Belajar Hidup Bertoleransi Pada Masyarakat NTT - Congkasae.com

News Update

31 May, 2017

Belajar Hidup Bertoleransi Pada Masyarakat NTT



suasana misa penthabisan pater Asyanto di Ritapiret


Oleh Antonius Rahu***

Toleransi merupakan sebuah kata yang akhir-akhir ini sangat sering diperbincangkan di lini massa. Jika kita sedikit membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI EYD), kata toleransi diartikan sebagai sifat atau sikap toleran, misalnya dua kelompok yang berbeda kebudayaan itu saling berhubungan dengan penuh toleransi.

Berbicara soal toleransi, sebagai putera asli bumi flobamora (Julukan untuk Provinsi NTT), saya memiliki sebuah cerita yang sangat mengharukan.

Ibunda Pater Asyanto tampak menghadiri misa penthabisan puteranya
Sekitar pertengahan tahun 2015 lalu, publik di NTT ramai membicarakan sebuah keluarga sederhana di daratan Flores, lantaran keluarga yang muslim ini memperbolehkan putera satu-satunya untuk dithabis menjadi imam katolik, sebuah kejadian yang membuat air mata saya jatuh karena terharu.

Mengenakan jilbab berwarna hitam, Siti Asiyah masuk dalam barisan para diakon (calon imam Katolik yang hendak ditahbiskan pagi itu.

Dia mengapiti lengan putranya, diakon Robertus B Asiyanto, SVD, satu dari 11 calon imam serikat Sabda Allah (SVD) yang ditahbiskan di Ledalero, Maumere, Flores NTT.

Mata ribuan umat katolik tertuju kepada ibu berjilbab itu, saat bersama para calon imam memasuki altar gereja. Maklum ini merupakan pemandangan yang tidak biasa. Siti Asiyah, seorang muslimah mendampingi putranya untuk ditahbiskan menjadi imam dalam Gereja Katolik.

tampak keluarga pater Asyanto yang berjilbab berbaur dengan umat katolik dalam gereja
Mata Siti Asiyah berkaca-kaca saat memberi restu kepada anaknya, Robertus Asiyanto yang akrab disapa Yanto menjadi seorang imam dengan menumpangkan tangan di atas kepalanya.

Siti Asiyah, asal Cancar, Kabupaten Manggarai itu didampingi ayah angkat Pater Yanto saat memberi penumpangan tangan untuk putranya.

Selanjutnya Yanto bersama 10 rekannya ditahbiskan menjadi pastor oleh Uskup Agung Ende, Mgr. Vincentius Sensi Potokota, Pr.

Siti Asiyah mengikuti perayaan misa dan prosesi pentahbisan dengan khusuk. Dia duduk tenang pada kursi barisan depan di gereja seminari tinggi terkemuka di Pulau Nusa Bunga itu.

Kepada sejumlah awak media yang menghampiri Siti, usai misa Ia mengaku sangat senang ketika putera satu-satunya dithabiskan menjadi imam katolik.

“Senang sekali. Saya sangat senang," ucap Siti Asiyah usai misa. Hanya itu kata-kata yang keluar dari bibir Siti Asiyah. Wajahnya sumringah. Senyum terus mengembang di bibirnya.

Aryanti, adik bungsu Pater Yanto juga mengungkapkan rasa bangga karena kakaknya sudah ditahbiskan menjadi imam.

suasana saat janji kaul kekal
"Saya senang sekali hari ini," ujar Aryanti. Aryanti, bungsu dari tiga bersaudara. Kakak sulung Aryanti dan Yanto adalah perempuan, juga seorang muslim sama seperti ibu mereka Siti Asiyah.

"Saya baru bertemu kakak sulung saya delapan bulan lalu. Selama ini kami di rumah hanya mama, dan kakak pater," ujar Aryanti yang juga penganut Katolik.

Aryanti tidak menyesal kakak lelaki satu-satunya di rumah itu menjadi imam. "Saya tidak menyesal. Malah saya senang sekali," kata Aryanti semangat.

Aryanti berharap, kakaknya menjalankan tugas dengan baik dan setia dalam panggilan.
"Hari ini sungguh luar biasa semoga Tuhan selalu menyertai perjalanannya," kata dia.
Hubungi kami di WA 082342994060 untuk pemasangan Iklan

Pater Yanto mengungkapkan perasaan hati yang sama. "Hari ini sangat istimewa bagi keluarga saya. Setelah 30 tahun tinggal berpisah, hari ini kami semua bersatu, saya senang sekali," kata Pater Yanto.
Pater Yanto mengungkapkan, ibunya Siti Asiyah sejak lama sudah tak sabar agar dirinya segera ditahbiskan menjadi imam Katolik.

