Orang Manggarai, Dureng dan Sistem Pertanian di Masa Lalu - Congkasae.com

Hoos ata werud

05 January, 2020

Orang Manggarai, Dureng dan Sistem Pertanian di Masa Lalu

Sistem pertanian Ladang Berpindah bagi Orang Manggarai jaman dulu/ Foto Congkasae.com

Baru-baru ini kamus Besar Bahasa Indonesia edisi V menambahkan kata Dureng kedalam daftar kata serapan bahasa Indonesia.

Kabar tersebut membawa rasa bangga tersendiri bagi kami orang Manggarai, mengingat kata tersebut menjadi salah satu kosa kata yang diambil dari bahasa Manggarai.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Dureng diterjemahkan sebagai du.reng/dure'ng/ n musim hujan di Flores yang ditandai dengan turun hujan setiap hari, siang dan malam.

Nah pas sekali dengan musim hujan yang sekarang ini sedang melanda Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dari pulau Miangas hingga ke Pulau Rote hahahaha.

Bicara soal musim hujan itu sendiri tentu saja masing-masing suku di tanah air melewatinya dengan beragam kegiatan.

Tergantung topografi tempat dan mata pencahariannya, bagi nelayan misalnya musim hujan banyak dihabiskan dengan memperbaiki jala yang mulai koyak atau bahkan dimanfaatken dengan memperbaiki badan kapal yang sudah lapuk.

Sementara bagi seorang petani mungkin banyak dihabiskan dengan bercocok tanam, merawat tanaman yang sudah ditanam hingga musim tuai tiba.

Sementara bagi Jomblo, musim hujan mungkin banyak diisi dengan kegiatan hibernasi di tempat tidur, on chat, on charger, on group sambil menanti kapan jodoh akan segera tiba hahahahahaha

Nah itulah beberapa kebiasaan masyarakat kita dalam melewati musim penghujan termasuk bagi masyarakat Manggarai.

Mau tahu orang Manggarai zaman dahulu itu pada sibuk ngapain sich di musim hujan seperti sekarang ini? yuk kita kepoin dalam artikel berikut ini.

Orang Manggarai dan Dunia Agraris
Bicara soal dunia agraris tentu yang paling jago itu orang Manggarai sudah, mengapa demikian? 

Jawabannya tentu saja karena masyarakat Manggarai itu sebagian besarnya hidup dengan bercocok tanam.
contoh tanaman padi di Ladang/ Foto Congkasae.com

Ya betul sekali berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik ketiga kabupaten di Manggarai Raya, mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani.

Ini ternyata tidaklah mengherankan karena bagi orang Manggarai bercocok tanam itu sudah menjadi napas kehidupan sejak zaman dahulu kala.

Makanya hampir mustahil sekali jika ada orang Manggarai yang tidak memiliki tanah, kebun atau sawah warisan orang tuanya. Kecuali jika sudah dia jual untuk bayar belis itu hal lain lagi hahaha

Tapi hampir semua orang Manggarai memiliki tanah warisan berupa kebun kopi, kebun cengkeh, kemiri, kakao dan sawah.

Ini rupanya sudah menjadi prinsip hidup orang Manggarai seperti yang pernah diuraikan di artikel sebelumnya. bagi kalian yang belum tahu prinsip hidup orang Manggarai bisa baca di artikel ini.

Orang Manggarai Punya dua Musim
Nah..........kalau itu semua orang juga tahu, pasti musim hujan dan musim kemarau kan?  Tapi tunggu dulu.

Konon katanya karena orang Manggarai sebagian besar berprofesi sebagai petani, maka secara umum orang Manggarai juga mengenal dua musim dalam hidupnya.

Wulang Cekeng (musim kerja) dan wulang ka'eng bo (musim istirahat),  ya Wulang Cekeng itu berkisar antara bulan Oktober hingga Mei.
padi Ladang lebih tinggi dari pada padi di sawah Foto Congkasae

Sementara wulang ka'eng bo itu berkisar antara bulan Juni hingga September. Wulang Cekeng itu berarti musim kerja.

