![]() |
| Potret bangunan gereja yang terbuat dari atap daun rumbia di pulau Morotai |
Jejak Kekristenan di Halmahera bermula sejak abad ke-16 melalui misi Katolik Portugis. Setelah mengalami kemunduran akibat perubahan kekuasaan kolonial, penyebaran Kristen kembali berkembang pada abad ke-19 melalui para misionaris Protestan Belanda. Galela, Duma, Tobelo, dan sejumlah wilayah lainnya kemudian menjadi bagian penting dari sejarah perkembangan gereja di Maluku Utara.
Pulau Halmahera di Provinsi Maluku Utara menyimpan sejarah panjang perjumpaan agama, kebudayaan, perdagangan, dan kekuasaan politik.
Di pulau terbesar di Kepulauan Maluku Utara ini, perkembangan agama Kristen tidak dapat dilepaskan dari kedatangan bangsa Eropa, persaingan Portugis dan Belanda, pengaruh Kesultanan Ternate, serta perubahan kehidupan masyarakat lokal.
Jauh sebelum Gereja Masehi Injili Halmahera (GMIH) berdiri pada 1949, masyarakat Halmahera telah mengenal Kekristenan melalui kegiatan misi Katolik Portugis pada abad ke-16.
Namun, perjalanan agama Kristen di pulau tersebut tidak berlangsung secara terus-menerus. Misi Katolik yang pernah berkembang pada masa Portugis mengalami kemunduran setelah perubahan kekuasaan politik di Maluku.
Beberapa abad kemudian, kegiatan penginjilan kembali berlangsung melalui organisasi misi Protestan Belanda, Utrechtsche Zendingsvereeniging (UZV), yang mengirimkan sejumlah tenaga misionaris ke Halmahera sejak 1866.
Sejarah ini memperlihatkan bahwa penyebaran Kristen di Halmahera merupakan proses panjang yang melibatkan aktor-aktor Eropa dan masyarakat setempat.
Penerimaan agama baru juga berlangsung dalam konteks hubungan kekuasaan, adat istiadat, pendidikan, kesehatan, dan perubahan sosial.
Kedatangan bangsa Portugis di Maluku pada awal abad ke-16 membuka babak baru dalam sejarah kawasan tersebut.
Pada 1512, ekspedisi Portugis mencapai kawasan Maluku untuk membangun hubungan perdagangan rempah-rempah.
Cengkih menjadi komoditas penting yang menarik perhatian kekuatan Eropa untuk menguasai jalur perdagangan di wilayah tersebut.
Selain kepentingan perdagangan, Portugis juga membawa misi penyebaran agama Katolik. Dalam sistem Padroado Portugis, kegiatan misi gereja berkaitan erat dengan hak dan tanggung jawab kerajaan Portugis dalam mendukung penyebaran Katolik di wilayah kekuasaannya.
Kehadiran Portugis di Ternate kemudian menjadikan kawasan ini salah satu pusat aktivitas perdagangan, politik, dan misi Katolik di Maluku Utara.
Salah satu catatan penting mengenai sejarah awal Kekristenan di Halmahera berkaitan dengan Mamuya, sebuah wilayah di bagian utara pulau tersebut.
Dalam sejarah resmi Gereja Masehi Injili Halmahera (GMIH) disebutkan bahwa pembaptisan pertama masyarakat Halmahera berlangsung di Mamuya pada 1534.
Hal tersebut dibuktikan dengan baptisnya dua orang kepala suku yang bernama Kolano Mamuya dan Sangaji Tolo oleh seorang pastor katolik dua orang kepala suku itu kemudian diberi nama baptis Dom Jao de Mamuya dan Dom Tristato de Ataide.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu tonggak yang dipakai dalam tradisi sejarah gereja di Halmahera.
Kedatangan Portugis tidak hanya memperkenalkan agama Katolik, tetapi juga membawa masyarakat Halmahera ke dalam jaringan hubungan internasional yang semakin luas.
Hubungan dengan Ternate, Tidore, Portugis, dan Spanyol turut membentuk situasi politik serta keagamaan di kawasan tersebut.
Misi Yesuit dan masyarakat Moro
Salah satu bab penting dalam sejarah Kekristenan di Halmahera adalah kegiatan misi Yesuit di kawasan Moro pada abad ke-16.
Moro merupakan nama historis yang digunakan dalam sejumlah sumber Eropa untuk menyebut kawasan di bagian utara Halmahera dan pulau-pulau sekitarnya.
