Eliminasi Rabies di Manggarai Timur dan 'Ndekok' Warganet - Congkasae.com

Hoos ata werud

07 December, 2019

Eliminasi Rabies di Manggarai Timur dan 'Ndekok' Warganet


***Oleh Antonius Rahu***

Akhir-akhir ini jagat  maya diramaikan dengan beredarnya foto-foto bangakai Anjing tanpa kepala yang tengah menyusui anaknya.

Beberapa media daring lokal pun ramai memberitakan kabar tersebut, telusur punya telusur, ternyata bangkai Anjing yang sedang viral itu berasal dari Manggarai Timur Flores.

Bangkai Anjing yang tengah viral itu juga rupanya hasil operasi eliminasi yang dilakukan pemerintah kabupaten Manggarai Timur terhadap Hewan Penular Rabies (HPR) yang ada di kabupaten tersebut.

Di penghujung tahun 2019 ini kabarnya pemerintah kabupaten Manggarai Timur memang tengah mengadakan operasi eliminasi terhadap HPR yang ada di wilayah Manggarai Timur.
iulustrasi vaksinasi anjing Rabies

Dalam rilis resmi  yang dikeluarkan oleh otoritas pemerintah setempat, operasi kali ini dilakukan untuk menekan laju pertumbuhan penyakit rabies yang ada di kabupaten tersebut.

Data yang dihimpun menyebut kabupaten Manggarai Timur menduduki pringkat teratas kasus gigitan HPR dalam kurun waktu 6 bulan terakhir.

Hmmmmm……….!!! Ternyata niat pemerintah sangat Mulia e? lalu mengapa niat mulia itu ditanggapi negatif oleh warganet?

Dimana letak kekeliruannya? Telusur punya telusur ternyata letak kekeliruannya ada di Moni, mantan pacar saya yang telah menikahi pria lain padahal saya sudah banyak berkorban untuk dia selama ini.

Ehhhh………… kok kraeng malah jadi curhat begini, apa hubungannya Moni dengan anjing? Sudah ah mari kita bahas kaka degeng ini secara santai.

Orang Manggarai dan Anjing juga Woe Nelu
Oleh,,,,,, apa de maksutn Woe Nelu agu Acu hoo ta de? Sejak zaman pemerintahan Ponsius Pilatus Anjing dan manusia sudah membangun kekerabatan yang sangat dekat.

Bagi orang  Manggarai, Ase ka’e nya Anjing adalah Ela, Manuk, mereka punya anak rona ulu adalah manusia.

Makanya dalam adat Manggarai ada istilah atau go’et “Naang agu Pening”. Naang merujuk pada Babi, anjing sedangkan pening merujuk pada Ayam.
Orang Manggarai memiliki kedekatan dengan hewan peliharaan salah satunya Anjing

Makanya hampir setiap orang Manggarai pasti memiliki hewan peliharaan itu, karena dalam setiap hajatan adat Manggarai hewan-hewan tersebut pasti sangat diperlukan.

Eme wale sida dise amang biasan manga istilah Manuk kut nau lime, agu Ela. Sementara Anjing biasanya berperan untuk menambah jenis daging yang disuguhkan bagi anak rona.

Ai manga de anak rona ata toe gorin hang manuk pedaging nganceng kole ganti le acu, yah kurang lebih begitulah orang Manggarai punya adat.

Acu Kudut Losi Poti agu bang Lawo
Bagi orang Manggarai Anjing berperan penting dalam urusan dunia malam (Setan, roh halus) di malam hari Anjing bertugas untuk menjadi penjaga ketika anak rona ulu sedang tertidur pulas.

Dulu pada saat saya masih kecil ketika bangun pagi topik pertama yang dibahas di rumah adalah lolo agu noang acu le wie (Gonggongan anjing di malam hari). Topik ini jadi temannya kopi pa’it dan tete teko untuk sarapan pagi.

Bagi orang Manggarai Anjing sangat berperan dalam menghalau serangan setan di malam hari. Makanya pak Polisi jangan heran jika di Manggarai banyak sekali Anjing.

Bagi orang Manggarai Anjing juga jadi penjaga rumah di malam hari
Selain sebagai penjaga rumah, Anjing juga berperan penting dalam dunia perburuan. Nenek moyang kami orang Manggarai jago berburu. Kami menyebutnya dengan istilah 'ngo bang'.

Dalam perburuan ini, Anjing adalah tombak utama di samping tombak benaran untuk mengejar babi hutan (Ngaruk), Rusa (Tagi) dan hewan liar lainnya.

