- -->
  • Jelajahi

    Copyright © Congkasae.com
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Gempa Bumi dalam Mitologi Manggarai Merupakan Sengketa Antara Lalat dan Kumbang

    Penulis: Antonius Rahu | Editor:Tim Redaksi
    20 Agustus, 2026, 08:46 WIB Last Updated 2026-08-20T02:21:11Z
    Post ADS 1
    Post ADS 1
    Gempa Bumi dalam Mitologi Manggarai Merupakan Sengketa Antara Lalat dan Kumbang

    Dalam mitologi Manggarai kuno, Lupung alias Ndok yang berarti gempa bumi merupakan pembuktian persidangan tahta surgawi atas laporan kumbang yang dibantah oleh lalat. 

    [Congkasae.com/Nunduk] Jauh sebelum teknologi perekam getaran bumi alias seismograf ditemukan gempa yang merupakan bagian dari siklus kejadian alam di muka bumi ini sudah ada.


    Gempa bumi bahkan telah ada semenjak bumi yang kita pijak terbentuk, Ia merupakan bagian dari kejadian alam yang telah ada sebelum bumi dan segala peradaban yang ada di atasnya.


    Tak jarang dalam beberapa cerita mitologi kuno masyarakat adat di beberapa belahan bumi, kejadian-kejadian alias fenomena alam semacam ini menjadi cerita menarik yang melegenda termasuk dalam budaya Manggarai.


    Dalam budaya Manggarai Lupung alias Ndok yang memiliki makna gempa bumi memiliki cerita yang menarik untuk disimak.


    Konon pada awal peradaban manusia di muka bumi, sang pencipta bukan hanya menciptakan manusia akan tetapi segala bentuk hewan dan tumbuh-tumbuhan untuk memenuhi bumi.


    Suatu ketika kumbang kotoran tengah terbang mengintari bumi tiba-tiba menemukan kotoran manusia yang begitu banyak.


    Ia lalu hinggap di atas kotoran tersebut untuk melakukan tugas utamanya yakni menguburkan kotoran manusia itu dengan cara menggulungnya menjadi mirip seperti bola kecil lalu digalinya tanah dan dimasukkannya kotoran tersebut.

    Mitologi gempa bumi sengketa antara kumbang dan lalat
    Kumbang kotoran yang mengira bahwa feses yang mereka kuburkan adalah manusia ternyata kalah dalam persidangan


    Keesokan harinya, Kumbang kembali terbang dan menemukan kejadian yang sama, ia kembali melakukan tugas utamanya yakni menguburkan kotoran manusia di muka bumi dengan cara menggulung feses sebelum akhirnya dimasukkan ke dalam tanah.


    Pekerjaan kumbang semakin hari semakin berat lantaran banyaknya kotoran alias feses manusia yang berak sembarangan.


    Kumbang yang melakukan pekerjaan mirip seperti kegiatan menguburkan orang meninggal kemudian berpikir untuk melaporkan hal tersebut kepada sang pencipta.


    Suatu hari usai menguburkan kotoran manusia di muka bumi, Kumbang akhirnya terbang ke surga untuk melaporkan peristiwa tersebut kepada sang pencipta.


    "Sang pencipta saya datang untuk melaporkan kejadian luar biasa di muka bumi, ini sangat genting dan mendesak, semua manusia di muka bumi sudah meninggal,"kata Kumbang ketika tiba di tahta surgawi.


    "Apa yang hendak engkau katakan wahai Kumbang, apakah engkau memiliki bukti untuk hal itu?"tanya sang pencipta.


    Kemudian kumbang melaporkan jika ia dan kelompoknya kewalahan menguburkan orang mati di muka bumi.


    "Setiap hari kami selalu disibukkan dengan kegiatan penguburan jenazah manusia, semakin hari jumlah mayat yang kami kuburkan semakin bertambah banyak sampai-sampai kami kewalahan menguburkan mayat-mayat itu,"kata Kumbang.


    Mendengar pengakuan tersebut Tuhan lalu memanggil lalat untuk mengonfirmasi laporan dari Kumbang lalat pun tiba di tahta surgawi.


    "Wahai lalat engkau ku panggil ke Surga untuk mengonfrontir laporan dari Kumbang yang mengatakan bahwa semua manusia di muka bumi sudah meninggal dunia, apakah betul seperti itu?"tanya Sang pencipta membuka sidang di tahta Surgawi pagi itu.


    Mendengar pertanyaan tersebut, lalat dengan santai menjawab,"Siapakah yang telah menyebarkan kabar bohong ini hingga sampai ke Tahta surgawi?"tanya lalat.


    Mendengar pertanyaan lalat, kumbang yang belum diberikan kesempatan untuk berbicara pun langsung menjawab pertanyaan lalat.


    "Sayalah yang melaporkan hal itu kepada sang pencipta,"sahut kumbang.


    Sang pencipta pun langsung mengambil alih persidangan yang mulai tak kondusif lantaran keterangan dari dua orang saksi mulai bertolak belakang.

    Mitologi gempa bumi sengketa antara kumbang dan lalat
    Lalat yang memberikan kesaksian soal laporan kumbang akhirnya menang dalam persidangan itu


    "Tenang-tenang semua saksi akan saya beri kesempatan untuk memberikan kesaksian di sidang ini,"sahut sang pencipta.


