Tradisi Irong Cara Orang Manggarai Timur Menghormati Orang Mati - Congkasae.com

Hoos ata werud

13 December, 2019

Tradisi Irong Cara Orang Manggarai Timur Menghormati Orang Mati

Tradisi Irong setelah Tepal di Mbata Manus Manggarai Timur

[Congkasae.com/Sosial BudayaSecara umum, orang Manggarai adalah orang yang lahir dan hidup dalam kebiasaan dan adat Manggarai. Orang Manggarai selalu hidup dan akrab dengan budayanya, yaitu adat dan ritual Manggarai. 


Orang Manggarai sangat akrab dengan tanah. Mereka tumbuh dan berkembang dalam budaya agraris. Bertani dan berkebun sudah menjadi bagian dalam kehidupan orang Manggarai.

Orang Manggarai tidak begitu akrab dengan laut. Oleh karena itu, perbendaharaan kata yang berkaitan dengan nelayan, ikan dan laut merupakan kata-kata serapan dari bahasa Ende, Bima dan Bugis. Misalnya, kata nanga (muara) dari bahasa Ende.

Oleh karena itu, orang Manggarai tidak mengenal ritual adat yang berkaitan dengan laut. Ritual adat orang Manggarai hanya akrab dengan lingkungan daratan, yakit rumah, kebun, hutan, mata air dan lain-lain. 

Sebut saja ritual penti (tahun baru Manggarai), tuke mbaru (pernikahan), cear cumpe (pemberian nama), saung ta'a dan kelas (kematian) serta masih banyak lagi upacara lainnya.


5 Prinsip Hidup Orang Manggarai

Bagi orang Manggarai Prinsip hidup adalah landasan berpijak yang tidak boleh diubah sampai kapanpun, prinsip hidup dijadikan acuan untuk bertindak.



Prinsip hidup inilah yang dijadikan panduan atau guideline nya orang Manggarai dalam bersikap, bergaul dimanapun mereka berada.



Kelima prinsip hidup itu diantaranya diurai sebagai berikut;

Mbaru Bate Ka'eng
Bagi orang Manggarai Mbaru (Rumah) diibaratkan dengan Ibu yang senantiasa selalu mengayomi, melindungi dan memberikan perlindungan bagi anak-anaknya.

Karenanya Mbaru merupakan unsur paling penting dalam hierarki adat Manggarai. Mbaru merupakan tempat dimana kami orang Manggarai bisa berkumpul dan membangun hubungan yang lebih intim dalam sebuah keluarga.

Karenanya membuat rumah selalu diawali dengan ritual adat dalam proses pembangunannya  pun tidak bisa dilakukan asal-asalan.

Uma Bate Duat
Bagi kami orang Manggarai, Uma alias Kebun merupakan unsur terpenting kedua setelah Mbaru. Uma merupakan tempat dimana kami orang Manggarai mencari nafkah untuk menghidupi keluarga.

Orang Manggarai termasuk tipe pekerja keras, makanya ada go'et atau pepatah yang mengatakan 'dumpul wuku tela toni'. 

Go'et ini menggambarkan bagaimana orang Manggarai harus berjuang bekerja keras untuk menghidupi diri dan keluarganya.

Bagi kami orang Manggarai yang menganut budaya Patrilineal uma adalah masa depan karenanya uma sangat dekat dengan sosok ayah.

Natas Bate Labar
Natas (halaman kampung) merupakan tempat dimana kami orang Manggarai melakukan ritual adat, di samping sebagai tempat bermainnya anak-anak.

Natas jadi tempat bersatunya segala bentuk perbedaan dalam kampung dalam upacara adat yang digelar setiap musimnya. 

Sebut saja upacara upacara paki kaba, upacara hang woja, dan masih banyak upacara lainnya yang melibatkan semua warga kampung.

Wae Bate Teku
Wae atau air merupakan unsur paling penting dalam kehidupan manusia termasuk kami orang Manggarai.

