Jadi Jurnalis di era maraknya informasi yang diproduksi oleh kecerdasan buatan (AI) memikul tanggung jawab yang krusial.
[Congkasae.com/Kereba] Jurnalis asal Manggarai Timur Flores, Antonius Rahu kembali mengikuti pelatihan Jurnalis yang didanai pemerintah Inggris melalui kedutaan Inggris di Jakarta dan Alunjiva Indonesia.
Pelatihan Jurnalis kali ini mengangkat tema peran Artificial Intelligence (AI) dalam dunia Jurnalisme 2026 (AI For Journalism 2026).
Pelatihan tersebut berfokus pada penguatan kapasitas jurnalis dalam bekerja di tengah perkembangan AI yang kian masif.
Pelatihan ini didanai oleh pemerintah Inggris melalui UK International Development dan British Embassy Jakarta yang bekerja sama dengan Alunjiva Indonesia.
"Ini pelatihan yang sangat bermanfaat bagi para jurnalis karena perkembangan AI yang kian masif tentu saja membawa perubahan dalam penyebaran informasi, kualitas informasi yang dikonsumsi masyarakat yang berpengaruh pada bagaimana seorang jurnalis bekerja,"kata Antonius Rahu usai mengikuti pelatihan tersebut Minggu 20 September 2026.
Ia mengatakan kecerdasan buatan telah banyak membawa perubahan pada arus informasi yang beredar hal tersebut terjadi lantaran AI berlomba-lomba menciptakan konten tanpa melakukan proses verifikasi kebenaran fakta tapi hanya berdasarkan masukan pengguna sehingga informasi yang dihasilkan cendrung bias, jauh dari fakta sebenarnya alias hoaks, misleading dan deepfake.
"Contoh dalam kasus gempa Flores 2026 yang kita alami, beredar kabar bahwa gunung anak Ranaka meletus disertai foto yang menunjukkan gunung itu mengeluarkan asap yang ternyata itu adalah editan AI dan hoaks,"katanya.
Ia mengatakan pemanfaatan kecerdasan buatan yang tidak terkontrol cenderung menciptakan bias informasi, misleading hingga deepfake.
"Ketika semua indikator ini dipenuhi dalam satu konten informasi dan disebarkan secara masif di platform media sosial maka cenderung menghasilkan narasi yang keliru dan cenderung menyesatkan publik,"katanya.
Ia mengatakan narasi keliru yang dikonsumsi publik secara terus menerus cenderung menghasilkan bias konten alias echo chamber yakni sebuah kondisi dimana platform menyarankan informasi serupa berdasarkan riwayat yang dibaca atau ditonton sebelumnya.
"Kalau kita pernah scroll tik tok tentang konten megathrust NTT misalnya maka kalau kita buka lagi tik tok maka konten megathurst pasti selalu muncul di beranda kita nah bayangkan jika konten megathurst yang kita tonton itu adalah hasil editan AI yang tidak berdasar dan menyesatkan,"katanya.
Ia mengatakan informasi keliru dan menyesatkan yang dikonsumsi secara terus menerus akan dianggap sebuah kebenaran.
"Hal ini disebut efek ilusi kebenaran alias illusion of truth effect dan cenderung berbahaya," katanya.
Di sisi lain sebagai jurnalis yang bekerja untuk kepentingan publik, Antonius Rahu mengatakan fenomena ini harus bisa diatasi oleh seorang jurnalis.
Ia mengatakan di era AI ini jurnalis memikul beban dan tanggung jawab yang sangat krusial karena menjadi pintu saringan informasi terakhir melalui mekanisme verifikasi dan fact check untuk mengatasi persoalan tersebut.
"Oleh karena itu seorang jurnalis harus memastikan informasi yang beredar bebas dari misleading, bias dan deepfake,"katanya.
Ia mengatakan seorang jurnalis juga harus bisa bekerja bergandengan tangan dengan teknologi AI demi memudahkan pekerjaan yang dilakukan.
"Misalnya kalau kita mau ubah rekaman wawancara kedalam format teks bisa dilakukan dengan AI yang dalam sekejap mata bisa menghasilkan teks wawancara, begitu juga dengan riset liputan dan editing sangat cepat dilakukan oleh AI,"imbuhnya.
Meskipun mesin AI canggih ia mengatakan AI tak dapat menggantikan peran jurnalis manusia.
"Karena AI tidak punya perasaan, tidak punya empati dan itu hanya dimiliki jurnalis,"katanya.
Pelatihan jurnalistik yang didanai oleh pemerintah Inggris dan difasilitasi oleh Alunjiva Indonesia itu diikuti oleh 486 orang jurnalis dari seluruh Indonesia.
Ketua Tim Regulasi Peta Jalan, Etika, Tata Kelola dan Pengawasan Kecerdasan Artifisial Kementerian Komunikasi dan Digital, Irma Handayani, mengatakan AI memberikan banyak manfaat bagi pekerjaan jurnalis, terutama dalam meningkatkan efisiensi.
Namun, menurutnya, perkembangan teknologi tersebut juga membawa sejumlah risiko yang harus diantisipasi.
“AI dalam jurnalistik tentunya sangat membantu pekerjaan teman-teman semua dan meningkatkan efisiensi. Namun, di satu sisi, pemanfaatannya juga membawa berbagai risiko seperti misinformasi, disinformasi, deepfake, bias algoritma atau persoalan-persoalan yang terkait dengan etika,” kata Irma.
Irma menjelaskan, perkembangan AI yang sangat cepat perlu diimbangi dengan tata kelola yang mampu mendorong inovasi sekaligus mengelola berbagai risiko.
Pemerintah, kata dia, saat ini sedang menyusun dua Rancangan Peraturan Presiden (Perpres) sebagai fondasi penting dalam pengembangan ekosistem AI di Indonesia.
Sebelumnya pada tahun 2023 silam Antonius Rahu juga menjadi peserta pelatihan jurnalis yang didanai oleh Meta induk perusahaan Facebook yang bekerja sama dengan media internasional Reuters.
Pelatihan jurnalis kala itu memfokuskan pelatihan jurnalis di kawasan Asia Pasifik dalam bekerja di dunia media sosial yang terus berkembang.
BACA JUGA
Pesta Sambut Baru di Manggarai Berujung Ricuh, Seorang Warga Dilaporkan Meninggal Dunia
Warga Flores terus dihantui Gempa Susulan