    Lalat pun diberi kesempatan untuk melanjutkan keterangannya lalat yang geram dengan laporan kumbang mulai membantah tuduhan kumbang.


    "Yang mulia apa yang dilaporkan oleh kumbang tidaklah benar, itu semua adalah kabar bohong yang tidak memiliki fakta dan data yang dipertanggungjawabkan,"kata lalat.


    Tuhan sang hakim agung pengadilan itu langsung menanyai lalat,"apa bukti otentik yang engkau miliki wahai lalat sehingga Aku dapat mempercayai keterangannmu itu?"sahut sang pencipta.


    "Saya baru saja selesai sarapan satu piring dengan manusia, jumlah mereka semakin hari semakin bertambah banyak, jadi tidaklah benar jika manusia di bumi sudah mati,"sahut lalat.


    Mendengar hal itu, sang pencipta pun memberikan kesempatan kepada kumbang untuk menyanggah keterangan dari lalat.


    "Yang mulia aku dan keturunanku sampai kewalahan menguburkan mayat-mayat yang berserakan di atas muka bumi, sepertinya tak ada manusia lagi yang ada di muka bumi karena setiap hari kami menguburkan jenazah manusia,"kata kumbang.


    Mendengar itu lalat pun menyerang kumbang dengan mengatakan,"Kumbang jaga ucapan mu......!! Ini  adalah sidang agung, kesaksian mu harus benar karena engkau telah menyebarkan fitnah dan memberikan keterangan palsu di hadapan sang pencipta,"kata lalat.


    Mendengar kedua kubu sudah saling serang dan cendrung menciptakan kegaduhan dalam ruang sidang, sang pencipta pun langsung mengambil alih persidangan.


    "Tenang....! aku hendak membuktikan apakah keteranganmu kumbang yang benar atau malah keteranganmu lalat yang benar,"ucap sang pencipta.


    Sang pencipta kemudian menggoyangkan telapak tangannya yang menimbulkan goncangan hebat di atas muka bumi.


    Goncangan semakin hebat yang memaksa manusia berteriak,"Lawa doo........! Lawa doooo....! di beberapa wilayah teriakan itu seperti berikut" ata doooooo.......! ata dooooo........!


    Teriakan itu memberikan pertanda dalam sidang itu bahwa bumi masih dihuni oleh manusia dan tidaklah kosong seperti keterangan yang dilaporkan kumbang.


    Mendengar teriakan manusia dari muka bumi sang pencipta memutuskan bahwa kumbang telah dinyatakan kalah dalam persidangan itu lantaran telah memberikan keterangan palsu di persidangan tahta surgawi.


    Sementara lalat dinyatakan sebagai pemenang sengketa tersebut, setelah ditelusuri mayat yang disebutkan kumbang dalam keterangannya ternyata bukanlah manusia tetapi kotoran alias feses manusia.


    Kumbang mengira yang dikuburkannya selama ini merupakan mayat manusia akan tetapi ia keliru ternyata itu hanyalah feses manusia.


    Sejak saat itu setiap kali terjadi gempa bumi, orang Manggarai menerikkan kata "Lawa doo........! Lawa doooo....! di beberapa wilayah teriakan itu seperti berikut" ata doooooo.......! ata dooooo........!


    Teriakkan itu bermaksud hendak memberi pertanda kepada sang pencipta bahwa bumi masih berpenghuni dan sang pencipta segera menghentikan gempa tersebut.


    Sementara itu guncangan yang terjadi akibat teknik pembuktian keberadaan manusia di muka bumi disebut Lupung alias Ndok yang artinya gempa bumi.


    BACA JUGA

    Cerita Rakyat Manggarai, Si Pondik yang Cerdik dan Licik


    Menakar Fungsi Naga Beo dalam Mitologi orang Manggarai


    Legenda Danau Sano Nggoang dari Ulah Sibuta dan Lumpuh Hingga Kutukan Empo Taek


    Mendi, Kraeng dan Potret Perbudakan di Tanah Manggarai


    Pendekatan Budaya Lokal Jadi Kunci Suksesnya Penyebaran Agama Katolik di Manggarai

    Komentar

    Tampilkan

    Bersama Menjaga Warisan Kita

    Dukung Congkasae agar terus hidup dan tumbuh sebagai suara budaya Manggarai.

    Kenapa Kami Butuh Dukungan?

    Congkasae.com hidup dari semangat dan cinta pada budaya. Tapi kami juga perlu dana untuk membayar penulis lokal, mengembangkan situs, dan mendokumentasikan cerita-cerita budaya kita.

    Donasi Sekali atau Rutin

    Atau transfer langsung:

    • BRI 472001001453537 (a.n. Congkasae)
    QRIS

    Pasang Iklan atau Kerja Sama

    Kami membuka kerja sama dengan UMKM, NGO, sekolah, atau pemerintah daerah untuk iklan, pelatihan, dan proyek kolaboratif.

    Kontak Kami Langsung

    Kata Mereka

    "Saya senang bisa mendukung media yang memperjuangkan akar budaya Manggarai." – Julius, diaspora di Jakarta
    "Congkasae adalah media yang dekat dengan hati kami di Manggarai." – Frans, guru di Ruteng