Namun dalam konteks hari ini meskipun Ngaruk dan Tagi sudah tidak tampak batang hidungnya peran itu masih tetap dijalankan.

Eme toe manga seng te weli ikang teri dise ata dagang biasan ngo bang lawo one puar, di sana peran anjing masih sangat diperlukan.

Anjing Penyakit Rabies dan Bahaya yang Mengintai
Pada awal tahun 2000 penyakit baru yang sering disebut Anjing gila oleh orang Manggarai itu masuk daratan Flores.

Saya ingat betul, penyebaran penyakit itu diawali dari Flores bagian Timur, media cetak yang berbasis di Flores hampir setiap hari memberitakan kasus gigitan demi gigitan yang terjadi di lima kabupaten di daratan Flores.
Proses vaksinasi anti rabies terhadap Anjing

Sebuah kabar buruk bagi hubungan woe nelu nya orang Manggarai dan Anjing. Pemerintah pun kala itu melakukan operasi eliminasi terhadap HPR termasuk Anjing.

Tak terhitung jumlah korban gigitan yang meninggal, karena konon katanya awal-awal penyakit rabies belum memiliki obat.

Kami jadi takut dan was-was jika melihat Anjing, saking takutnya kami disuruh membawa sipol (semambu) jika berangkat ke sekolah.

Akibatnya Mutung dan Ndapo (nama Anjing kesayangan saya) jadi korban penembakan oleh aparat kepolisian, di saat saya sedang bermain dengan mereka sepulang sekolah.
Vaksinasi diberikan gratis oleh pemerintah
Jangan Tanyakan bagaimana perasaan saya pada saat itu, hancur dan menangis sampai tidak mau makan.

Jujur waktu itu saya kesal dengan Polisi, mungkin itu juga yang dirasakan oleh pemilik anjing di Manggarai Timur yang saat ini sedang viral itu.

Tapi akhirnya saya mengerti dan mau menerima alasan penembakan itu setelah 2 bulan berselang teman saya digigit Anjingnya sendiri dan sekarang menyandang status almarhum alias meninggal.

Jangan Gadaikan Nyawamu dengan Anjing
Anjing tetaplah seekor Anjing, kita dilahirkan dalam dimensi dan status yang berbeda seberapa besarpun rasa sayang kita sama Anjing.

Jangan pernah gadaikan nyawamu sendiri dengan seekor Anjing, karena nyawa manusia adalah yang harus diutamakan dari dulu hingga nanti bak iklan mobil Avanza.
gigitan Anjing Rabies sangat membahayakan jika tidak ditangani dengan Baik

Mungkin dalam kasus di Manggarai Timur saat ini komentar-komentar warganet yang bernada mengutuk, menyumpahi otoritas pemerintah setempat karena dinilai telah berlaku kasar dan tidak hewani terhadap Anjing yang tengah viral itu.

Namun percayalah ada niat yang jauh lebih mulia dari otoritas pemerintah setempat, yakni ingin menyelamatkan nyawa Ende-Ema, Ase-Ka’e, Inang-Amang, agu weta daku awo Manggarai Timur.

Soal Standar Operasional Prosedural (SOP) dalam kasus ini mungkin iya pemerintah sedikit lalai itu bisa ditolerir ai petugas kole manusia cama neho itu rantang akit kole ise pe. 

Bukannya pemerintah juga telah mengeluarkan rilis resmi terkait kasus ini? Jadi mai ga ende ema ase ka’en kita dukung program pemerintah ini dengan cara neka piara Acu (Jangan Piara Anjing).

Ole nana ceing ata lamin mbaru le wie? Teing hang lepai anak rona so ata toe manga hang nuru manuk pedaging? Coo eme ngo bang lawo kole diang, bang lepai? Aiks ta urus le ru hahahahaha

Ndekok Dite Agu Ndekok de Pemerintah
Dalam kasus bangkai Anjing tanpa kepala yang sedang viral ini, saya menilai ada beberapa ndekok (kesalahan) yang dilakukan oleh oknum pengunggah foto dan pemerintah.

Mari kita lihat dengan jernih dan tidak emosional apalagi mengutuk dan menghujat di media sosial. Jaga boto ba eta Labe cemoln ata mesen ga Ndekok de tombo ngasang data de.

Kesalahan dari oknum pengunggah foto yakni tampaknya foto tersebut didesain sedemikian rupah untuk membenturkan pemerintah dengan masyarakat.

