"Raksasa" Terlupakan di Ufuk Timur Bumi Congkasae - Congkasae.com

Hoos ata werud

18 December, 2017

"Raksasa" Terlupakan di Ufuk Timur Bumi Congkasae


sumber foto: Facebook Ferdi Rondong
Salah satu kendaraan tampak mogok akibat kondisi jalan yang berlumpur dan licin
***Tulisan ini merupakan Pengalaman pribadi Petrus Rabu***

[Congkasae.com/Sipi Sopok]Bumi congkasae merupakan julukan bagi tanah Manggarai. Sebuah kabupaten di ujung barat Pulau Flores-Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Pada zaman dahulu Bumi Congkasae ini hanya memiliki satu wilayah pemerintahan tingkat II yakni Kabupaten Manggarai.

Akan tetapi seiring dengan perkembangan pemerintahan maka bumi congkasae atau Kabupaten Manggarai dimekarkan menjadi tiga daerah otonom baru, yakni Kabupaten Manggarai, Kabupaten Manggarai Barat dan Kabupaten Manggarai Timur.
Irama perkembangan ketiga kabupaten ini tentu berbeda.  Hal ini bisa disaksikan dengan situasi real di lapangan.

Kabupaten Manggarai selaku kabupaten induk tentunya jauh berbeda dengan Manggarai Timur dan Manggarai Barat. Perbedaaan itu sebagai dampak dari tantangan demografis dan geografis yang berbeda.
Sebagaimana kita ketahui bersama nadi atau napas pokok pemekaran itu adalah untuk mendekatkan pelayanan pemerintahan dan pembangunan kepada masyarakat. Pemekaran adalah media atau jembatan agar pemerintah hadir bagi masyarakat. 
Tapi sayangnya nadi pemekaran itu tidak berdenyut secara merata di seluruh wilayah. Apakah memang demikian? Atau ini dampak dari Pemilukada? Menjadi rahasia umum dan terjadi dimana-mana, daerah-daerah basis suara menjadi prioritas, sedang di wilayah bukan basis minim perhatian, alias dianaktirikan.
Di Kecamatan Elar dan Elar Selatan- Kabupaten Manggarai Timur misalnya, hadirnya pemekaran itu masih perlu ditingkatkan.

Dua kecamatan yang berbatasan dengan Kabupaten Ngada ini dikenal sebagai tempat terbit sang fajar  bagi bumi Congkasae. Namun wilayah-wilayah ini minim perhatian.

Contohnya  transportasi atau akses jalan yang masih susah. Padahal aksesibilitas itu sangat penting dan urgent dalam mendukung percepatan pembangunan daerah. 
Sejatinya Kecamatan Elar dan Elar Selatan memiliki potensi yang luar biasa dibidang pertanian dan perkebunan. Penulis sendiri menyaksikan hamparan padang yang luas hijau dan rindangnya tanaman-tanaman pertanian milik petani.

Juga terdapat sejumlah daerah aliran sungai yang jika diolah akan menjadi sumber pengairan bagi sawah-sawah petani.

Sejak zaman dahulu Manggarai Timur memang terkenal sebagai daerah penghasil kopi di daratan Flores, NTT.

Jika potensi ini didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai, maka bukan tidak mungkin dua kecamatan ini akan menjadi penopang ekonomi daerah setempat.
Sayangnya "Raksasa" yang terlelap ini tidak ditopang dengan sarana dan prasarana penunjang seperti jalan. Raksasa itu terlupakan dan dibiarkan terlelap.
Keluhan akan infrastruktur jalan sebenarnya sudah didengungkan oleh masyarakat di sana. Masalah jalan ini menjadi tema pokok pembicaraan sehari-hari.

Baik di rumah, di jalan atau saat rapat-rapat penting, bahkan mereka sendiri sudah lelah, jenuh dan Pasrah.
Keluhan ini sudah sejak zaman dulu, dan terus berlangsung hingga kini, disaat Mangggrai Timur menjadi daerah otonom. Seakan ini adalah litani panjang kisah pilu masyarakat Kecamatan Elar dan Elar Selatan.
Pasalnya masyarakat dan tokoh masyarakat sudah sekian tahun mengeluhkan minimnya perhatian Pemda setempat untuk membangun akses jalan di dua kecamatan itu.
Beberapa waktu lalu, media lokal dan nasional menyoroti parahnya jalan dari dan menuju Kecamatan Elar dan Elar Selatan.

Namun sorotan itu seperti sorotan kosong, tanpa makna, tak ada reaksi apapun dari pihak-pihak terkait.

Bahkan kisah buruknya transportasi di Manggrai Timur tersebar di berbagai media cetak dan elektronik. Ibarat "Anjing yang menggongong kafilah berlalu". Mungkin pemdanya seperti itu.
Berdasarkan data yang diperoleh penulis,  akses jalan menuju Elar dan Elar Selatan ini sebenarnya bukan  saja menjadi tanggungjawab pemda Manggarai Timur, akan tetapi menjadi tanggungjawab provinsi NTT.
Beberapa hari terakhir, sejumlah tokoh masyarakat, tokoh agama dan akademisi menuliskan surat terbuka untuk Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo.

Adapun inti surat dimaksud adalah meminta Bapak Presiden untuk turun tangan  menangani masalah jalan dan pembangunan infrastruktur lainnya di Kecamatan Elar dan Elar Selatan.  Surat terbuka tersebut menjadi viral di media sosial.
Akantetapi apakah persoalan seperti ini harus diselesaikan Presiden? Bukankah itu ranahnya pemerintah setempat? Bukankah ada pemerintah kabupaten dan provinsi?

