Sebagai Orang Timur Saya Malu Dicap Pemabuk - Congkasae.com

News Update

24 October, 2016

Sebagai Orang Timur Saya Malu Dicap Pemabuk

Ilustrasi

 "ketika miras yang mengendalikan akal sehat, maka persoalan baru pun muncul rasionalitas berpikir di begal oleh MIRAS kemudian MIRAS yang mengendalikan akal sehat, maka saudara di jadikan musuh teman bahkan pacar atau istri sekalipun di masukan dalam daftar orang-orang yang harus di perang,di lawan dan di benci."

"MIRAS menaikan level ketidaknormalan manusia maka sepenggal kata yang sedikit menyinggung perasaanpun akan menjadi api penyulut yang bisa membumihanguskan rasionalitas dan kewarasan manusia."

Menjadi orang NTT yang hidup dan menetap di wilayah di luar NTT merupakan hal yang sangat di banggakan bagi setiap orang yang lahir di daerah NTT.

 Dengan berbagai macam alasan orang-orang NTT memilih meninggalkan wilayahnya yang meraih urutan 3 teratas dalam bidang kemiskinan itu seperti yang di rilis oleh Badan Pusat Statistik Republik Indonesia dalam situs web resmi mereka untuk semester 1 di tahun 2016.  

 Ini tentu saja bukan merupakan isapan jempol bagi pemerintah NTT karena predikat 3 Nasional yang di raih oleh provinsi NTT itu bukanlah prestasi yang membanggakan tapi seharusnya menjadi pekerjaan berat bagi pemerintah provinsi NTT untuk mengentas kemiskinan yang sudah kronis di bumi Flobamora tersebut. 

Mungkin inilah yang menjadi salah satu faktor penyebab tingginya angka migrasi penduduk NTT ke wilayah lain di Indonesia bahkan menjadi penyumbang TKI terbesar di Indonesia yang dipekerjakan ke luar negeri. 

Berbicara mengenai migrasi penduduk NTT ada satu hal yang menarik untuk di bicarakan yakni tentang status mereka ketika sampai di daerah tujuan.

 Orang-orang yang bermigrasi dari bumi flobamora tersebut sering di juluki orang timur. 

Dengan tujuan mencari pekerjaan ataupun melanjutkan study ke jenjang yang lebih tinggi, orang timur rela meninggalkan keluarga dan kampung halamanya yang jauh di bumi flobamora. 

Ketika menetap di wilayah tujuan tentu saja akan muncul penyakit sosial yang baru yakni soal perbedaan budaya antara orang NTT dengan budaya lokal setempat dan ini sering menjadi gesekan yang sering menyebabkan timbulnya konflik dalam masyarakat. 

Satu budaya yang hampir merata di anut oleh hampir semua orang timur adalah ketika berbicara masalah  budaya minum minuman keras atau dalam bahasanya orang timur di sebut minum arak, minum moke, dan lain-lain. 

Apapun nama atau julukanya akan tetapi ini harus di akui sebagai budaya yang sudah di anut sekian lama oleh orang NTT. 

Salah satu contoh yang dapat mendukung hipotesis ini adalah dalam setiap acara adat di wilayah NTT pasti selalu melibatkan minuman yang satu ini sebut saja acara adat di manggarai, acara reba di ngada dan masih banyak lagi acara adat lainya di bumi flobamora. 

Ini sekaligus membuktikan bahwa dalam  budaya ketimuran kita sudah menggunakan minuman arak, tuak atau moke sebagai minuman yang wajib dihidangkan. 

Apakah ini salah? Apakah ini keliru? Jawabanya tentu saja tidak, ketika kita menggunakan dalil adat dan budaya untuk menepisnya. 

Akan tetapi ini menjadi salah, ketika kita menggunakan budaya minum-minum ini secara kebablasan. Hampir sering saya melihat sendiri di daerah Bali misalkan dalam setiap acara kumpul-kumpul bareng kaum muda asal NTT. 

