Jejak Orang Manggarai Flores di Jakarta, dari Budak Hingga Lahirnya Kampung Manggarai - Congkasae.com

News Update

close
MAU CETAK UNDANGAN, Cetak FOTO, UNTUK PERNIKAHAN ANDA?
Ke TONY PRINTING saja, Hubungi kami di 082 342 994 060

 


17 Agu 2021

Jejak Orang Manggarai Flores di Jakarta, dari Budak Hingga Lahirnya Kampung Manggarai

Orang Manggarai zaman dulu/Foto Wikipedia

[Congkasae.com/Sosial Budaya] Bagi orang Manggarai yang tinggal di Flores, nama Manggarai yang kerap muncul dalam pemberitaan di media-media Nasional mungkin memiliki keterkaitan dengan nama kabupaten Manggarai yang ada di pulau Flores bagian barat.


Pasalnya nama kampung itu seolah memiliki kaitan erat dengan nama Kabupaten Manggarai Flores, NTT yang kini sudah dimekarkan menjadi tiga kabupaten yakni Manggarai, dengan ibu kota Ruteng, Manggarai Barat dengan ibu kota Labuan Bajo dan Manggarai Timur dengan ibu kota Borong.


Penulis buku sejarah Jakarta Alwi Shahab mengatakan jika penamaan Manggarai di Jakarta itu memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan orang Manggarai di pulau Flores bagian Barat.


"terutama saat Piter Zoon Konstraat menaklukan Jayakarta sebelum berubah nama menjadi Batavia tahun 1619, kawasan itu merupakan kawasan tak berpenghuni,"tulis Alwi dalam bukunya.


Sementara untuk membangun Batavia (Jakarta) Belanda memerlukan tenaga kerja, kata Alwi Shahab dalam bukunya.


Alwi mengatakan untuk itu Piter Zon Constraat lalu memerintahkan pasukannya untuk mendatangkan tawanan perang dan penduduk asli dari Manggarai Flores, Bali, NTB dan Makassar, Benggala dan kepulauan Koromel (India) untuk dijadikan budak pekerja di Batavia.


"Mereka kemudian dijadikan budak untuk pembangunan benteng, jalan, dan rumah-rumah pejabat Hindia Belanda,"tulis Alwi.



Tempat Jual Beli Budak

Seiring berkembangnya bisnis yang dirintis VOC kawasan ini berkembang menjadi lokasi transaksi budak yang didatangkan dari luar Jawa, seperti Bali, Nias, NTB dan NTT.


Para tentara Belanda dan mitra bisnis perusahaan VOC membutuhkan perempuan yang dijadikan pemuas nafsu mereka, kawasan yang saat ini dinamai kampung Manggarai itupun dijadikan tempat jual beli budak pada saat itu.


Meski kekuasaan Piter Zon Konstraat berakhir kawasan ini masih dijadikan tempat jual beli budak hingga zaman gubernur Jendral Vann Der Parra.


Adolof Heuken SJ  dalam Historycal Site of Jakarta menulis, akibat tingginya permintaan akan budak perempuan harga beli budak perempuan saat itu menjadi lebih mahal ketimbang budak laki-laki.


Bahkan pada saat pemerintahan gubernur Jendral Vann Der Parra jumlah budak yang didatangkan dari luar Jawa untuk memenuhi permintaan mencapai 4000 budak dalam setahun.


"kehidupan para budak juga sangat memprihatinkan, mereka disiksa meski sedikit saja melakukan kesalahan,"tulis Heuken.


Budak-budak itu terus didatangkan dari luar Jawa seperti Bali, Sulawesi termasuk Manggarai di Nusa Tenggara Timur.


Jumlah budak yang didatangkan dari Manggarai semakin bertambah, mereka lalu membangun sebuah kampung yang mereka namai kampung Manggarai.


Penamaan kampung Manggarai sendiri untuk mengenang daerah asal mereka yakni di Manggarai Flores yang hingga ajal menjemput pun mereka tidak akan pernah bisa kembali ke tempat kelahiran mereka di Manggarai Flores.


Penulis: Tonny

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Uskup Ruteng Positif Covid