Karenanya wae termasuk unsur vital yang senantiasa diperlukan bagi kelangsungan hidup. Saking pentingnya wae dalam budaya cear cumpe atau Wa'ung wa tana di Manggarai pasti ditanyakan wa'u dan wae bate teku.

Masing-masing suku pasti memiliki wae teku yang khusus, ini menjadi unsur penting bagi kami orang Manggarai.

Compang Bate Takung
bagi orang Manggarai Compang atau mesbah merupakan salah satu sarana persembahan kepada Jari agu Dedek (Tuhan).

Dalam upacara Hang Woja di Manggarai Timur misalnya, Compang merupakan sarana pemujaan bagi Jari Agu Dedek atas semua berkat yang diterima berupa panen yang berlimpah selama satu musim tanam.

Selain itu Compang juga dijadikan tempat untuk mengadakan upacara-upacara adat yang besar sebut saja Paki Kaba dan sederet upacara adat lainnya.

Compang juga jadi tempat berdiamnya Naga Beo (Sang pelindung) manakala ada serangan roh jahat yang datang menghantui warga kampung.

Saking penting dan sakralnya Compang, maka letaknya selalu di bagian tengah Natas, ini menunjukan bagaimana orang Manggarai memuja Jari Agu Dedek (Sang Pencipta) jauh sebelum masuknya agama di tanah Manggarai.

Orang Manggarai dan Tradisi
Sejak masih dalam kandungannya, kami orang Manggarai sudah mengenal tradisi hidup yang patut dijalankan.

Tradisi ini jadi penjabaran dari prinsip hidup yang lebih konkret, tradisi juga dijadikan acuan bagi kami untuk bertindak dan bergaul dalam keseharian.

Tradisi memang tidak ditulis, namun dijalankan secara turun temurun. Meski ada beberapa tradisi yang wajib dilaksanakan oleh orang Manggarai, namun adapula tradisi yang sifatnya tidak wajib.

Ada sanksi bagi setiap orang atau individu yang melanggar, mulai dari denda hingga sanksi sosial lainya yang memiliki efek jera.

Misalnya tradisi membawa pisau bagi seorang ibu yang tengah mengandung, tradisi ini berlaku di Manggarai Timur wilayah Manus.

Bagi orang Manus ada keharusan membawa pisau bagi seorang ibu hamil jika bepergian ke luar rumah. Pisau diyakini dapat menakut-nakuti setan suanggi yang hendak mengganggu sang jabang bayi.

Selain itu ada tradisi Tepal yang wajib dijalankan oleh tu'a teno sebelum memasuki musim tanam. Tepal adalah sebuah tradisi memberi makan kepada Jari Agu Dedek sebagai penguasa bumi dan langit agar diberikan panen yang berlimpah.

Ada sanksi jika sang tu'a teno enggan melaksanakan tradisi Tepal. Tanaman yang ditanam pada musim itu bisa gagal panen, karena diserang hama bahkan diyakini bisa terjadi kemarau berkepanjangan.

Tradisi inilah yang senantiasa mengikat orang Manggarai, menjadi penunjuk arah dan tata cara bersosialisasi.

Tradisi jadi bagian penjabaran secara khusus dari lima pilar prinsip hidup orang Manggarai.

Irong Sebagai Tradisi Penghormatan Kepada Orang Mati

Seperti yang telah diuraikan sebelumnya tradisi merupakan penjabaran dari 5 prinsip hidup orang Manggarai.

Tradisi merupakan operasional konkret dari lima pilar hidup orang Manggarai, tradisi ini yang senantiasa mengatur kehidupan orang Manggarai yang sudah sejak dalam kandungan.

Bagi orang Manggarai ada beberapa tradisi yang lazimnya dilakukan oleh setiap orang sejak lahir, mulai dari membawa pisau oleh sang ibu, bertanya tentang status gender ketika dilahirkan (berupa pertanyaan ata pe'ang ko ata one), Cear Cumpe dan masih banyak lagi.