Pasti selalu di hidangkan minuman arak, atau moke atau tuak yang semuanya itu tergolong MIRAS atau minuman Keras. 

Pada hal jika kita melihat esensi dari minuman MIRAS ini dalam budaya yang di anut oleh orang NTT, minuman ini hanya di sajikan dalam acara adat saja 

tujuanya adalah selebrasi (celebration of something) bukan di gunakan sebagai minuman yang bertujuan untuk menghilangkan stress, apalagi di gunakan untuk menunjukan pengakuan (recognation) dari golonganya, seperti yang saat ini di anut oleh orang-orang timur pada umumnya. 

Yang lebih parah lagi adalah ketika minum minuman Keras ini dijadikan ajang untuk menunjukan kebolehan untuk mendapatkan pengakuan dari kelompoknya (biar di bilang hebat oleh kelompoknya) pada hal ini adalah pandangan yang keliru dan menyesatkan. 

Akibatnya minum minuman keras ini menjadi kewajiban dan harus di hadirkan dalam setiap ajang kumpul bareng kaum muda.

 Rasanya ada yang kurang kalau belum ada MIRAS di depan mata, parahnya lagi ketika miras yang mengendalikan akal sehat, maka persoalan baru pun muncul rasionalitas berpikir di begal oleh MIRAS kemudian MIRAS yang mengendalikan akal sehat, maka saudara di jadikan musuh teman bahkan pacar atau istri sekalipun di masukan dalam daftar orang-orang yang harus di perang, di lawan dan di benci. 

MIRAS menaikan level ketidaknormalan manusia maka sepenggal kata yang sedikit menyinggung perasaanpun akan menjadi api penyulut yang bisa membumihanguskan rasionalitas dan kewarasan manusia. Hasilnya percecokan, perkelahian bahkan aksi saling tikam yang berujung pada penghilangan nyawa manusia. 

Nyawa yang di anugerahi oleh Tuhan dan tak akan pernah tergantikan. Inilah fakta yang saat ini terjadi di kalangan orang timur, maka gelar kehormatan bagi orang NTT pun di tambah lagi yakni pertama orang NTT di sebut orang Timur dan orang timur itu pemabuk kelas kakap. 

Ini tentu saja bukanlah gelar yang di sandang setelah mengikuti perkuliahan panjang akan tetapi gelar yang di dapat dari tindakan yang memalukan dan tidak patut untuk di tiru. 

Sebagai seorang yang lahir di bumi flobamora saya merasa malu dengan gelar ini. Karena kemanapun saya melangkah selama itu berada di luar bumi flobamora gelar itulah yang senantiasa di sematkan kepada saya. 

Meskipun saya bukan termasuk orang yang seperti itu, namun hukum generalisasi berlaku dalam sistem sosial masyarakat Indonesia. 

Dan saya sangat malu di sebut sebagai pemabuk kelas kakap karena tindakan orang-orang yang salah kapra menafsirkan budaya demi kenikmatan pribadi semata lalu mengorbankan semua orang NTT. 

Karena nyawa manusia itu tak akan pernah terbeli, persaudaraan itu harga yang tak akan bisa di bayar oleh uang dan kita semua orang NTT yang menetap di luar bumi flobamora yang sedang merajut masa depan. 

Saatnya tinggalkan budaya minum MIRAS lakukan hal-hal yang positif, kembalikan budaya minum moke, tuak dan arak itu ke filosofi asalnya karena saya malu menjadi orang timur yang di cap sebagai pemabuk.

Penulis: Mahasiswa tingkat Akhir jurusan pendidikan Matematika di IKIP PGRI Bali asal NTT.

Penasehat FORKOMEL Bali, Sekjen KBMK IKIP PGRI Bali, Alumnus SMA N 1 Ruteng, senang menulis sejak SMA

No comments:

Post a Comment