Seolah-olah pemerintah telah melakukan kejahatan luar biasa dan tidak hewani  dalam kasus ini. Kalau dipikir namanya saja 'Eliminasi', pasti ada unsur paksaan bagi hewan yang melangar aturan.

Mai ite ga woko poli matas Acu ali ponggal le petugas ga sumpah kole petugas, coom mata ba le Bambo hau e pak, ba taung lehaus nipi daat dami selama hoo, mas nai apam keta too pak? hahahahaha

Kita lupa bahwa Anjing ini ditembak karena telah melanggar aturan, lalu kita berdiri digaris depan untuk menghujat aparat petugas.

Nah oknum ini paham betul bahwa diskursus ruang publik khususnya media sosial orang tidak lagi berbicara pada rana etika.
Proses kerja Virus Rabies dalam Tubuh Manusia

Bahwasanya semua itu serba instan dan cepat, di facebook hari ini, orang baru baca satu paragraf tiba-tiba kelihatan lebih pintar dari si penulis bukunya.

Baca sepintas, lihat sepintas lalu komentarnya panjang lebar solah-olah baru pulang dari TKP (Tempat kejadian Perkara) ini yang repot namun itulah realita masyarakat kita saat ini.

Parameter tua-muda tidak lagi dipertimbangkan di media sosial celah ini yang dimanfaatkan oleh oknum tertentu yang tidak bertanggung jawab.


Coo kali ga ceing ata salan menurut iten nana? Ata ngara acu ko pemerintah? Jika itu adalah pertanyaannya jawaban saya semua salah dan semua benar.

Apalagi saya bukan Pilatus yang tugasnya mengadili perkara orang, hahahahaha.

Bagi pemilik Anjing konon katanya sebelum operasi eliminasi itu dilakukan aparat telah mengeluarkan himbauan untuk mengikat Anjing yang nantinya akan divaksinasi secara gratis.

Nah mengapa Anjing itu tidak diikat? Dalam aturan perda Manggarai Timur juga ditetapkan bahwa masyarakat Manggarai Timur boleh memilahara Anjing maksimal dua ekor  setiap KK. Meski 2 ekor ini dinilai seperti program Keluarga Berencana.

Artinya pemerintah tidak melarang kita untuk memelihara Anjing akan tetapi harus divaksinasi, itu yang penting untuk diikuti.

Nah……Ndekoknya pemerintah juga adalah ada aturan Perda seperti itu namun tidak dilakukan sosialisasi sampai ke tingkat bawah.

Kabarnya sosialisasi itu hanya dilakukan dengan meneruskan informasi itu kepada camat-camat yang jumlah nya bisa dihitung dengan jari, mengapa tidak dilakukan sosialisasi secara masif?
Beberapa kategori Hewan Penular Rabies

Ambil contoh dengan memanfaatkan kaka degeng Facebook ini, mungkin bisa memanfaatkan tim kreatif di Humas Pemkab Manggarai Timur untuk buatkan video atau teks atau poster sosialisasi bahaya Rabies dan Perda itu ke khayak umum.

Jika tim Humas tidak keberatan saya bisa bantu buatkan itu secara gratis untuk pemkab Matim hahahaha (biar tidak dibilang kritik tanpa solusi pe ko coon?)

Atau opsi ke dua adalah dengan memanfaatkan Radio Pemerintah daerah setempat, sama seperti yang dilakukan oleh pemkab lain di Flores.

Namun kendalanya mungkin jika lewat radio ase ka’e saya di Buntal di Dampek di bawa tidak dengar karena keterbatasan jangkauan siaran radio.

Tapi kalau dipadukan antara beberapa ide itu saya pikir pesannya tersampaikan dengan baik.

Poster bisa ditempelkan di tempat-tempat umum seperti di Puskesmas, Sekolah atau papan pengumuman setiap Gereja.

Sementara Facebook dan radio bisa menjangkau semuanya. Semoga tulisan yang tidak berujung ini jadi entry point untuk masyarakat dan pemerintah setempat.

Sehingga anak rona yang tidak makan ayam pedaging masih bisa makan daging Anjing pada saat acara adat.

Kami yang hobi bang Lawo masih bisa bang dengan Acu Ndapo dan Mutung nya saya, di malam hari masih ada Ndapo dan Mutung yang jaga saya punya rumah.

Asalkan rutin divaksinasi semuanya baik-baik saja, yang paling penting adalah kita tidak terus diintai oleh penyakit Rabies.

Penulis merupakan Aktivis sosial, content creator dan mantan Jurnalis saat ini menetap di Labuan Bajo Flores.

No comments:

Post a Comment