Potret Orang dengan Gangguan Jiwa di Sikka dan Kepedulian ordo Kamilian - Congkasae.com

Hoos ata werud

03 March, 2020

Potret Orang dengan Gangguan Jiwa di Sikka dan Kepedulian ordo Kamilian

Orang dengan Gangguan Jiwa di Sikka Flores, Foto Agus Gunadi/Congkasae.com

[Congkasae.com/Lejong] Kasus pasien Orang Dengan Ganguan Jiwa (ODGJ) di kabupaten Sikka adalah salah satu kasus yang menarik untuk dibahas.

Dalam sapaan akrab Fraters Kamilian, mereka dipanggil ODGJ. Bila kita melintasi sekitar kota Maumere, banyak sekali ODGJ yang bisa kita lihat.

Mereka jalan kesana-kemari dengan kekhasannya masing-masing. Memang ODGJ seringkali diidentikkan dengan orang yang agresif dan sangat berbahaya bagi masyarakat luas.

Sehingga, jarang orang mendekati mereka, karena takut dipukul maupun dibunuh. Apalagi, mereka seringkali membawa barang tajam.

Siapa yang mau dekat!. Ya, begitulah pandangan banyak orang tentang keberadaan ODGJ.
Dalam menghadapi tingkahlaku mereka yang demikian, adakah solusi praktis dari pihak pemerintah, keluarga maupun masyarakat tertentu?

Mungkin, jawaban secara dininya, belum terlalu nampak. Karena faktanya, masih banyak ODGJ yang terlihat maupun tidak terlihat (disekap oleh keluarganya) di Kabupaten Sikka ini.

Untuk menimalisir peningkatan ODGJ di Kabupaten itu, biara Kamilian sejak tahun 2016 mulai menangani pasien ODGJ.

Sejak misi itu dimulai, anggota biara Kamilian menelusuri beberapa tempat dan mengadakan kunjungan kekeluargaan bersama ODGJ maupun keluarganya.

Ada banyak kisah yang menarik selama kunjungan berlangsung, diantaranya kisah tentang awal mula terjadinya gangguan jiwa dalam diri pasien, yang pada akhirnya keluarganya sendiri memasung orang yang bersangkutan.

Alasan dasar, pemasungan terhadap ODGJ karena seringkali melakukan tindakan yang meresahkan masyarakat sekitar yakni  berperilaku agresif terhadap keluarganya sendiri.
Salah seorang Pasen ODGJ tampak berada di dalam Rumah bebas pasung, Foto Andi Gunadi/Congkasae.com

Alasan lainnya ialah, apabila pasien ODGJ tidak dipasung dia akan berjalan tanpa sepengetahuan keluarganya dan sulit untuk pulang rumah.

Atau hal lain yang lebih mirisnya lagi kalaupun berhasil  pulang rumah mereka kerap kali  tidak mengenal keluarganya lagi.

Agar tidak terjadi persoalan serupa, keluarga memilih jalan alternatif untuk mengamankan mereka dengan dipasung.

Biasanya mereka ditempatkan di sebuah tenda atau gubuk sederhana, terpisah dari rumah keluarganya.

Mereka dipasung pada salah satu kaki atau kedua kakinya pada sebatang balok atau kayu yang berukuran besar dan berat sehingga mereka sama sekali tidak dapat bergerak dengan bebas.

Dalam keadaan seperti ini, mereka dipasung selama belasan tahun bahkan puluhan tahun lamanya.
Syukur kalau keluarga memperhatikan mereka, dengan memberi makan setiap hari. Jika tidak, mereka mengalami kelaparan.

Saat diberi makan, kaki mereka tetap dipasung agar bisa bergerak. Lebih parahnya lagi, saat Buang Air Besar (BAB) dan tidur pun masih di tempat yang sama.

Itulah, kisah pilu pasien ODGJ yang sempat dikunjungi oleh para fraters dan imam Kamilian.

Bukan hanya itu, kebanyakan pasien ODGJ tinggal di sebuah tenda dengan atap yang sederhana, tidak dilindungi secara baik dari keluarga terdekatnya sehingga cuaca buruk, gigitan nyamuk, kepanasan, kedinginan, hujan dan angin tidak terelakkan dari kehidupan mereka.

Keluarga pun merasa takut untuk mendekati mereka dan merasa bosan karena pasien ODGJ yang mereka tangani tak kunjung sehat.

Rumah Bebas Pasung sebagai Sebuah Alternatif
Sebagai ordo yang bergelut bidang kesehatan, Ordo Kamillian-Maumere dengan segala kekurangan dan keterbatasan mencoba mendekati pasien gangguan jiwa dengan memberikan pelayanan.

