Ketika Nenggo Manggarai Timur Dimaknai dalam Kehidupan Nyata - Congkasae.com

News Update

20 April, 2020

Ketika Nenggo Manggarai Timur Dimaknai dalam Kehidupan Nyata


***Oleh Erdus Anggal***
Tulisan ini di peruntukan orang yang bisa menggunakan bahasa Manggarai.

Memang tidak semua orang Manggarai Timur menyukai atau tertarik dengan Nenggo yang walaupun sewaktu kecil hampir seluruh orang Manggarai Timur sering dinyanyikan Nenggo oleh Ende agu Eman  (Ibu dan Ayahnya), lopo agu mekas (Nenek dan kakek) ataupun mendengarkannya pada waktu acara adat (Penti, Hang Woja WERU, Kelas, Pesta Sekolah, dan lainnya).


Nenggo adalah lagu daerah Manggarai Timur  yang berisikan go'et sastra lokal dengan arti yang sangat  mendalam.

Nenggo yang dinyanyikan biasanya mudah dihafal liriknya, lantaran go'et (kata-kata) dalam liriknya tidak begitu banyak.

Yang menariknya lagi di penutup lagu selalu diberikan Danding yang iramanya menyejukkan.

Lirik nenggo memberikan banyak arti filosofi kehidupan bermasyarakat, menceritakan tentang sebuah permasalahan, memberikan pesan moral yang sungguh penuh arti dalam bentuk nyanyian.

Dalam kasus ini mari kita lihat salah satu contoh lirik nenggo berikut ini yang merupakan lirik nenggonya kraeng Videlis Jong;

‌"Matik Deming hau Weta teneng, wae kolang  Mane,gula ge".

Sepenggal lirik ini memiliki arti yang menceritakan sindiran secara halus kepada seorang istri yang telah bercerai dengan suaminya dan juga memberikan harapan besar kepada yang mendengar ucapannya untuk tidak terjerumus kepada masalah yang di alaminya.

Mari kita melihat contoh berikutnya yang diambil dari lirik lagu Lino Cenggo karya kraeng Tonce Warat berikut ini.

"‌Lino Senggo oh Lino Senggo, ramen lejong o ae. Oh ia cap le a  kap le a , le ca meter o ae"

Lirik yang menceritakan kehidupan manusia yang bersifat sementara di bumi sehingga semestinya hidup selalu bersama, berdampingan tanpa ada percekcokan (arti lain dari lejong) sebelum ajal itu datang menjemput (le ca meter).

Terlalu banyak masalah yang menimpa kehidupan manusia . Entah kadang dibuat sendiri, dibuat orang lain, atau merasa terbebani.

Namun jangan sampai kita lupa mengendalikan diri. Jika memang sudah terjebak dalam masalah mestinya perlu mencari jalan keluar.

Mungkin dengan merefleksikan diri, Berdoa, mendengarkan petuah, mendengarkan nenggo dan lainnya.

Terlalu banyak lirik nenggo yang memberikan makna moral baik kepada anak muda, orang dewasa, pemimpin negara dan lainnya yang dapat digambarkan maknanya.

Namun ada pesan khusus untuk pemuda generasi Manggarai Timur untuk kemudian tidak meninggalkan warisan khas kita di tana congka sae. 

Pesan budaya yang penuh makna jarang ditemui dalam kehidupan modern, maka dengan demikian kita semestinya menjadi roda yang akan meneruskan budaya lokal ini.Nenggo adalah salah satunya .

Warisan Ende agu ema yang bijak adanya perlu dijaga, dirawat layaknya kita mencintai diri sendiri atau Mencintai Ibu kita.

Jika ingin mengetahui seperti apa sebenarnya nenggo Manggarai timur hadirlah upacara adat Manggarai Timur dan saksikan sastrawan tu'a (Tua) ketika mengeluarkan go'etnya.

Penulis merupakan mahasiswa Manggarai Timur saat ini berdomisili di Malang.

No comments:

Post a Comment