Catatan Kecil Untuk Perempuan NTT - Congkasae.com

News Update

08 March, 2017

Catatan Kecil Untuk Perempuan NTT

Catatan hari perempuan internasional
Oleh Antonius Rahu***
Bicara masalah Perempuan, katanya erat kaitanya dengan Gender. Di provinsi NTT terutama,
kaum perempuan selalu dinomor duakan dari segi status sosial, meskipun perempuan NTT terkadang menjadi tulang Punggung keluarga.

Bertaruh nyawa demi memperbaiki kondisi perekonomian keluarga ikut ini saya uraikan beberapa hal yang dialami oleh kaum perempuan NTT.

Tulang Punggung yang Tak Diakui

Dalam bidang pertanian lahan basah, dapat dilihat bagaimana perempuan berjibaku memasok kecukupan pangan bagi NTT.

Pagi buta mereka sudah memoles molang (tabir surya tradisional) di wajahnya, memasang caping di kepala dan menceburkan kakinya dalam lumpur sawah, praktis sepanjang hari untuk menanam anakan padi. Kegiatan yang sama akan terulang kembali saat mengetam padi.

Dengan empat kali membenamkan dirinya di lumpur sawah dalam dua semester, seorang perempuan NTT sanggup memenuhi kebutuhan beras untuk seluruh keluarganya sepanjang tahun.

Dalam industri pengolahan, perempuan NTT telaten mengolah makanan kecil untuk dijual di kios atau di kantin-kantin sekolah dan kantor, atau membuka warung makan di tempat-tempat stategis.

Dalam bidang tenun ikat, perempuan NTT mengukir prestasi dengan menghasilkan bahan sandang yang dikenakan para kepala negara dalam sebuah KTT di Bali.

Presiden SBY di beberapa kesempatan dengan bangga mengenakan kemeja karya perempuan NTT. Sayang langkahnya belum diikuti oleh Presiden Jokowi yang lebih nyaman dengan kemeja putihnya.

Sebagai penghasil devisa, NTT telah mengirim 2.693 tenaga kerja formal dan informal yang bekerja di berbagai negara, terbanyak di antaranya di Malaysia, Singapura dan Hongkong.

Dari jumlah ini 826 tenaga kerja adalah perempuan yang banyak bekerja sebagai PRT. Banyak kisah miris telah berulang kita dengar, baca dan saksikan sendiri – mulai dari Nirmala Bonat yang wajahnya diseterika hingga Winfrida Soik yang terancam hukuman mati tetapi akhirnya dibebaskan.

Dalam bidang yang lebih "terhormat" (menurut kacamata publik) yaitu pegawai negeri sipil ada 50.626 perempuan dari 109.783 PNS yang ada di NTT. Dilihat dari jenjang pendidikan, perempuan tidak kalah hebatnya.  Salah satu perempuan hebatnya NTT adalah wakil bupati Manggarai Barat Maria Geong.

Di masa Ben Mboi menjadi gubernur, pendidikan dan keterampilan istri menjadi pertimbangan ketika seseorang PNS dipromosikan menjadi pejabat publik.

Dari deskripsi di atas perempuan NTT mempunyai potensi besar sebagai kekuatan pembangunan, tetapi potensi ini belum dikelola secara optimal. Potensi ini juga menghadapi kendala-kendala.

Kendala dalam Pembangunan Perempuan NTT

Secara umum, dapat dikatakan bahwa budaya patriarki menjadi penghalang kemajuan perempuan.

Budaya patriarki adalah budaya menempatkan laki-laki sebagai sentral dalam seluruh worldview: pengambil keputusan, pencari nafkah, penerus garis keturunan, benteng perlindungan dan sebagainya.

Tetapi sama benarnya dapat dikatakan bahwa "matriarki" juga menjadi penghalang kemajuan perempuan. Dengan sengaja kata ini diberi tanda petik karena mempunyai makna khusus.

Ketika perempuan diberi akses yang besar untuk sebuah jabatan publik atau pengambil keputusan penting, yang terjadi bukan menguatnya soliditas melainkan rivalitas: perempuan tidak mendukung perempuan, terutama ketika perempuan maju sebagai calon legislatif atau calon kepala daerah.

Seluruh suasana ini masih bergelayut di kepala para top eksekutif di daerah sehingga abai memperhatikan tingginya angka kematian ibu dan bayi, kasus human trafficking yang terhalang oleh bertali-temalinya kepentingan oknum bahkan institusi polisi dan pejabat publik, diprioritaskannya laki-laki dalam meraih jenjang pendidikan yang lebih tinggi dst.

Akhirnya memang diperlukan suatu kesadaran untuk memposisikan kaum perempuan setara dengan kaum laki-laki. Karena perempuan NTT juga hebat-hebat, bahkan lebih hebat dari laki-laki.

Teruslah berkarya untuk kaum perempuan asal bumi flobamora, kalian hebat, kalian luar biasa. Selamat Hari Perempuan Internasional, God Bless



Penulis Merupakan Mahasiswa Tingkat Akhir di IKIP PGRI Bali, alumnus SMA N 1 Ruteng, aktif di organisasi kampus seperti KBMK, Forkomel Bali, dan IMADA Bali


No comments:

Post a Comment