Merasa tergerak dan terpanggil untuk melayani pasien gangguan jiwa setelah para Frater mengunjungi gubuk atau tenda tempat mereka tinggal.

Adapun tempat yang pernah dikunjingi para iman Kamilian maupun para Frater yakni di kecamatan terdekat yakni kecamatan Nita, Nele, Koting dan Waigete dan tempat-tempat lain yang bisa dijangkau.

Setelah melihat secara baik, apa yang dibutuhkan pasien ODGJ akhirnya memutuskan dan memberikan solusi praktis yakni “Membangun Rumah Bebas Pasung” agar mereka bisa tinggal dan hidup nyaman.

Ordo Kamilian, menyadari bahwa pasien perlu dibebaskan dan diberikan perawatan yang lebih manusiawi tanpa harus dipasung.

Mengingat bahwa sampai saat ini, pemerintah setempat belum secara maksimal menangani pasien ODGJ.
Salah seorang pasien perempuan tampak menatap pengunjung dari Balik kaca rumah Bebas Pasung yang dibangun Ordo Kamilian, Foto Andi Gunadi/Congkasae.com

 Walaupun Dinas Kesehatan melakukan kunjungan dan memberikan pengobatan, namun belum mendapatkan hasil yang memuaskan.

Karena itu, biara Kamilian mencari jalan lain dengan mengadakan program “Rumah Bebas Pasung”.

Secara fisik, rumah bebas pasung dapat memberikan rasa nyaman dan membebaskan pasien ODGJ dari tradisi pemasungan.

Harapannya rumah seperti ini dapat memberikan kenyamanan bagi pasien ODGJ. Di rumah berukuran 3x4 ini, setidaknya mereka terlindungi dari cuaca buruk, baik panas maupun dingin.

Dengan lantai yang  berjubin, tempat tidur, kamar mandi dan Wc dalam, dinding dan plafon dari rangkaian beton yang dilapisi pelupuh bambu, jendela kecil dibuat agar para pasien bisa menikmati udara segar.

Selain itu di dalam rumah ini, pasien bisa merasa lebih rileks sehingga mengurangi tekanan emosional yang mungkin terjadi.

Keluarga pun bisa mengunjungi mereka setiap saat tanpa merasa takut. Karena pasien sebelum tinggal di rumah baru (rumah bebas pasung) terlebih dahulu diberi obat penenang dari Dinas Kesehatan.

Hal yang paling penting lagi adalah soal rasa aman dalam masyarakat yang sebelumnya merasa takut dengan adanya  ODGJ karena pasiennya sudah tinggal di dalam rumah bebas pasung.

Tujuan pembuatan rumah dinding yang dirangkai beton yakni agar pasien tidak mudah merusakkannya dan keluar sembarangan.

Tempat pembuatan rumah pasien, tidak terlalu jauh dari rumah keluarganya sehingga setiap saat keluarga bisa mengontrol.

Selain itu mudah untuk memberikan makan dan minum, dimandi dan diperhatikan pakaiannya.
Dengan cara demikian juga bisa membangun kembali relasi antara keluarga dengan pasien.

Menurut pengakuan P. Andi Suparman, MI dan keluarga besar ordo Kamilian pembangunan rumah bebas pasung bisa menghemat biaya dibandingkan perawatan yang berkepanjangan di rumah sakit jiwa.

Jarak pembangunan rumah bebas pasung yang begitu dekat dengan keluarga bisa memberikan keefektifan kerja bagi keluarga yang menanganinya. Keluarga bisa berpartisipasi dalam proses penyembuhan pasien.

Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan Biara Kamilian, tentunya bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, puskesmas setempat yakni puskesmas di mana pasien ODGJ berada.

Keadaan Pasien Setelah Bebas dari Pasung
Sejak tahun 2016 sampai sekarang, ordo Kamilian telah membangun 35 unit rumah bebas pasung untuk pasien ODGJ.

Sekitar 17 orang pasien, setelah dibuat rumah dan dibebaskan dari pasung mengalami kesembuhan.

Rumah bebas Pasung yang dibangun Ordo Kamilian, Foto Agus Gunadi/Congkasae.com
Sedangkan yang lainnya, masih dalam proses penyembuhan. Setelah kesehatan mereka membaik, mereka bergabung kembali dengan keluarga.

Layaknya seperti manusia biasa. Keluarga pun diminta agar secara rutin mengontrol kesehatan mereka, dengan mengambil obat di puskesmas terdekat.

Alhasil, pasien yang sebelumnya dipasung menjadi baik. Itu karena berkat Tuhan dan kerja keras semua pihak.

Penulis: Agus Gunadin
Editor: Antonius Rahu

No comments:

Post a Comment