Pada musim ini semua masyarakat bergegas mempersiapkan lahan mereka untuk menanam, merawat tanaman yang sudah jadi sampai musim panen datang.

Lagi-lagi ini terjadi antara rentang bulan Oktober hingga Mei, karena dahulu kala orang Manggarai hanya mengenal sistem pertanian ladang berpindah.

Mereka belum mengenal sistem persawahan yang belakangan dikembangkan oleh misionaris Belanda.

Nah balik lagi tadi ke wulang ka'eng bo, musim ini dalam rentang antara bulan Juni hingga September. 

Dinamakan wulang ka'eng bo karena pada musim ini mereka tidak melakukan aktivitas tanam-menanam. 

Mereka baru saja memasuki masa panen dan saatnya bagi mereka untuk beristirahat menikmati hasil panen dalam tahun itu.

Lantas apa yang mereka lakukan selama wulang ka'eng bo? Yuppp benar sekali mereka hanya melakukan aktivitas berburu.

Orang Manggarai pada masa itu masih sangat primitif, mereka belum mengenal sistem persenjataan yang canggih seperti sekarang ini.

Alat berburu mereka hanyalah tombak dan parang, dibantu oleh anjing peliharaan. Apalagi hewan liar seperti rusa (tagi), Babi Hutan (Motang) dan sejenisnya masih banyak berkeliaran.

jadi ini sangatlah memudahkan mereka untuk memperoleh hasil buruan, jika hasil buruannya banyak biasanya mereka mengawetkan daging dengan teknik pengasapan.

Daging dijemur di terik matahari atau di Leba (tempat di bagian atas tungku api) daging ini disebut dengan istilah Dende.
Dulu rusa di Manggarai banyak dan sering jadi target buruan warga

Sementara di Manus Manggarai Timur daging dende ini disimpan dalam sebuah wadah yang terbuat dari bambu mereka menamainya dengan istilah Buku Nakeng.

Daging ini akan disimpan hingga wulang cekeng berikutnya tiba, setiap tahun mereka melakukan hal-hal yang sama seperti itu.

Pada masa itu orang Manggarai belum mengenal adanya agama, mereka masih menganut kepercayaan animisme dan dinamisme.

Sistem perkawinan Tungku dan praktek Poligami sangat marak terjadi di masyarakat Manggarai kala itu. Orang boleh bersuami atau beristri lebih dari satu, sepanjang bisa menafkahinya lahir batin.

Siapa yang kuat secara fisik dan punya ilmu kebal dia yang paling ditakuti, serta memiliki istri yang banyak dan cantik-cantik.

Hmmmm......enak juga ya hidup di zaman itu? hahahahahaha

Meski demikian mereka sudah meyakini adanya sang pencipta dengan menyebutnya Jari agu Dedek yang kemudian disebut Mori Kraeng setelah agama masuk ke tanah Manggarai.

Masuknya Misionaris dan Moderenitas di Tanah Manggarai
Pada tahun 1667 untuk pertama kali Misionaris barat menginjakkan kakinya di tanah Manggarai tepatnya di Reok.

Misi utama mereka adalah menyebarkan agama di derah jajahan salah satunya Indonesia. Meski pengaruh barat sebenarnya lebih dulu masuk ke Flores melalui Belanda dan Portugis yang menjajah wilayah Flores kala itu.

Salah satu bukti peninggalan portugis dan Belanda misalnya adalah pembangunan jalan lintas Flores yang sekarang disebut jalur Trans Flores.

Meski awalnya dibangun dengan menggunakan tenaga fisik, namun hal tersebut berhasil membuka akses dan membuka keterisolasian lintas suku di daratan Flores.
Jalur trans Flores dulunya dibuka oleh penjajah Foto Congkasae

Selain itu, kedatangan mereka juga membawa dampak yang cukup signifikan bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di tanah Manggarai.

Terlebih khusus bagi dunia pertanian sanitasi dan kesehatan serta pendidikan bagi orang Manggarai. Sekolah-sekolah mulai didirikan di wilayah Manggarai.

Sistem perkawinan tungku dibatasi, untuk menekan laju pertumbuhan kasus penyakit genetika yang sedang terjadi.

