Di Pantai Alokewi Matim Ada Pelangi yang Tercipta Setiap 3 Menit - Congkasae.com

News Update

close
MAU CETAK UNDANGAN, Cetak FOTO, UNTUK PERNIKAHAN ANDA?
Ke TONY PRINTING saja, Hubungi kami di 082 342 994 060

 


14 Agu 2021

Di Pantai Alokewi Matim Ada Pelangi yang Tercipta Setiap 3 Menit

Pantai Alokewi di kawasan Padang sabana Mausui/Foto Antonius Rahu


[Congkasae.com/Wisata] Pernah terbersit dalam benak kalian tentang suasana padang sabana yang membentang luas dengan ternak seperti di Afrika?  Tentu saja kalian akan merasa penasaran hendak mengunjungi tempat tersebut bukan? 


Tapi kalau hanya ingin melihat pemandangan padang tak berujung dengan pantai pasir putih dan ombak yang membentuk air mancur ke udara (Spreading water), kalian tak perlu ke luar daerah, apalagi sampai keluar negeri. 


Pasalnya, di Manggarai Timur ada sebuah lokasi wisata tersembunyi yang selama ini tak banyak diketahui publik namanya Padang Sabana Mausui. 


Letaknya di kelurahan Watu Nggene, kecamatan Kota Komba, kabupaten Manggarai Timur. 


Jika kalian melintas dari arah Borong, sebelum memasuki Wae Lengga terdapat pertigaan ke arah selatan kalian belok kanan di pertigaan itu, lalu ambil lurus di jalan itu hingga menemui bibir pantai. 


Awalnya kalian akan disambut dengan kubangan kerbau raksasa dimana ratusan ekor kerbau berendam di kubangan itu. 


Namanya adalah kubangan Mausui, di kubangan ini kalian akan melihat bagaimana kerbau menghilangkan kegerahannya dengan berendam di air laut di kubangan itu. 


Melihatnya saya membayangkan seperti berada di Afrika dalam filem The Bleanded yang menceritakan sekelompok keluarga Amerika Serikat yang berlibur ke Afrika. 


Merasa penasaran setelah memotret kelompok kerbau di kubangan Mausui saya kembali menghidupkan kendaraan dan menelusuri jalanan yang tampak rusak di beberapa titik Minggu (10/8/2021) pagi. 


Kondisi cuaca pagi itu terasa sangat terik meski jarum jam di pergelangan tangan saya menunjukan angka 9, rasa-rasanya matahari seperti berada di bubung rumah.


Namun gerah yang saya alami itu terbayarkan oleh pemandangan padang tak berujung setelah melewati tanjakan.


Dari kejauhan saya melihat gerombolan kuda seukuran semut dengan latar gunung Komba, di tengah padang itu tampak jalan tanah yang berliuk-liuk ibarat ular. 


Sejenak saya menghentikan laju kendaraan saya dan merabah camera yang tergantung di leher untuk membidik gambar. 


Setelah itu saya kembali meneruskan perjalanan saya menelusuri jalan tanah yang berliuk-liuk itu. 


Saya kembali menjumpai gerombolan kerbau yang tampak sibuk mengisi perut dengan rumput hijau yang membentang luas. 


Tak jauh dari gerombolan kerbau itu, saya melihat gerombolan kuda yang juga sibuk mengisi perut mereka. 


Tak ada orang di padang tak bertepi itu, kondisinya lengang, saya hanya ditemani hewan ternak.


Jika mengarahkan pandangan ke arah timur, kalian akan melihat kota Aimere, yang berada di tepi pantai dengan latar gunung Inerie yang menjulang tinggi di kabupten Ngada.



"sungguh ibarat berada di filem The Bleanded, "gumamku dalam hati. 


Meski panas dan gerah namun keringat yang bercucuran itu terbayarkan oleh suguhan pemandangan alam yang menakjubkan. 

Pesona Pantai Pasir Putih Mbaja yang Sangat Menggoda

Bermain dengan ombak di pantai Mbaja/Foto Antonius Rahu


Jika mengarahkan pandangan ke arah selatan di padang itu terpampang jelas lautan  lepas dengan deburan ombak setinggi hampir setu meter khas pantai selatan yakni laut Sawu.


Karena gerah timbul pikiran untuk berendam di laut saya pun menelusuri jalan tanah menuju kawasan pantai yang terlihat cukup jauh dari lokasi saya berdiri. 


Benar saja setelah menelusuri jalan tanah itu saya menghabiskan waktu cukup lama untuk bisa sampai di pantai berpasir putih dengan ombak setinggi satu meter itu. 


Dari kejauhan saya melihat pasir putih dengan beberapa pohon yang tumbuh di pinggiran pantai selebihnya lokasi itu ditumbuhi rumput khas padang sabana.


Saya kembali seperti berada di alam lain, alam yang mendeskripsikan kata surga dalam pandangan mata. 


Saya bergegas menghampiri pantai berpasir putih dengan ombak yang menderu seolah sedang mengucapkan selamat datang pada saya. 


Pantai itu ternyata bernama Pantai Mbaja, di ujung barat nya terdapat bebatuan karang membentuk jurang, di pantai ini terdapat beberapa pohon lontar dengan latar padang Sabana Mausui yang membentang luas.


Sesekali terlihat kawanan Sapi yang melintas di belakang tempat saya berdiri. 


Saya mulai melepaskan baju hendak berendam mengusir panas terik yang menguras keringat saya dari awal. 