Pada periode ini, para misionaris Katolik berusaha memperkenalkan ajaran Kristen kepada masyarakat setempat.
Mereka berinteraksi dengan pemimpin lokal, masyarakat pesisir, dan komunitas yang berada dalam lingkungan politik Kesultanan Ternate.
Salah satu tokoh yang dikenal dalam sejarah misi Katolik di Maluku adalah Fransiskus Xaverius (Francis Xavier), seorang misionaris Yesuit yang mengunjungi kawasan Maluku pada 1546–1547.
Kehadiran Xaverius memperlihatkan bahwa kegiatan misi Katolik di Maluku bukan hanya berlangsung melalui pendeta atau pejabat Portugis, tetapi juga melalui jaringan keagamaan Serikat Yesus.
Sejarawan John Villiers dalam penelitian berjudul Las Yslas de Esperar en Dios: The Jesuit Mission in Moro 1546–1571 menjelaskan bahwa surat-surat dan laporan para Yesuit merupakan sumber penting untuk memahami keadaan sosial dan politik masyarakat Moro pada abad ke-16.
Dokumen-dokumen tersebut memberikan informasi mengenai hubungan para misionaris dengan penguasa lokal, kondisi kehidupan masyarakat, serta tantangan yang mereka hadapi dalam kegiatan penginjilan.
Villiers juga menekankan bahwa laporan para misionaris memiliki nilai tersendiri karena sebagian penulisnya tinggal cukup lama di tengah masyarakat lokal dan berinteraksi langsung dengan para pemimpin serta penduduk setempat.
Dengan demikian, surat-surat misionaris bukan sekadar dokumen keagamaan, melainkan juga sumber sejarah sosial masyarakat Halmahera pada masa awal hubungan dengan bangsa Eropa.
Salah satu dokumen yang dirujuk dalam penelitian Villiers adalah surat Nicolau Nunes kepada para Yesuit di Goa College, yang ditulis dari Tolo pada 2 Januari 1570.
![]() |
| Gereja Protestan dengan arsitektur kayu di kawasan pesisir Tobelo |
Dokumen tersebut diterbitkan kembali dalam kumpulan arsip sejarah misi Yesuit berjudul Documenta Malucensia.
Keberadaan dokumen tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan misi di kawasan Moro memiliki jaringan komunikasi yang terhubung dengan pusat-pusat misi Katolik di Asia.
Penyebaran agama Kristen di Halmahera tidak dapat dipisahkan dari persaingan politik bangsa Eropa di Maluku.
Pada abad ke-16, Portugis dan Spanyol bersaing memperluas pengaruh politik serta perdagangan di kawasan tersebut. Persaingan itu juga memengaruhi kegiatan misi Katolik.
Di sisi lain, hubungan Portugis dengan Kesultanan Ternate mengalami perubahan. Kepentingan perdagangan, hubungan politik, dan persaingan kekuasaan sering kali membuat hubungan antara penguasa lokal dan bangsa Eropa tidak selalu berjalan harmonis.
Pada awal abad ke-17, Belanda melalui Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) semakin memperkuat kedudukannya di Maluku.
VOC didirikan pada 1602 dan kemudian membangun kekuatan politik serta militer untuk menguasai perdagangan rempah-rempah.
Pengaruhnya di Maluku Utara semakin kuat setelah sejumlah benteng Portugis jatuh ke tangan Belanda.
Perubahan kekuasaan tersebut membawa dampak terhadap kegiatan misi Katolik.
VOC mendukung gereja Protestan yang berada dalam lingkungan kekuasaan Belanda. Aktivitas misi Katolik Portugis kehilangan perlindungan politik yang sebelumnya mereka peroleh.
Akibatnya, sejumlah komunitas Katolik yang telah terbentuk pada masa Portugis mengalami kemunduran.
Di beberapa wilayah, jejak komunitas Kristen awal tidak lagi berkembang menjadi lembaga gereja yang kuat.
Kondisi tersebut menjelaskan terdapat jarak waktu yang panjang antara kegiatan misi Katolik abad ke-16 dan perkembangan misi Protestan pada abad ke-19.
Setelah mengalami kemunduran dalam waktu yang panjang, kegiatan penginjilan Kristen kembali berkembang di Halmahera pada abad ke-19.
Kebangkitan tersebut berkaitan dengan aktivitas Utrechtsche Zendingsvereeniging (UZV), sebuah organisasi misi Protestan yang didirikan di Utrecht, Belanda, pada 13 April 1859.
Organisasi ini memiliki wilayah pelayanan di sejumlah kawasan, termasuk Halmahera, Buru, dan Papua.
