Warga Flores masih dihantui rasa takut kembali ke rumah setelah rentetan gempa susulan yang terus terjadi, kendati demikian ahli gempa bumi dari Pusgen Daryono Perwira Sakti bilang kondisi tersebut masih wajar
Warga Flores masih dihantui rasa takut kembali ke rumah setelah rentetan gempa susulan yang terus terjadi, kendati demikian ahli gempa bumi dari Pusgen Daryono Perwira Sakti bilang kondisi tersebut masih wajar
[Congkasae.com/Kereba] Warga yang terdampak gempa di pulau Flores hingga kini masih belum merasa tenang pasalnya pulau itu masih terus diguncang gempa susulan (aftershocks) dengan kedalaman dangkal dan berpusat di daratan.
Titus Tagung salah seorang pengungsi asal Watu Alo, desa Ndehes, kecamatan Wae Rii, Kabupaten Manggarai hingga kini masih merasa trauma setelah rumahnya ambruk rata dengan tanah usai dihantam gempa bermagnitudo 7,7 pada Sabtu 15 Agustus lalu.
Hingga kini ia dan keluarganya masih takut kembali ke rumah lantaran gempa susulan masih belum benar-benar hilang.
"Kami masih takut-takut dan trauma dengan gempa susulan yang setiap hari selalu terasa, jadi takut kembali ke rumah,"katanya Selasa 1 September 2026.
Ia mengatakan sejauh ini dirinya memilih bertahan di tenda pengungsian yang dibuat secara swadaya usai gempa utama bermaknitudo 7,7 merobohkan rumah mereka pada Sabtu 15 Agustus 2026 silam.
"Saat ini kami lebih baik bertahan di tenda daripada kembali ke rumah,"katanya.
Di sisi lain Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat hingga 30 Agustus 2026 total gempa susulan di pulau Flores sudah mencapai 10.442 lebih sejak gempa utama yang terjadi pada Sabtu 15 Agustus silam.
Rentetan gempa susulan itu umumnya bermaknitudo kecil dengan episentrum gempa berada di sebelah timur kota Ruteng Ibu kota kabupaten Manggarai dan 161 kali gempa susulan yang terasa.
Menanggapi fenomena tersebut pakar gempa bumi dari Pusat Studi Gempa Indonesia (Pusgen) Daryono Perwira Sakti mengatakan rentetan gempa susulan yang terus terjadi di pulau Flores sebagai hal yang wajar.
"Wajar jika titik-titik episentrum gempa susulan Flores Magnitudo 7,7 yang sangat banyak,"katanya Selasa 1 September 2026.
Ia mengatakan jika diamati titik episentrum gempa susulan Flores terlihat menakutkan karena visualnya memberi kesan penumpukan bahaya.
Meski demikian ia menjelaskan masyarakat tak perlu takut apalagi panik dengan situasi yang terjadi.
"Padahal bagi ahli gempa, rentetan gempa susulan (aftershocks) justru menandakan proses pelepasan sisa energi kerak bumi yang sedang meluruh secara alami agar kondisi tektonik kembali stabil, kemudian aman kembali,"katanya.
Ia mengatakan rentetan gempa susulan yang terjadi biasanya tak pernah melebihi magnitudo gempa utama pada 15 Agustus lalu.
"Kemungkinan akan terjadi gempa yang lebih besar dari gempa utama sangatlah kecil,"katanya.
Berdasarkan data yang dirilis pemerintah total korban jiwa akibat gempa Flores sudah mencapai 115 orang meninggal dunia, 1.780 orang mengalami luka, dan 172.050 orang harus mengungsi.
Selain itu gempa bumi Flores juga mengakibatkan 90.600 unit rumah rusak parah termasuk fasilitas kesehatan dan sekolah.
Pemprov NTT telah memperpanjang masa tanggap darurat bencana hingga 12 September mendatang.
Beberapa sekolah mulai mendirikan tenda darurat di halaman sekolah demi proses kegiatan belajar bagi siswa terdampak.
Selain itu aktivitas keagamaan seperti perayaan misa hari Minggu digelar di luar gereja untuk mengantisipasi gempa susulan dan jatuhnya korban jiwa.
BACA JUGA
Rapat Penanganan Bencana Flores Bupati Nagekeo Minta MBG Ditingkatkan