Tapi penulis percaya surat terbuka itu sebagai reaksi dan ungkapan isi hati masyarakat Manggarai Timur atas sikap apatis pemerintah daerah, baik kabupaten maupun provinsi.
Oktober 2017, saya sempat pergi ke salah satu kampung di Kecamatan Elar Selatan. Saya benar-benar sulit untuk menentukan jalur mana yang saya pilih.

Ada beberapa akses jalan menuju kesana. Ada jalur borong atau masyarakat disana katakan "Jalur Tengah." Ada juga "Jalur Utara" melalui kecamatan Elar dan "Jalur Soa"- Kabupaten Ngada.
Setelah berkoordinasi dengan keluarga disana, mereka merekomendasikan saya untuk memilih "Jalur Soa" Kabupaten Ngada.

 Awalnya saya berpikir kok melalui "Jalur Soa?" Tapi mereka menyakinkan bahwa itu adalah jalur terbaik.
Sebenarnya "Jalur Soa" cukup sulit. Selain karena kita harus ke arah timur tetapi juga tidak semua ruas jalannya beraspal. Jalan beraspal itu hanya sampai diperbatasan.
Di perbatasan ada sungai yang besar namanya sungai Wae Mapar. Sayangnya di sungai ini belum ada jembatan. Entah menjadi tanggungjawab siapa. Hanya saja saat musim hujan tiba jalur tersebut tidak  bisa dilewati. 
Untungnya saat saya lewat musim kemarau. Menurut Johni warga Elar Selatan yang jemput saya di Soa mengatakan jika musim hujan maka tidak bisa disebrangi. 
Saaat menyerangi sungai itu saya sempat turun dari kendaraan. Johni  mendorong kendaraanya dan berjibaku dengan derasnya sungai Wae Mappar.

Beberapa kendaraan yang bersamaan denga kami dari Soa dan dari arah Wukir melakukan hal serupa.
Setelah menyeberangi Sungai Wae Mapar tak secuilpun saya temui jalan yang beraspal. Yang ada hanya jalan berbatu, berlubang, berlumpur kadang seperti kubangan kerbau, mendaki, menurun terjal. Bahkan melewati areal persawahan petani.
Johni sangat hati-hati mengendarai kendaraannya. "Motor yang kami beli disini paling bertahan hanya dua tahun setelah itu rusak parah. Lihat saja jalan model begini.
sumber: facebook Ferdi Rondong
sumber: facebook Ferdi Rondong
Saya harus berkali-kali turun dari kendaraan untuk menghindari kecelakaan karena jalannya yang rusak dan terjal serta berbatu. Setelah melalui perjuangan yang berat akhirnya kami tiba di tempat tujuan.
Penyambutan dan keramahan masyarakat Elar Selatan membuat saya melupakan semua perjuangan  berat dalam perjalanan.
Tiga hari disana saya banyak mendengar kisah-kisah mereka. Akibat dari buruknya akses jalan ke Borong sebagai ibukota kabupaten semua interaksi ekonomi dan kesehatan dilakukan di Kabupaten Ngada.
"Kalau sakit parah kami bawa pasien berobat ke Bajawa (Ibukota Kabupaten Ngada), terus kami tandu pasien dari sini sampai ke perbatasan Ngada, dan disana kami menunggu kendaraan dari Kota Bajawa," terang Lasarus salah satu Warga Elar Selatan di Kampung Ndangi.
"Istri saya kemarin saat lahir anak kedua dioperasikan di Ngada," tambah Demus.
Tidak saja soal kesehatan, transaksi ekonomi pun dilakukan di Kabupaten Ngada. Hampir sebagian hasil pertanian masyarakat Elar Selatan dipasarkan di Bajawa-Ibukota Kabupaten Ngada.

Yah akses ke Bajawa jauh lebih muda dan lancar dibandingkan ke Borong, Ibukota Kabupaten Manggarai Timur.
Selain masalah transportasi, masalah telekomunikasi juga menjadi masalah yang perlu perhatian serius dari pihak-pihak terkait.

Peran telekomunikasi di era kemajuan iptek sangat penting dalam mendukung pembangunan daerah.  Selama tiga hari disana, handphone yang saya bawa hanya sebagai hiasan semata, tak ada gunanya.
Berdasarkan data yang saya himpun, tidak semua kampung sudah terjangkau sinyal telephon, saat ini masih ada kampung-kampung yang tak terjangkau jaringan telekomunikasi.

Untuk berkomunikasi ke luar daerah, mereka terkadang mencari singnal hingga ke tempat yang jauh, di atas bukit dan gunung.
Elar dan Elar Selatan merupakan dua kecamatan yang sangat potensial di Manggarai Timur. Tidak saja disektor pertanian dan perkebunan tetapi juga potensi besar dibidang peternakan.

Wilayah ini ibarat "Raksasa" sumber daya alam terbesar di Manggarai Timur.
Kondisi jalan ke Elar Manggarai Timur(sumber: Facebook Ferdi Rondong
Kondisi jalan ke Elar Manggarai Timur(sumber: Facebook Ferdi Rondong
Semoga kedepan akses transporasti dari dan ke ufuk timur bumi Congkasae ini semakin maju berkat dukungan semua pihak.

Baik pemerintah, masyarakat maupun swasta sebagai tiga pilar pembangunan daerah. Dengan demikian dari ufuk timur bumi Congkasae ini akan memancarkan terang harapan.

Penulis Petrus Rabu saat ini menetap di Papua Indonesia Timur.

Anda memiliki kisah seperti Petrus Rabu? Tulis pengalaman anda dan kirimkan ke redaksi kami [email protected] atau hubungi kami Via WA 082342994060 tulisan terbaik akan diposting.

No comments:

Post a Comment