![]() |
| Sangaji dan Kepala Kampung di Galela, Halmahera pada 1822 sumber Nuansamalut |
Kehadiran UZV di Halmahera merupakan bagian dari perkembangan gerakan misi Protestan Eropa pada abad ke-19.
Pada masa itu, sejumlah organisasi keagamaan mengirimkan misionaris ke berbagai wilayah Asia dan kepulauan Pasifik.
Halmahera kemudian menjadi salah satu wilayah pelayanan UZV yang penting. Tokoh yang paling dikenal dalam periode awal ini adalah Hendrik van Dijken.
Van Dijken bukan hanya seorang penginjil. Ia juga memiliki latar belakang sebagai pekerja pertanian. Pendekatan tersebut kemudian menjadi salah satu ciri kegiatan pelayanannya di Halmahera.
Dalam buku Zendeling Hendrik van Dijken: Zijn Leven en Arbeid op Halmahera, yang ditulis oleh M.J. van Baarda, seorang misionaris yang pernah bertugas di Duma, dijelaskan perjalanan hidup dan pekerjaan Van Dijken di Halmahera.
Buku tersebut diterbitkan pada awal abad ke-20 dan merupakan salah satu sumber dokumenter penting untuk merekonstruksi sejarah misi Protestan di Galela.
Menurut catatan dalam buku itu, Van Dijken tiba di Ternate pada 17 Mei 1865 setelah melakukan perjalanan dari Belanda melalui Makassar.
Pada awalnya, ia dipersiapkan untuk membantu kegiatan misi di Papua. Namun, perubahan situasi dan kondisi kesehatan para misionaris yang bertugas di wilayah tersebut mendorong pengalihan kegiatan pelayanan ke Halmahera.
Kawasan Galela kemudian dipilih sebagai wilayah pelayanan baru. Pada 14 April 1866, Hendrik van Dijken bersama De Bode berangkat menuju Galela. Mereka tiba pada 18 April 1866 menurut catatan biografi M.J. van Baarda.
Sementara itu, sejarah resmi GMIH dan profil gereja yang diterbitkan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) menyebut tanggal 19 April 1866 sebagai kedatangan Van Dijken dan De Bode.
Kedatangan mereka menandai dimulainya babak baru kegiatan misi Protestan di Halmahera.
Dalam catatan M.J. van Baarda, kedatangan para misionaris tersebut tidak langsung membuat mereka dapat menetap di wilayah pedalaman Galela.
Mereka pada awalnya ditempatkan di kawasan pesisir yang berada dekat dengan pusat pemerintahan Ternate.
Catatan tersebut menyebutkan bahwa Van Dijken menginginkan tempat tinggal di sekitar Danau Galela agar dapat bekerja langsung di tengah masyarakat pedalaman.
Keinginan itu berkaitan dengan pendekatannya yang menggabungkan pekerjaan pertanian dan penginjilan.
Setelah melakukan komunikasi dengan pihak pemerintahan dan memperoleh izin, Van Dijken akhirnya dapat menempati kawasan di sekitar danau.
Tempat yang kemudian dipilih merupakan wilayah yang sebelumnya ditumbuhi hutan dan dikenal masyarakat setempat sebagai kawasan yang tidak mudah dihuni.
Di tempat tersebut Van Dijken mulai membuka lahan, membangun rumah, dan menata lingkungan tempat tinggal.
Ia kemudian menamai permukiman tersebut Duma, yang dikaitkan dengan nama Dumah dalam Kitab Yesaya 21:11.
Dalam perkembangan selanjutnya, Duma menjadi salah satu pusat penting sejarah Kekristenan Protestan di Halmahera.
Catatan M.J. van Baarda juga menyebut peran seorang warga Galela bernama Moli. Sebelumnya, Moli pernah berhubungan dengan para misionaris di Papua dan kemudian kembali ke daerah asalnya.
Pengalaman Moli tersebut menjadi salah satu penghubung awal antara Van Dijken dan masyarakat setempat.
Pada masa awal pelayanannya, Van Dijken menghadapi berbagai kesulitan.
Salah satu tantangan terbesar adalah bahasa. Ia tidak langsung menguasai bahasa Galela sehingga komunikasi dengan masyarakat setempat berlangsung secara terbatas.
Moli menjadi salah satu orang yang membantu menerjemahkan komunikasi antara Van Dijken dan penduduk.
Peran bahasa kemudian semakin penting ketika pelayanan misi berkembang.
