- -->
  • Jelajahi

    Copyright © Congkasae.com
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Blokade Jalan Ruteng Labuan Bajo, Sekelompok Sopir Travel Minta Atensi Pemerintah

    Penulis: Antonius Rahu | Editor:Tim Redaksi
    02 April, 2026, 07:10 WIB Last Updated 2026-04-02T00:23:44Z
    Post ADS 1
    Post ADS 1
    Blokade Jalan Ruteng Labuan Bajo, Sekelompok Sopir Travel Minta Atensi Pemerintah


    Aksi blokade ruas jalan utama yang menghubungkan Ruteng dan Labuan Bajo oleh kelompok sopir travel dipicu oleh aksi balas dendam lantaran kerap dipalak.

     [Congkasae.com/Kereba] Sekelompok pria yang mengaku sebagai sopir angkutan lintas kabupaten memblokade jalan Ruteng-Labuan Bajo Rabu 1 April 2026 memicu kemacetan panjang di Golo Nawang kecamatan Ruteng.


    Sejumlah sopir travel lintas kabupaten tampak memblokade ruas jalan utama yang menghubungkan Ruteng ibu kota kabupaten Manggarai dengan Labuan Bajo ibu kota kabupaten Manggarai Barat.


    Sekelompok orang melakukan blokade ruas jalan utama dengan memalang jalan utama menggunakan kendaraan roda empat.


    Dalam rekaman video yang beredar luas di media sosial aksi blokade itu menimbulkan kemacetan panjang di lokasi kejadian.


    "Mobil tangki pengangkut BBM juga kita palang, tak boleh melintas,"ujar seorang pria dalam rekaman video yang beredar Rabu 1 April 2026.


    Di sisi lain beberapa anggota polisi tampak sedang bernegosiasi dengan kelompok pria yang melakukan aksi blokade jalan.


    Salah seorang perwakilan kelompok aksi mengatakan kepada seorang polisi bahwa aksi tersebut dilakukan untuk merespons tindakan penahanan serupa yang dilakukan oleh sopir travel di kecamatan Lembor.


    "Ini kami lakukan karena kami sopir travel dari Ruteng dan Manggarai Timur kerap ditahan oleh sopir travel di kecamatan Lembor,"ujar pria tersebut.


    Ia mengatakan dalam beberapa minggu terakhir pihaknya sering ditahan oleh para sopir travel asal Lembor ketika hendak mengantarkan penumpang ke Labuan Bajo.


    "Mereka minta penumpang yang kami muat hanya diturunkan di Lembor selanjutnya mereka yang muat ke Labuan Bajo,"tambahnya.


    Pria tersebut meminta stakeholders terkait untuk segera menertibkan aksi kelompok sopir travel di Lembor agar tidak menimbulkan aksi balas dendam.


    Sementara seorang pria lain juga mengatakan harus ada regulasi khusus yang mengatur soal ijin trayek demi kenyamanan para penumpang.


    Aksi blokade jalan tersebut berakhir setelah polisi turun tangan termasuk warga sekitar untuk bernegosiasi.


    Arus lalulintas kembali pulih setelah kelompok pria tersebut membubarkan diri.


    Hingga berita ini ditulis belum ada keterangan resmi dari otoritas terkait perihal penyelesaian aksi protes tersebut.


    Di sisi lain para pengguna media sosial meminta agar pemerintah segera turun tangan dan menertibkan ijin trayek para  sopir travel.


    "Harusnya kendaraan pribadi tak boleh jadi angkutan umum, kalau mau jadi travel harus ada ijin trayek dan plat kendaraan harus diubah ke plat angkutan umum,"kata seorang pria di facebook. 

    BACA JUGA

    Guru Honorer Asal Mabar Diringkus Polisi setelah Curi Motor Pelajar di Ruteng


    Dua Gendang di Manggarai Nyaris Perang Tanding Rebutan Tanah

    Komentar

    Tampilkan

    Bersama Menjaga Warisan Kita

    Dukung Congkasae agar terus hidup dan tumbuh sebagai suara budaya Manggarai.

    Kenapa Kami Butuh Dukungan?

    Congkasae.com hidup dari semangat dan cinta pada budaya. Tapi kami juga perlu dana untuk membayar penulis lokal, mengembangkan situs, dan mendokumentasikan cerita-cerita budaya kita.

    Donasi Sekali atau Rutin

    Atau transfer langsung:

    • BRI 472001001453537 (a.n. Congkasae)
    QRIS

    Pasang Iklan atau Kerja Sama

    Kami membuka kerja sama dengan UMKM, NGO, sekolah, atau pemerintah daerah untuk iklan, pelatihan, dan proyek kolaboratif.

    Kontak Kami Langsung

    Kata Mereka

    "Saya senang bisa mendukung media yang memperjuangkan akar budaya Manggarai." – Julius, diaspora di Jakarta
    "Congkasae adalah media yang dekat dengan hati kami di Manggarai." – Frans, guru di Ruteng