Intip Kemolekan Manggarai Timur dari Woko Sipi Desa Gunung Baru - Congkasae.com

News Update

close
Dukung kami dalam menyajikan karya yang Independen dan berkualitas
Donasi bisa dikirim ke No Rek BRI 4720-01-001-453-53-7, Hubungi kami di 082 342 994 060

 


28 Nov 2021

Intip Kemolekan Manggarai Timur dari Woko Sipi Desa Gunung Baru

 

Pemandangan Alam dari Woko Sipi Desa Gunung Baru/Foto Tonny

[Congkasae.com/Travel] Pernah mendengar wilayah desa Gunung Baru? ya mungkin sebagian dari kalian sudah pernah mendengar nama desa ini beberapa tahun terakhir.


Secara administratif desa ini masuk dalam wilayah kecamatan Kota Komba Utara, sebuah kecamatan di Manggarai Timur yang baru dimekarkan belum lama ini.


Desa Gunung Baru terletak di lereng pegunungan Mbengan dan golo embo oleh warga sekitar sering disebut woko embo, woko artinya gunung sedangkan embo berarti nenek moyang.


Akhir pekan kemarin Congkasae.com berkesempatan mengunjungi desa yang berjarak hampir 30 km sebelah utara kota wae Lengga itu.


Congkasae.com memulai perjalanan dari Ruteng menuju Wae Lengga wilayah perbatasan antara Manggarai Timur dan Ngada, dari Wae Lengga mengambil jalur menuju desa Gunung.


Secara umum kondisi jalan menuju desa Gunung terbilang masih mulus, meski masih terdapat lubang berdiameter 30cm-50cm menghiasi perjalanan.


Maklum aspal tersebut konon katanya dibangun pada masa pemerintahan Gaspar P. Ehok, namun secara umum kualitasnya jauh lebih baik bila dibandingkan aspal yang dibangun saat ini yang hanya berumur kurang dari sebulan sudah bisa dikelupas dengan tangan.


Itulah hebatnya Manggarai Timur berani mengambil risiko dengan mengeluarkan anggaran fantastis hingga miliaran rupiah untuk sebuah proyek yang hanya berusia kurang dari sebulan.


Sebuah pencapaian hebat yang tidak patut dibanggakan hahahahahaha, eits,,,,,,,kita lanjut, setelah keluar dari kota Wae Lengga kita akan menjumpai hamparan padang sabana yang diselingi pepohonan rimbun.


Di musim hujan seperti ini tak jarang di padang itu kerap jadi lahan garapan warga sekitar, penduduk di wilayah ini masih mempraktekkan sistem ladang berpindah.


Sebagian warganya masih menanam padi di lahan kering alias ladang, dengar-dengar praktik penti, dan tanam tradisional juga masih terpatri dalam sanubari penduduk di desa Gunung ini.


Makanya tidaklah mengherankan jika kita melintasi wilayah ini di bulan November hingga April, hamparan padang ini disulap warga jadi hamparan ladang padi yang amat sangat indah.


Namun jika melintas di bulan Juni hingga Oktober, sebagian hamparan padang Sabana ini ditumbuhi rerumputan dengan daun berwarna kecoklatan, hal ini memberikan kesan indah tersendiri dan jadi daya tarik tersendiri.


Setelah melewati padang Sabana itu, kita akan memasuki kampung Lete sebuah perkampungan dengan pemandangan alam antara pantai Wae Wole dan perbukitan serta kemolekan gunung Inerie di kabupaten Ngada.


Jika kalian beruntung, kalian akan melihat kabut tipis yang menyelimuti puncak tertinggi Inerie yang tinggi menjulang itu.


Terisolir Karena Akses Jalan yang Belum Dibangun

Perjalanan diteruskan hanya sekitar 30 menitan dari kampung itu kalian akan sampai di ujung aspal yang jadi perbatasan antara desa Gunung dan desa Gunung Baru.