Rasanya sangat segar, oh iya kondisi ombak siang itu juga lumayan tinggi karenanya saya takut berendam terlalu dalam, karena glombang laut yang berkecamuk. 


Namun dibalik glombang tinggi itu rupanya menciptakan foto yang luar biasa indah dengan pasir putih dan padang Sabana terutama bagi kalian penggemar fotografi, tempat ini sangat cocok untuk kalian kunjungi. 


Setelah puas berendam, saya bermain main dengan camera untuk memotret deburan ombak diabadikan dalam potret gambar yang saya gunakan untuk bekal pulang ke rumah. 


Di pantai ini juga kalian akan menemui kerang-kerang unik sangat cocok bagi kalian yang memiliki hobi mengoleksi kerang untuk art. 


Di pantai ini juga sangat cocok untuk kalian yang memiliki hobi selancar. 


Spreading Water di Pantai Alokewi

Semburan air laut setinggi hampir 3m ke udara/Foto Antonius Rahu


Puas berendam di pantai Mbaja, saya pun mengayunkan langkah ke arah timur, menyusuri pantai berpasir putih dengan dihiasi deburan ombak laut Sawu, tibalah saya di sebuah lokasi yang tak kala indah dari pantai Mbaja. 


Namanya pantai Alokewi, lokasinya di balik tanjung yang sekaligus menjadi tirai pemisah antara kedua pantai itu. 


Dari jauh saya melihat bentangan pantai pasir putih yang bersih, dengan balutan padang Sabana Mausui, namun lokasinya lebih landai ketimbang pantai Mbaja yang saya temui sebelumnya. 


Di ujung timur pantai itu terdapat sebuah batu karang raksasa yang membentuk tanjung.


Di ujung tanjung itu sesekali saya melihat ada semburan air laut ke udarah semakin besar gelombang laut dan ombak yang tercipta, maka semburan air laut ke udara semakin tinggi. 



Karena penasaran saya terus menelusuri pantai itu hendak mengarah ke arah semburan. 


Namun langkah saya terhenti oleh sebuah batu karang yang curam dengan kondisi langsung menancap di lautan, dilihat dari airnya tampaknya dalam, akhirnya saya melewati padang dengan waktu tempuh yang cukup lama untuk bisa sampai ke lokasi semburan itu. 


Sampai di ujung tanjung kecil itu betapa menakjubkannya pemandangan alam yang saya temui terpampang nyata di depan mata. 


Ternyata semburan air laut yang juga disebut spreading water yang Saya temui itu sangat indah, semburan itu tercipta akibat hempasan gelombang air laut pada ujung batu karang yang membentuk semburan air ke udara.


Semakin besar gelombang laut yang menghempas ke batu karang itu, semburan air laut yang diciptakan semakin tinggi bahkan  diperkirakan bisa setinggi 2-3meter ke udara. 


Saya yang terkaget-kaget melihat spreading water itu mulai merabah camera untuk mengabadikan pemandangan langkah itu. 


Pelangi Tercipta Setiap 3 Menit

Setelah puas mengabadikan gambar dari jarak jauh, timbul keinginan untuk mengabadikan semburan air laut itu dari jarak dekat. 


Saya pun mulai mencari cara agar bisa menuruni jurang sedalam hampir 15 meter dari tempat saya berdiri. 


Ternyata di sebelah timur nya terdapat jalan masuk yang agak landai, memang diperluhkan keahlian memanjat tebing jika hendak menuruni tebing itu dengan kondisi batu karang yang tajam. 


Setela berusaha sayapun bisa sampai ke batu karang besar dekat dengan lokasi semburan itu. 


Saya mulai menyetel mode camera ke posisi automode untuk merekam momen langkah yang terpampang di depan mata. 


Benar saja 3 menit berselang setelah saya mendengar gemuru ombak saya melihat semburan air setinggi hampir 3 meter ke atas udara. 


1 menit berselang dua semburan serupa terjadi di sisi kiri dan kanan tempat saya berdiri. 


Semburan air laut yang setinggi 3 meter itu menciptakan pelangi akibat pantulan cahaya matahari siang itu. 


Dalam hati saya bergumam " Tuhan terima kasih untuk karyaMu yang luar biasa ini".


Berdiri di tempat itu seperti berada di surga meski baju saya basah kuyup akibat air semburan yang terlampau tinggi ke udara dan mengenai saya dan Camera yang saya pegang. 


Tanjung kecil di pantai Alokewi sangat cocok untuk kalian yang menyukai foto atau videografi atau bagi kalian yang mau foto prewedding dengan tema nature.  


Saya pun sudah memasukkan tanjung kecil di pantai Alokewi ini sebagai lokasi yang wajib dikunjungi setiap bulan. 


3 jam berada di tempat ini terasa belum puas, ada rasa ketagihan untuk kembali mengunjungi Padang Mausui, dengan pantai pasir putih Mbaja dan tanjung kecil dengan spreading water setinggi 3 meter ke udara di pantai Alokewi. 


Semua itu satu paket wisata lokasinya di kelurahan Watu Nggene, kecamatan Kota Komba, dan tidak jauh dari Wae Lengga.


Jangan lupa ajak keluarga rekan kerja, pacar, mertua, calon mertua termasuk mantan ke tempat ini ya. 


Tapi ingat jangan tinggalkan sampah ya karena tempat ini sangat bersih.


Penulis: Antonius Rahu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Uskup Ruteng Positif Covid