Tidak hanya berhenti di situ tradisi juga mengatur kehidupan orang Manggarai hingga ke liang lahat. Ketika orang Manggarai meninggal, ada sederet tradisi yang wajib diikuti salah satunya tradisi Irong.

Irong merupakan tradisi yang mewajibkan semua kelompok masyarakat dalam lingkungan tertentu untuk tidak bekerja selama seharian penuh.

Irong yang diartikan sebagai larangan (di Manggarai disebut "Ireng") biasanya diberlakukan sehari setelah jenazah dikuburkan ini merupakan bentuk penghormatan terakhir kepada almarhum yang telah pergi ke alam baka.

Tradisi ini hanya ada di beberapa daerah di Manggarai Timur, misalnya wilayah Manus, yang meliputi beberapa desa di kecamatan Kota komba.

Meski tidak ada catatan pasti kapan pertama kali tradisi ini diberlakukan di wilayah Manus, namun hingga kini tradisi ini masih tetap dijalankan ditengah gempuran arus moderenitas.

Uniknya di hari  Irong ini ada beberapa larangan yang tidak boleh dilanggar oleh warganya misalnya dilarang berkebun, dilarang melakukan aktivitas menanam, memetik, menyiam rumput.

Intinya semua kegiatan yang berkaitan dengan kerja dilarang selama seharian penuh. Hal ini sebagai bentuk penghormatan terakhir dan hari berkabung regional bagi sang almarhum.

Jika ada yang melanggar, maka ada sederet sanksi yang menanti pelanggar, mulai dari denda yang diberikan oleh tu'a teno hingga sanksi yang paling ringan seperti diyakini munculnya hama hingga gagal panen pada komoditas pertanian warga yang melanggar.

Selama seharian penuh warga hanya berdiam diri di rumah, kalian akan melihat ada mama-mama yang duduk berjejer di depan teras rumah.

Mereka terlihat sibuk mencari kutu, ini merupakan kegiatan rutin yang lazim dilakukan oleh mama-mama. ketika irong tiba.

Sementara bagi kaum bapak, hanya diisi dengan lejong, atau sekedar memberi air minum kepada ternak hal ini dilakukan selama seharian penuh.

Jenis-Jenis Irong

Ada beberapa jenis irong yang berlaku di Manus Manggarai Timur, irong ini diklasifikasikan berdasarkan jenisnya.

Mulai dari irong Teson, irong Tepal dan irong Mata yang selengkapnya akan dijabarkan sebagai berikut.

Irong Teson
Irong Teson berarti irong yang diberlakukan menyusul kematian jabang Bayi yang baru lahir. Irong ini dikategorikan irong dengan sanksi paling berat.

Biasanya ketika ada peristiwa kematian jabang Bayi, pihak keluarga harus secepatnya melaporkan hal itu pada tu'a teno.

Pagi-pagi buta sang tu'a teno akan menabuh gong sambil berteriak di natas yang intinya memberitahukan semua warga untuk tidak berkebun pada hari itu.

Jika masih melanggar maka pelanggar akan dibawa ke tu'a teno untuk didenda. Biasanya denda berupa Babi satu ekor dan beras yang dimasak  dan dimakan oleh seluruh warga di Natas.

Irong Tepal
Irong Tepal diberlakukan menyusul kegiatan Tepal (pemberian makan kepada Jari Agu Dedek sebagai penguasa alam untuk meminta hasil berlimpa).

Seperti irong Teson, irong ini juga memiliki sanksi yang lumayan berat jika dilanggar. Semua dodong (Hama) dipercaya akan menghabisi tanaman kita jika dilanggar.

Irong Mata
Jenis irong ini diberlakukan menyusul kematian warga kampung yang berusia Balita hingga lansia. Irong ini tidak seberat sanksi irong Teson dan Irong Tepal.
Antonius Rahu

Penulis merupakan Mantan Jurnalis, saat ini menetap di Labuan Bajo Flores

No comments:

Post a Comment