"Tahun lalu saya memilih istirahat dulu. Tetapi mama protes. Mama mungkin khawatir saya tidak ditahbiskan. Hari ini, saya senang sekali," ujar Pater Yanto di sela menyambut ribuan umat yang menyapa dirinya.
Khusu wilayah Denpasar

Pater Yanto ditahbiskan bersama dengan 10 rekannya yakni, Eugenius Dwi Ardika Iryanto, SVD, Maximus Hali Abit, SVD; Kalixtus\Hartono,SVD, Christoforus Abjayandi Sans, SVD Ferdinandus Nuho, Roberto Arif Oula, SVD, Firminus Wiryono, SVD, Benediktus Obon, SVD, Aloysius Rabata Men, SVD dan Amandus Mare, SVD.

Ini mungkin kejadian yang jarang terjadi di Indonesia, bahkan dibelahan bumi lainya. Sepenggal kisah nyata diatas merupakan tamparan keras bagi kaum-kaum intoleran yang mengatasnamakan agama ingin memecah-belah kerukunan umat beragama di Nusantara.

kisah tersebut merupakan salah satu kasus yang merepresentasikan bagaimana kehidupan kami di NTT yang sangat harmonis.

Di NTT, kalian tidak akan pernah mendengar ada  orang yang berantem, bahkan saling bunuh karena persoalan agama.

Karena sejak kecil kami telah diajarkan toleransi, saya masih ingat betul ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar, kami selalu diingatkan oleh guru akan pentingnya hidup berdampingan dengan agama lain.

Di daerah saya terdapat gereja dan mesjid, jarak antara kedua tempat ibadah ini hanya sekitar 500 meter saja.

Pada sore hari, Lonceng gereja dan kumandang Adzan Magrib dari kedua tempat ibadah itu menjadi tanda bagi kami untuk segera pulang ke rumah setelah seharian bermain.

Terkadang keduanya sering berbunyi secara bersamaan, kami tidak pernah mempersoalkanya. Di saat hari Natal tiba, teman-teman saya yang muslim menginap di rumah saya untuk membuat kue Natal.

Mereka terkadang tak sabaran menanti saya pulang dari Gereja. Teman saya yang bernama Amir bahkan sering nginap di rumah, begitupulah ketika hari idhul Fitri tiba, saya yang menginap di rumahnya Amir.

ibunda Pater Asyanto tampak mengikuti misa dengan penuh Khusyuk
Di gereja yang menjadi satgas keamanan pada saat misa Natal, adalah teman-teman yang muslim, begitupulah ketika hari raya idul Fitri tiba, OMK dari gerejanya saya yang berjaga di Masjid.

Hal itu sudah kami lakukan dari nenek moyang kami hingga saat ini, itu masih kami lakukan.
Tidak ada sedikitpun yang mempermasalahkan perbedaan di NTT, karena bagi kami urusan Iman dan keyakinan adalah urusan kita pribadi dengan Tuhan.

Bgai kami orang NTT, persaudaraan itu merupakan harga mati dan tidak bisa ditawar-tawar. Mungkin pembaca merasa ah masa sich......?? kalian bisa ke Flores NTT untuk membuktikanya.

Di kota pancasila Ende, pembaca akan melihat dan merasakan ketika hari raya idul Fitri, Orang Muda Katolik dari gereja setempat akan berkeliling untuk jabat tangan di hari raya lebaran.

dalam gereja saat misa penthabisan
Di Labuan Bajo Manggarai Barat kalian akan merasakan pawai malam takbiran dilakukan oleh OMK gereja setempat.

Begitu pula di pulau lain di NTT, oleh karena itu, kepada kaum-kaum konservatif di negeri ini sesekali main-mainlah ke bumi Flobamoraku tercinta.

Untuk pemimpin ormas-ormas Radikal di negeri ini datanglah belajar hidup bertoleransi di NTT.
Bagi kami perbedaan bukanlah jurang pemisah, meski kita terlahir dari rahim yang berbeda, agama kita berbeda, akan tetapi perbedaan itu bukanlah jurang pemisah.

pater Asyanto dan Ibunda
Pluralisme dan Toleransi adalah nilai plus yang sampai saat ini dipuji-puji oleh bangsa lain di Bumi ini.
Oleh karena itu mari merawat toleransi memupuk persaudaraan karena kita adalah saudara, kita adalah Indonesia.
Penulis: Antonius Rahu

 Penulis Merupakan Mantan Jurnalis, saat ini menjadi penulis lepas. Senang menulis, cycling, traveling, senang bersosialisasi, saat ini menetap di Denpasar Bali.

Baca Juga:
1.Toto Kopi Cara Meramal Masa Depan Orang Manggarai

2.Songke dan Identitas Orang Manggarai

3.Internet dan Dampaknya pada Budaya Lejong

4.Dialoeg Manus Manggarai Timur

5.Mengapa Orang Manggarai itu Ramah?

No comments:

Post a Comment