Mengenal Betu, Tikus Raksasa Endemik Flores yang Hampir Punah - Congkasae.com

News Update

close
MAU CETAK UNDANGAN, Cetak FOTO, UNTUK PERNIKAHAN ANDA?
Ke TONY PRINTING saja, Hubungi kami di 082 342 994 060

 


6 Agu 2021

Mengenal Betu, Tikus Raksasa Endemik Flores yang Hampir Punah


Betu alias Papagomys armandvilei adalah satu-satunya spesies yang masih hidup dalam genus Papagomys.

[Congkasae.com/Sosbud] Siapa yang tidak mengenal hewan pengerat yang satu ini? ya tikus merupakan jenis hewan pengerat yang mudah ditemukan di sekeliling kita.


Kondisi habitatnya yang hidup di tempat kotor seperti pembuangan sampah, saluran air di perkotaan mungkin membuat kita jijik dengan spesies yang satu ini.


Namun kali ini Congkasae.com tidak akan mengulas tentang jenis tikus yang kalian temui itu, karena ada satu spesies tikus yang lebih besar dari itu, mungkin disebut tikus raksasa.


Tempat hidupnya di hutan rimba Flores, Nusa Tenggara Timur, oleh orang sekitar jenis hewan ini dinamai "Betu", ya betu adalah sebutan untuk Papagomys armandvilei, yaitu spesies tikus raksasa dari pulau Flores.


Secara spesifik tikus raksasa ini memiliki ukuran kepala dan tubuh dengan panjang 41cm - 45cm.


Selain itu tikus raksasa ini juga memiliki panjang ekor yang cukup variasi mulai dari 33cm - 70cm. Jika digabung maka panjang hewan ini bisa mencapai 74cm-117cm.

Perbandingan tikus biasa dan Betu


Nah bobot tubuh yang dimiliki betu ini bisa tiga kali lebih besar dari bobot tubuh tikus yang kalian lihat di tempat sampah, atau di got pembuangan itu.


Selain itu habitat asli tikus raksasa ini bisa kalian jumpai di kawasan hutan Taman Wisata Alam Ruteng, yang membentang luas di kawasan pegunungan Mando Sawu serta hutan-hutan sekitar.


Betu alias Papagomys armandvilei adalah satu-satunya spesies yang masih hidup dalam genus Papagomys.


Penamaan Papagomys armandvilei alias tikus raksasa ini sendiri mengikuti nama ahli yang pertama kali menemukan spesies ini di Flores yakni seorang misionaris Yesuit Belanda bernama Kornelis J. F. le Cocq d'Armandville.



Seperti dimuat laman Good news from indosesia seorang ahli zoologi AS Guy Musser, menggambarkan tikus raksasa Flores memiliki telinga kecil, bulat, tubuh gempal, dan ekor kecil.


Seperti tikus kebanyakan, bentuk tubuh hewan itu seolah-olah beradaptasi untuk hidup di dalam tanah yang membutuhkan perlindungan di dalam liang-liang.


Hewan ini berbulu hitam kecoklatan, dan memiliki gigi yang menunjukkan pola makanan berupa dedaunan, kuncup, buah, dan beberapa jenis serangga tertentu.


Santapan Lezat Masyarakat, Ancaman Kepunahan Betu yang Nyata

Hasil perburuan tikus raksasa Flores (Papagomys armandvillei)


Dalam daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN) spesies ini masuk dalam daftar yang mendekati ancaman kepunahan. 


Ancaman ini merupakan dampak dari perburuan subsisten dan pemangsaan oleh hewan karnivora, seperti anjing, kucing termasuk manusia.


Bagi orang Manggarai yang hidup di pedesaan dan dekat dengan kawasan Hutan TWA Ruteng, hewan pengerat ini kerap dijadikan santapan lezat pengganti lauk.


Tak jarang warga yang memiliki kebun di pinggir hutan TWA Ruteng memasang jerat untuk menangkap tikus raksasa ini.


Para petani beralasan tanaman pertanian mereka seperti stek Vanili, dan biji kopi kerap dimakan tikus raksasa ini, karena itu warga menggolongkan betu kedalam jenis hama yang harus dimusnahkan.


Selain perburuan oleh warga, hewan malang ini terpaksa harus bermigrasi ke lokasi dengan sumber makanan yang memadahi.


Hal tersebut terjadi akibat kerusakan hutan oleh warga yang menyulap Hutan TWA Ruteng menjadi kebun kopi.


Penulis: Tonny

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Uskup Ruteng Positif Covid