Istri Van Dijken, Maria Soentpiet, juga disebut memiliki kemampuan bahasa yang membantu proses komunikasi dengan masyarakat setempat.
Dalam buku M.J. van Baarda, kehadiran Maria digambarkan sebagai salah satu faktor yang membantu Van Dijken memahami bahasa dan kehidupan masyarakat Galela.
Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa penyebaran agama Kristen membutuhkan proses komunikasi yang tidak sederhana.
Di samping kegiatan penginjilan, Van Dijken juga mengembangkan pekerjaan pertanian. Ia membuka lahan, menanam tanaman, dan membangun jalan penghubung antara tempat tinggalnya dengan permukiman masyarakat.
Kegiatan tersebut secara bertahap membuka ruang interaksi antara misionaris dan penduduk sekitar.
Setelah kegiatan misi berkembang di Galela, penyebaran Protestan mulai menjangkau wilayah lain di Halmahera.
Tobelo menjadi salah satu kawasan penting dalam perkembangan tersebut.
Dalam penelitian berjudul Agama Sebagai Perubahan Sosial: Kristenisasi di Tobelo 1866–1942, Irfan Ahmad menjelaskan bahwa perkembangan agama Kristen di Tobelo membawa perubahan dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Lembaran Sejarah Universitas Gadjah Mada pada 2014 tersebut memperlihatkan hubungan antara kegiatan penginjilan, pendidikan, pelayanan kesehatan, dan perubahan sosial budaya.
Salah satu pendekatan penting para misionaris adalah pendirian sekolah Kristen.
Melalui pendidikan, masyarakat memperoleh kesempatan untuk mempelajari baca tulis dan pengetahuan baru.
Sekolah juga menjadi salah satu sarana yang memperluas hubungan antara masyarakat lokal dengan lembaga gereja.
Selain pendidikan, kegiatan pelayanan kesehatan turut menjadi bagian dari aktivitas misi.
Dengan demikian, penyebaran agama Kristen tidak hanya berlangsung melalui khotbah dan pembaptisan, tetapi juga melalui berbagai bentuk pelayanan sosial.
Dalam konteks sejarah sosial, hal ini memperlihatkan bahwa perubahan agama sering berjalan beriringan dengan perubahan pola pendidikan, kesehatan, hubungan sosial, dan struktur masyarakat.
Penelitian Irfan Ahmad juga menggunakan sejumlah sumber kolonial, termasuk laporan pemerintah dan arsip kesultanan Ternate. Sumber-sumber tersebut penting untuk menguji kembali perkembangan masyarakat Tobelo selama periode 1866–1942.
Selain Hendrik van Dijken, terdapat sejumlah misionaris yang memiliki peran dalam perkembangan Kekristenan di Halmahera.
Salah satunya adalah A. Hueting, yang dikenal melalui pekerjaannya di kawasan Tobelo dan penelitian mengenai masyarakat setempat.
Hueting tidak hanya terlibat dalam pelayanan keagamaan, tetapi juga menaruh perhatian terhadap bahasa dan kebudayaan masyarakat Halmahera.
Karya-karyanya menjadi salah satu sumber penting dalam kajian bahasa dan kehidupan masyarakat Tobelo.
Nama lain yang tercatat dalam perkembangan misi Halmahera adalah M.J. van Baarda, J.L.D. van der Roest, J.A.F. Schut, dan J. Fortgens.
Para misionaris tersebut membantu memperluas kegiatan penginjilan ke sejumlah wilayah.
Di Loloda, misalnya, kegiatan misi Protestan berkembang melalui kedatangan Van Baarda sekitar 1896. Penelitian mengenai sejarah Loloda menyebut pembangunan gereja di Dorume dan pembaptisan sekitar 70 orang dalam periode awal pelayanan tersebut.
Perkembangan di wilayah ini memperlihatkan bahwa penyebaran Kristen di Halmahera tidak berlangsung melalui satu jalur tunggal.
Setiap wilayah memiliki kondisi sosial, hubungan politik, dan pengalaman sejarah yang berbeda.
Perang Dunia II dan Perubahan Kegiatan Gereja
Perkembangan komunitas Kristen di Halmahera terus berlangsung hingga awal abad ke-20.
Namun, situasi berubah ketika Perang Dunia II meluas ke kawasan Asia Pasifik.
Pada 1942, Jepang menduduki Hindia Belanda. Perubahan kekuasaan tersebut turut memengaruhi kegiatan misi dan kehidupan masyarakat di Halmahera.
Jaringan pelayanan yang sebelumnya dibangun oleh organisasi misi Belanda mengalami gangguan.
Sejumlah tenaga misionaris meninggalkan wilayah pelayanan atau tidak lagi dapat menjalankan kegiatan sebagaimana sebelumnya.
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi komunitas Kristen yang telah berkembang selama puluhan tahun.
Masyarakat lokal kemudian menghadapi kebutuhan untuk mempertahankan kehidupan gereja dengan kemampuan dan kepemimpinan sendiri.
Situasi ini sekaligus menjadi bagian dari proses menuju kemandirian gereja di Halmahera.
Setelah Indonesia merdeka, kehidupan gereja di Halmahera memasuki babak baru.
Sejumlah tenaga misi kembali menjalankan pelayanan pada 1946. Akan tetapi, situasi kelembagaan tidak lagi sama dengan masa sebelum perang.
Menurut profil GMIH yang diterbitkan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia, pada periode tersebut berlangsung berbagai pembicaraan dan konferensi mengenai pembentukan serta kemandirian gereja di Halmahera.
Pada 1947, enam guru jemaat dan sekolah yang mewakili enam suku di Halmahera dikirim ke Soe, Pulau Timor, provinsi NTT untuk mengikuti pendidikan teologi.
Langkah tersebut menjadi bagian dari persiapan membangun kepemimpinan gereja yang berasal dari masyarakat Halmahera sendiri.
Tujuannya adalah agar gereja tidak terus-menerus bergantung kepada tenaga pelayanan dari luar daerah.
Pada 6 September 1949, Gereja Masehi Injili Halmahera resmi berdiri.
Setahun kemudian, tepatnya 25 Mei 1950, GMIH menjadi anggota Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia.
Berdirinya GMIH menjadi tonggak penting dalam sejarah Kekristenan di Halmahera karena menandai terbentuknya lembaga gereja yang memiliki identitas dan kepemimpinan sendiri.
Dengan demikian, perjalanan yang dimulai melalui misi Katolik Portugis pada abad ke-16 dan berkembang kembali melalui misi Protestan Belanda pada abad ke-19 memasuki fase baru setelah terbentuknya gereja lokal.
Sejarah penyebaran Kristen di Halmahera juga tidak berhenti pada perkembangan gereja-gereja di kawasan pesisir.
Sebagian masyarakat pedalaman, termasuk kelompok yang dikenal dalam literatur antropologi sebagai Forest Tobelo atau Tobelo Dalam, memiliki pengalaman sejarah yang berbeda.
Mereka mempertahankan pola kehidupan dan hubungan dengan lingkungan hutan yang tidak sama dengan masyarakat pesisir.
Penelitian antropolog Christopher R. Duncan, Untangling Conversion: Religious Change and Identity among the Forest Tobelo of Indonesia, membahas proses perubahan agama dan identitas masyarakat Forest Tobelo.
Penelitian tersebut memperlihatkan bahwa sebagian kelompok masyarakat pedalaman menerima Kekristenan pada periode yang jauh lebih kemudian dibandingkan komunitas Kristen di pesisir.
Proses tersebut juga berkaitan dengan hubungan sosial, identitas kelompok, perubahan ekonomi, dan tekanan terhadap wilayah kehidupan mereka.
Hal ini menunjukkan bahwa penyebaran agama Kristen di Halmahera merupakan proses yang berlangsung dalam rentang waktu panjang dan memiliki jalur berbeda pada setiap komunitas.
Pada akhirnya, sejarah Kristen di Halmahera bukan hanya sejarah kedatangan para misionaris Eropa. Ia juga merupakan sejarah masyarakat lokal yang mengalami perjumpaan dengan dunia luar, merespons perubahan, dan membentuk kehidupan keagamaan serta kelembagaan mereka sendiri.
Dari Mamuya pada abad ke-16, Galela dan Duma pada abad ke-19, hingga berdirinya GMIH pada 1949, perjalanan tersebut menjadi bagian penting dari sejarah sosial dan kebudayaan masyarakat Halmahera.
Memahami sejarah ini berarti juga memahami bagaimana masyarakat Halmahera membangun identitas, mempertahankan tradisi, dan menjalani perubahan sepanjang perjalanan sejarahnya.
BACA JUGA
Dipilih Allah untuk Bebaskan Israel dari Perbudakan Mesir, Mengapa Allah Menghukum Nabi Musa?
Mengapa Umat Katolik Merayakan Minggu Palma?
Arti Penting Malam Kamis Putih dan Warna Liturgi Gereja Katolik