Sistem perkawinan Poligami dihentikan hal tersebut dianggap melanggar ajaran agama keristen yang tidak memperbolehkan hal itu.

Serta sektor pertanian yang semula hanya mengandalkan sistem ladang berpindah kini berubah ke teknologi pertanian moderen.

Varietas bibit unggul mulai dari padi, jagung, Kopi, kapuk, kapas, Kakao, Cengke, Vanili dan sistem pertanian sawah sudah mulai diperkenalkan pada masyarakat setempat.

Orang Manggarai mulai beralih dari sistem pertanian konvensional ke sistem pertanian moderen dengan hasil yang jauh lebih maksimal seperti yang kita nikmati saat ini.

Kedatangan mereka benar-benar menjadi kunci bagi gerbang dunia di masa depan seperti yang kita nikmati saat ini.
Sekolah Rakyat SR pada masa penjajahan Belanda/ Foto Pinterest

Dunia Sanitasi dan kesehatan juga sudah mulai bisa diakses oleh masyarakat lokal setempat, pakayan yang lebih moderen diperkenalkan kepada masyarakat lokal setempat.

Sebelumnya masyarakat lokal hanya mengenakan pakayan penutup kelamin, mereka menyebutnya dengan istilah tarik.

Orang yang memakai calana panjang kala itu disebut tuang, mereka sangat takut dengan tuang yang memakai celana panjang.

Saya baru sadar kalau memakai celana panjang itu dulunya di Manggarai sangat ditakuti serta memiliki status sosial yang tinggi hahahaha

Orang Manggarai di Masa Depan
Jika kita menengok lagi ke belakang mengenai bagaimana sejarah nenek moyang kita dulu maka patutlah kita bersyukur karena kita dilahirkan di era moderen seperti saat ini.

Dengan segala kemudahan yang kita nikmati saat ini, kita bisa makan nasi tanpa mengeluarkan sedikit tenaga untuk tumbuk padi.

Bisa menjual hasil panen Kopi, Kemiri, Cengke tanpa harus memikul dari kampung ke kota, semuanya dilakukan dengan serba instan dan mudah.

Uangnya bisa dipakai untuk membeli pulsa untuk bisa akses wesbuk dan WA chating dengan pacar, gebetan termasuk mantan dan selingkuhan ooops.

Termasuk membaca artikel ini dengan cuma-cuma sambil tersenyum entah kenapa saya juga tidak paham hahahaha
Di Masa depan Orang Manggarai lebih banyak yang bekerja di kantoran / Foto Pinterest

Semuanya dilakukan dengan instan dan gampang, saya tidak bisa membayangkan jika kita hidup di zaman itu dulu habis baca artikel ini mungkin pulang ke rumah sudah bisa jadi guru di SR alias sekolah Rakyat yang hanya sampai kelas 3 saja, itupun muridnya sudah pada usia di atas 30 tahun hahahaha

Di masa depan orang Manggarai diproyeksikan banyak yang meninggalkan sektor pertanian. Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah populasi angakatan kerja yang enggan berkebun dan lebih memilih berprofesi sebagai pegawai kantoran.

Status Agraris yang selama ini melekat pada diri orang Manggarai lama kelamaan sirna, karena tidak lagi mengurus kebun kopi dan sawah.

Profesi petani dianggap sebagai profesi kelas bawah yang tidak diminati kaum mudah Manggarai masa kini.

Tapi semuanya itu baik-baik saja jika memang itu menjadi pilihan hidup, asalkan tekun dijalankan di negara ini siapapun bisa menjadi presiden, anggota DPR, bahkan petani sekalipun.

Asalkan ada niat baik dan ketekunan maka selalu ada jalan yang terbuka lebar untuk kita lalui.

Meski demikian semoga tanah dan kebun kopi tidak sampai dijual apa lagi jika diperuntukan bagi kepentingan sida dan belis yang mencekik di batang leher itu repot namanya hahahahaha

Penulis merupakan pemerhati budaya Manggarai saat ini menetap di Labuan Bajo Flores

No comments:

Post a Comment