yang Ia titipkan yang sampai saat ini aku ingat betul yakni “asi di kole eme toe di kuliah, mbeot harus manga buktin”. Itu pesan Beliau saat saya meninggalkan kampong.

Bertahun tahun malang melintang di Denpasar Bali, saya tidak pernah pulang. Sampai pada tahun 2016 kemarin untuk pertama kalinya saya pulang. Dia tampak senang dan bahagia ketika melihat saya sudah tumbuh dewasa, pertanyaan pertama yang muncul di benaknya adala “ nana kapan bapa tu,a bisa ke Bali, Ikut acara wisudanya nana?”

Sayapun hanya menjawab bulan agustus tahun depan, Beliau tampak berseri-seri.
Janjipun kami buat, bahwasanya bulan agustus mekas Ambo akan datang ke Bali mengikuti acara wisudahnya saya.

Itu yang membuat saya sangat bersemangat untuk kuliah dan bekerja di Bali. Hujan angin bahkan badai sekalipun takan pernah menghalangiku untuk kuliah dan kerja.

Karena saya harus diwisudah dan mekas Ambo dan bapa mama saya harus datang, sampai pada suatu waktu saya mendengar kabar bahwa Mekas Ambo jatuh sakit.

Sayapun selalu mengadakan do,a intense khusus di gereja cathedral Denpasar di Ruang adorasi senin-jumat. Memintah rahmat penyembuhan untuk mekas Ambo, orang terhebat saya.

Akan tetapi tampaknya kondisi kesehatanya memburuk, sampai pada suatu soreh tepatnya kemarin, saya mendapat kabar bahwa mekas Ambo sudah berpulang.

Saya mendapat kabar sepulang dari gereja mendoakan kesembuhan baginya. Sesampai di kos saya ditelepon oleh kaka mengatakan mekas Ambo sudah berpulang.

Dunia serasa tak adil, rasanya gelap dan semua usaha saya selama ini sia-sia, karena salah satu sosok yang menginspirasi saya telah berpulang.

Bapa Ambo yang selama ini menjadi pemberi semangat dalam hidup saya telah tiada.
Seandainya bapa tahu kalau saya akan diwisuda 6 bulan lagi, tidakah bapa bersabar sedikit saja? Menunggu saya pulang sebagai seorang sarjana dan bapa Ambo menunggu saya dipintu masuk rumah reotnya kami.

Sambil bertanya untuk kedua kalinya “nana sudah tamat?”
Bapak Ambo tahu tidak kalau saya sudah siapkan uang tiket penerbangan ke Denpasar di hari wisudahnya saya nanti?

Kenapa Bapa mengingkari janji?
Mengapa? Mengapa?

Saya sangat merasa terpukul sekali apalagi saya tidak bisa pulang melihat mekas Ambo untuk yang terakhir kalinya pasalnya saya masih dalam tahapan bimbingan skripsi untuk ujian bulan april mendatang.

Hanya air mata yang mengalir sambil sekali-sekali  dan tulisan ini saya dedikasikan untuk mekas Ambo.

Meskipun saya sedikit tidak terima dengan kejadian ini namun apa boleh buat, Ajal telah menjemputmu, hanya tangisan kesedihan yang saya alami hingga saat ini.


Selamat jalan mekas Ambo, Bahagia bersama para kudus di Surga, ngaji daku latang Bapa Ambo.

No comments:

Post a Comment