Ujung aspal itu terletak di atas bukit, sisahnya kalian akan disuguhi jalan berbatu dengan radius hampir 5 km dari ujung aspal itu menuju Lait, kampung pertama di desa Gunung Baru.


Perjalanan dari ujung aspal menuju Lait bisa memakan waktu hampir 1 jam  dengan sepeda motor jenis matic, jika menggunakan kendaraan non matic mungkin hanya 30 menitan.


Jalannya juga terbilang cukup ekstrem penuh tikungan dan menurun, di musim penghujan seperti saat ini tak jarang jalan itu masih berlumpur akibat kubangan kerbau milik warga.


Kalian harap berhati-hati saja jika berkendara sama seperti memilih jodo harus ekstra hati-hati jika tidak ingin tercebur kedalam kubangan lumpur masa lalu yang tak terelakkan hahahahaha.


Yuppss pasalnya jika belum memiliki pengalaman berkendara di jalan berbatu maka kalian akan koprol secara gratis di jalan ini.


Maklum konon katanya jalan ini mau dilanjutkan pembangunannya awal tahun kemarin namun hingga kini kabar itu menghilang begitu saja tanpa kejelasan sama seperti Moni menggantungkan hubungan kami hingga saat ini hahaha.


Woko Sipi yang Memanjakan Mata

Puncak Gunung Inerie dari wilayah desa Gunung Baru/Foto Tonny

Namun jika kalian menyukai fotografi bertemakan alam saya rekomendasikan ke tempat ini, meski harus tertatih-tatih menghadapi ekstreme nya jalan bebatuan.


Pasalnya perjuangan kalian tak akan sia-sia apabilah kalian telah sampai di sebuah tempat yang bernama Woko Sipi.


Di tempat ini kalian akan menikmati suguhan pemandangan alam mulai dari deretan pegunungan Mando Sawu yang menjulang tinggi dengan diselimuti kabut tipis hingga ngarai yang dibentuk sungai Wae Mokel yang mengular dan menghidupi warga sekitar.


Sementara di lereng-lereng bukit itu kalian akan melihat kilauan cahaya singk yang merupakan perkampungan warga lintas kecamatan dari Kota Komba Utara hingga Elar Selatan.


Semuanya terpampang secara jelas di depan mata, sampai di titik ini rasa lelah kalian serta luka akibat masa lalu oops maksudnya luka akibat koprol gratis di jalan berbatu tadi akan lunas terbayarkan tanpa sisah utang hahahaha.


Woko Sipi merupakan tempat terbaik melepas kepenatan, melalui suguhan pemandangan alam maha karya sang pencipta.


Woko Sipi adalah tempat dimana ribuan inspirasi akan tercipta hanya dalam kejapan mata, Woko Sipi adalah sebuah tempat yang menyadarkan kita tentang karya agung sang pencipta.


setelah puas mengamati pemandangan alam kalian boleh meneruskan perjalanan menuju perkampungan di wilayah Gunung Baru.


Mulai dari kampung Dalur, Lait, Belang, Ndozu, Sile hingga Munda yang merupakan kampung terakhir sebelum memasuki sungai Wae Mokel.


Kalian boleh berinteraksi dengan penduduk sekitar yang siap menyambut kedatangan kalian bak saudara.

Penghasilan utama penduduk berupa kopi, Kemiri, kakao

Eits tapi ingat kalau ke desa ini kalian harus terbiasa mengonsumsi Kopi Pa'it yakni kopi tanpa gula yang menjadi minuman khas orang Manggarai Timur.


Jangan karena peramanya warga menyuguhkan kalian minuman kopi, lantas langsung diseruput begitu saja karena mayoritas penduduk desa ini minum kopi tanpa gula.


Bukan berarti tak punya uang untuk belu Gula ya, tapi emang sudah dari nenek moyangnya mengonsumsi kopi tanpa gula alias kopi pait.


Bagaimana tertarik ke desa Gunung Baru? rencanakan liburan kalian mulai dari sekarang ya.


Antonius Rahu merupakan traveler lintas Flores saat ini menetap di Ruteng.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar