Songke Dan Identitas Orang Manggarai - Congkasae.com

News Update

16 January, 2017

Songke Dan Identitas Orang Manggarai


Atribut adat songke merupakan warisan leluhur (ata redong dise empo agu mbate dise ame”). Hal yang paling utama dan penting bagi orang Manggarai adalah menjadi putra-putri Manggarai yang paham dan tahu akan adat dan budayanya, Entah itu dalam bentuk topi songke, slendang, bahkan kain songke atau yang popular disebut towe songke.



Molas Manggarai ketika menggunakan Songke
Oleh Antonius Rahu***

Beberapa waktu lalu, saya kebetulan menghadiri beberapa kegiatan atau acara yang diselenggarakan oleh paguyuban keluarga Manggarai di Bali. Saya selalu melihat orang-orang Manggarai yang mengenakan atribut adat yang sangat khas dengan Manggarai yakni songke.


Entah itu dalam bentuk topi songke, slendang, bahkan kain songke atau yang popular disebut towe songke. Sejenak saya menemukan jati diri saya sebagai putra asli Manggarai ketika melihat ada orang yang mengenakan atribut tersebut di tanah rantau yang jauh dari bumi Congka Sae.

Mengenakan Songke mungkin bagi orang-orang yang  hidup di bumi Congka Sae merupakan hal yang biasa. Terutama bagi kalangan muda, songke identik dengan orang tua. Mengenakan Songke berarti kolot, tidak gaul dan identik dengan orang yang sudah berumur.

Meskipun ini hanyalah sebuah hipotesa pribadi saya, namun ada beberapa poin pendukung dari hipotesa saya ini.

Memang harus diakui bahwasanya towe songke dikenakan ketika orang mengikuti upacara adat, sebut saja kenduri, laki atau wai anak, acara duka dan masih banyak lagi namun, di Manggarai kaum mudanya jarang sekali mengenakan atribut adat songke ini, pada hal songke ini sudah hadir dalam bentuk baju, jas, topi, slendang, dan lain sebagainya.

Kaum mudah kita lebih tertarik mengenakan baju impor made in china atau medi in surabya yang lebih modis dan trend tapi cendrung mengeksploitasi pemakainya. Seperti celana yang pendeknya kebangetan alias CU (celana Umpan tae disen), baju yang transparan dan kurang kain.

Yang lebih anehnya, kaum mudah kita sangat bangga dan mungkin juga bahagia jika berhasil memukau mata lelaki karena pakayan yang dikenakan serba kurang kain dan transparan tersebut.
Apalagi jika itu dikenakan pas menghadiri misa di Gereja, rasanya wah.....bagi mereka, namun sangat kontradiktif bagi saya. 

Mau tidak melirik, mereka duduknya pas  didepan saya misalnya, saya lirik juga salah nanti dibilang percuma ke gereja sebagai laki-laki saya serba salah jadinya.

Inilah realitas sosial dan budaya kaum muda kita (anak koe uwa weru), penuh kontroversial dan selalui ikut arus yang penting ikut ramai biar dibilang anak gaul.

Budaya lokal setempat akhirnya terkubur dalam hiruk-pikuk kekinian yang melanda kaum muda di bumi Congka Sae. Jika saja kaum muda kita sadar, bahwa budaya lokal Manggarai itu sangat bagus, maka saya pikir tidak aka nada orang yang cepat terjerumus dalam keriuhan budaya yang dari luar.
Hal berbeda saya temukan di Bali, anak-anak muda di sini sangat bangga sekali jika mengenakan pakayan adat mereka didepan orang banyak.

Anak mudanya lebih memilih menggunakan pakayan adat ketimbang pakayan bebas yang serba kurang kain tersebut.

Setelah saya selidiki hal tersebut ternyata bersumber dari pendidikan yang ditanamkan kepada mereka semenjak mereka sekolah.

Mereka diwajibkan mengenakan pakayan adat pada hari-hari tertentu, hal tersebut bertujuan untuk membiasakan, serta menumbuhkan kecintaan mereka akan budaya dan pakayan adat jika sudah dewasa kelak.

Ini terbukti sangat efektif dan nyata, setelah mereka lulus dari sekolah menenga atas misalnya mereka sudah terbiasa dan malah bangga mengenakan pakayan adatnya sendiri.

Lalu bagaimana dengan Songke dan kaum muda di bumi Congka Sae? Kesemua hal yang saya temukan dalam diri anak muda Bali merupakan invers (balikan) dari anak muda di bumi Congka Sae.
Mengenakan atribut adat bagi mereka tidak gaul, identik dengan orang tua dan kolot. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena sekolah-sekolah di bumi congka sae lebih mementingkan kurikulum Nasional, mungkin karena terlalu Nasionalis kali ya,,,,,,saya juga belum paham.

Dulu ada yang namanya mata pelajaran MULOK (muatan lokal) atau PLSBD namun gurunya tidak pernah isi mata pelajaran budaya. Yang ada malah diisi dengan matematika atau IPA.

Selain itu juga tidak ada aturan yang mewajubkan murid untuk mengenakan pakayan adat di heri-hari tertentu seperti di Bali misalnya. Akibatnya anak mudahnya gagal paham dengan budayanya sendiri.

Ini seharusnya menjadi Pekerjaan Rumah bagi pemerintah Manggarai Raya, harus diakui bahwasanya maslah lunturnya budaya ini menjadi masalah serius bagi orang Manggarai. Masalah budaya dan adat isti adat berarti masalah identitas, karena adat dan budaya merupakan identitas kedua kita selain KTP. Oleh karena itu, masalah lunturnya adat di kalangan mudah ini harus segera diatasi.

Pemerintah kabupaten Manggarai Raya seharusnya bisa menjadi serum bagi proses penyembuhan luka besar budaya ini. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini, diantaranya melalui jalur pendidikan. 

Jalur pendidikan terbukti efektif dalam membentuk watak dan karakter generasi mudah dan itu telah berhasil dilakukan di Bali. Mata pelajaran PLSBD atau Muatan Lokal harus benar-benar dijadikan tameng dalam menangkis serangan perubahan zaman dan budaya dari luar, sehingga putra-putri Congka Sae tidak mudah terperosok dalam budaya luar lalu melupakan budayanya sendiri. 

Atribut adat songke merupakan warisan leluhur (ata redong dise empo agu mbate dise ame”). Hal yang paling utama dan penting adalah menjadi putra-putri Manggarai yang paham dan tahu akan adat dan budayanya, bukanya malah menjadi orang asing di negeri sendiri. 

Ini sangat penting dilakukan demi keberlangsungan budaya dan adat orang Manggarai, budaya yang menjadikan kita putra-putri Manggarai dengan segala kekhasanya. Budaya yang membuat orang lain dari luar Manggarai mengatakan “ya,,,,mereka ini orang Manggarai”.

Penulis: pemerhati budaya Manggarai saat ini tinggal di Bali
Artikel ini sudah pernah dipublikasikan di media online marjinnews.com edisi 10 februari 2017

No comments:

Post a Comment